IQRA

Misi Gagal Tim 6 SEAL (3)

Mengoyak mimpi Korkie

"Dia tidak bersalah dan guru terhormat. Saya bersama anak-anak saya sudah lelah menunggu dia, tolong bebaskan dia," kata Yolande Korkie.

15 Desember 2014 02:09

Sebelas bulan bukan waktu singkat bagi Yolande Korkie dan dua anaknya menahan perih dan pilu. Bukan pula tempo pendek buat merajut mimpi.

Selama penantian itu pula, Yolande bersama anak-anaknya tidur bareng kaus oblong milik Korkie. Mereka juga tidak pernah mau melahap makanan favorit sang suami.

Dunia seolah sudah kiamat bagi sang suami, Pierre Korkie, masih dalam sekapan AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab) di sebuah desa terpencil di Provinsi Syabwah, selatan Yaman. Hanya kebebasan membikin dia seolah hidup lagi.

Yolande pun pernah merasakan hal serupa saat ditawan bareng suami tujuh bulan lamanya. Pasangan ini diambil paksa tahun lalu di tempat mereka mengabdikan diri buat rakyat Yaman di Kota Taiz. Korkie menjadi guru bagi penduduk miskin dan Yolande membantu sukarela di rumah sakit.

Sebab itu, setelah Al-Qaidah membebaskan dirinya Januari tahun ini, Yolande berjuang keras untuk membebaskan suaminya. Dia membikin film dokumenter memelas dalam bahasa Arab dan Inggris agar penculik melepaskan Korkie. Dia benar-benar sakit keras dan bisa mati karena hernia.

"Pierre tidak berbahaya bagi siapa saja," kata Yolande. "Dia tidak bersalah dan guru terhormat. Saya bersama anak-anak saya sudah lelah menunggu dia, tolong bebaskan dia."

Yolande tidak berjuang sendirian. Dia dibantu oleh the Gift of the Givers Foundation, lembaga amal asal negaranya, Afrika Selatan. Pemerintah negara itu lepas tangan.

Al-Qaidah tadinya menuntut keluarga Yolande membayar uang tebusan US$ 3 juta. Mereka menolak karena memang tidak memiliki fulus sebanyak itu. Namun yayasan itu dengan bantuan para sesepuh suku Abyan berhasil meyakinkan Al-Qaidah: Korkie bukan orang Amerika.

Hingga akhirnya perundingan alot itu menghasilkan kesepakatan menyenangkan lima pekan lalu. Al-Qaidah bersedia melepas Korkie Sabtu dua pekan lalu, bertepatan dengan waktu eksekusi rekan satu sekapannya, Luke Somers, wartawan foto asal Amerika Serikat.

Hingga Jumat tengah malam, harapan Korkie bakal berkumpul bareng keluarga masih menganga meski kecemasan muncul lantaran Amerika Serikat melancarkan misi penyelamatan. Dr Imtiaz Sooliman memberitahu operasi militer itu bisa menyebabkan Korkie terbunuh. "Kami berbicara lewat telepon lewat tengah malam. Saya bilang kepada Yolande, 'Misi penyelamatan itu bisa mengakibatkan Pierre terbunuh," katanya. Yolande pun mencemaskan hal serupa.

Kekhawatiran mereka terbukti. Korkie dan Somers dibunuh saat pasukan elite Amerika Tim 6 SEAL menyerbu lokasi penyekapan mereka. "Serangan pasukan khusus Amerika di Yaman telah merusak segalanya," ujar Anas Hamati, direktur proyek Gift of the Givers Yaman.

Banyak orang boleh saja memuji kehebatan Tim 6 SEAL tiga tahun lalu membunuh pendiri jaringan Al-Qaidah Usamah Bin ladin di tempat persembunyian di Kota Abbottabad, Pakistan. Namun banyak pula meragukan kebenaran insiden itu lantaran hingga kini Gedung Putih masih merahasiakan foto jenazah Bin Ladin katanya telah dikubur di dasar Laut Arab.

Tapi bagi keluarga Yolande, Tim 6 SEAL boleh jadi pasukan paling bodoh sejagat. Karena kecerobohan mereka - dua kali gagal membebaskan Somers - Korkie menemui ajal. Mimpi Yolande sekeluarga pun ikut terkoyak.

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.





comments powered by Disqus