IQRA

Perempuan di Sarang ISIS (3)

Penyesalan seorang guru

"Saya bukan seperti ini. Saya sarjana pendidikan. Saya tidak seharusnya seperti ini," kata Khadijah.

29 Desember 2014 01:20

Jauh sebelum Suriah bergolak, Khadijah menjalani hidup normal. Dia bersekolah hingga akhirnya lulus kuliah dan mulai mengajar di sebuah sekolah dasar. Keluarganya memang tidak terlalu konservatif.

Ketika pemberontakan meletup di negara itu tiga setengah tahun lalu, Khadijah bergabung bersama demonstran berunjuk rasa damai menentang Presiden Basyar al-Assad. "Pasukan keamanan memburu kami dan kami harus menyamar," katanya dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi CNN. "Saat itu benar-benar hebat."

Ketika protes besar-besaran mulai berubah menjadi konflik bersenjata, dia mengaku mulai mengusik jiwa dan kemanusiaannya. "Semuanya di sekeliling kami menjadi kacau balau. Anda ingin menghapus kesedihan dan mencari jalan keluar," ujar Khadijah. "Masalahnya saya berlari ke arah sesuatu lebih buruk."

Dia termakan bujuk rayu anggota ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) asal Tunisia. Keduanya berkenalan lewat obrolan di Internet. Lama kelamaan Khadijah terpikat dan mau bergabung dengan kelompok militan itu.

Jihadis ini meyakinkan Khadijah ISIS tidak seperti anggapan buruk banyak orang. "Dia bilang, 'Kami akan menerapkan ajaran Islam secara tepat. Sekarang ini kami dalam keadaan perang di mana kami perlu menguasai negara. Jadi kami harus bersikap keras,'" tutur Khadijah.

Anggota ISIS ini kemudian bilang akan ke Kota Raqqah, ibu kota ISIS, sehingga keduanya bisa menikah. Khadijah lantas mengontak sepupunya, anggota Brigade Khansa'a, polisi syariah khusus perempuan. Suaminya anggota ISIS dan mereka tinggal di Raqqah. "Kamu bisa bergabung dengan kami di Brigade Khansa'a," kata Khadijah menirukan ucapan sepupunya.

Khadijah berhasil meyakinkan keluarganya untuk pindah ke Raqqah. Perempuan seperempat abad ini beralasan lebih mudah menyekolahkan adik-adiknya di sana. Apalagi kerabatnya di Raqqah mendukung niat Khadijah itu. Atas rekomendasi sepupunya, Khadijah diterima sebagai anggota Brigade Khansa'a.

Brigade Khansa'a beranggotakan 25 sampai 30 perempuan. Polisi syariah ini bertugas berkeliling Raqqah untuk memastikan kaum hawa di kota itu berpakaian sesuai aturan ISIS, yakni berabaya, berjilbab, dan bercadar.

Siapa saja melanggar ketentuan itu bakal dicambuk. Pelaksana hukuman cambuk adalah Ummu Hamzah.

Khadijah ketakutan saat pertama kali bertemu Ummu Hamzah. "Dia tidak seperti perempuan normal. Tubuhnya tinggi besar. Dia memiliki masing-masing satu AK-47, pistol, cemeti, pisau belati, dan dia mengenakan cadar," ujarnya.

Komandan Brigade Khansa'a Ummu Rayan merasakan kekhawatiran Khadijah. Dia lalu mendekat dan mengatakan sebuah kalimat tidak akan pernah dia lupa. "Kami keras terhadap orang kafir tapi pemaaf kepada sesama kami."

Khadijah lantas dilatih membersihkan, membongkar pasang, dan menembakkan senjata. Dia digaji US$ 200 saban bulan dan memperoleh makanan gratis.

Keluarganya sadar Khadijah telah tersesat, namun mereka tidak berdaya menolong. Ibunya berusaha memperingatkan dia. "Dia selalu bilang kepada saya, 'Bangun, perhatikan dirimu. Kamu sedang berjalan tapi tidak tahu mau kemana,'" tutur Khadijah.

Dia mulanya tidak peduli. Dia merasa senang menjadi anggota Brigade Khansa'a. Dia merasa berkuasa. Akhirnya dia mulai ketakutan atas situasi di sekelilingnya. Bahkan dia mulai cemas terhadapnya dirinya sendiri.

Khadijah mulai berpikir. "Saya bukan seperti ini. Saya sarjana pendidikan. Saya tidak seharusnya seperti ini. Apa yang telah terjadi dengan diri saya? Apa yang terjadi dengan pikiran saya sehingga membawa saya kemari?"

Keyakinannya terhadap ISIS mulai hancur. Citra kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini kian buruk di mata Khadijah setelah dia melihat di Internet pemuda 16 tahun disalib karena memperkosa. "Hal terburuk saya saksikan adalah kepala seorang pria putus di depan saya," kata Khadijah.

Bahkan dia melihat sendiri kebengisan ISIS terhadap perempuan. Anggota Brigade Khansa'a satu markas dengan seorang lelaki bertugas mencarikan istri bagi para jihadis lokal dan asing. "Para militan asing itu sangat brutal terhadap perempuan, bahkan terhadap istrinya sendiri," ujar Khadijah. "Ada banyak kasus istri-istri anggota ISIS dibawa ke ruang gawat darurat karena kekerasan seksual."

Khadijah mulai sadar dia tidak ingin meraih masa depan bersama ISIS. Ketika komandannya menyuruh dia kawin, dia memutuskan untuk kabur. Khadijah lari dari Raqqah dan menyeberang ke Turki beberapa hari sebelum pasukan koalisi mulai menggempur ISIS. Namun keluarganya masih tinggal di Suriah.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR