IQRA

Imigrasi Massal Yahudi Uni Soviet (1)

Membuka Pintu Besi lalu beremigrasi

Imigran-imigran Yahudi dari Uni Soviet dianggap tidak mau berbaur.

09 Maret 2015 07:06

Tahun ini menandai seperempat abad gelombang imigrasi massal membawa sejuta lebih orang-orang Yahudi dari negara-negara bekas pecahan Uni Soviet ke Israel. Pengaruhnya terhadap masyarakat Israel begitu dalam.

Di antara imigran-imigran membanjiri pantai-pantai Israel setelah Tirai Besi jatuh - satu dari lima orang Yahudi dipastikan dari Uni Soviet - telah menjadi dokter, ilmuwan, insinyur, guru, penari balet, maestro biola, pelatih atletik, penulis, penyair, penata rambut, ahli pijat, buruh pabrik, dan petani.

Sebagian besar dari aliyah Rusia - walau kebanyakan dari imigran ini tidak benar-benar berasal dari negara Rusia - ini adalah sebuah cerita keberhasilan mengagumkan.

"Dalam beberapa tahun saja, jumlah mereka menjadi seperlima dari penduduk Israel," kata mantan tokoh oposisi Uni Soviet Nathan Sharansky, kini dikenal sebagai tokoh hak asasi manusia internasional, ikut memperjuangkan imigrasi besar-besaran itu. "Tidak ada contoh lain dari suatu integrasi berhasil di dunia ini."

Namun Lily Galili, wartawan Israel sekaligus penulis buku The Million that Change the Middle East, membahas pengaruh dari gelombang imigrasi massal ini, menegaskan integrasi adalah istilah keliru.

Menurut dia, imigran-imigran Yahudi Uni Soviet itu tidak pernah sedetik pun berusaha berbaur. "Mereka mencari kekuasaan. Itu ada dalam sifat mereka, gen mereka, dalam pendidikan mereka," kata Galili.

Bahkan dia mengklaim para imigran Uni Soviet ini tidak pernah terpesona dengan budaya atau negara Israel. "Itu sebuah konsep imigrasi sangat berbeda, melewati tahap pembauran dan langsung menuju pada kekuasaan," ujarnya.

Barangkali memang mudah saja bagi imigran Soviet ini berhasil di Israel. Mereka telah memiliki modal untuk itu: kecerdasan, budaya, disiplin, dan semangat.

Mari kita tengok ke belakang, bagaimana perpindahan besar-besaran itu berlangsung.

Di awal 1990-an, saat ratusan ribu imigran Yahudi berbahasa Rusia tiba di Israel. Banyak dari mereka mendarat di tengah kecamuk Perang Teluk, disambut sekotak cangkir berisi topeng gas, rumah-rumah dan pekerjaan disediakan tidak mencukupi.

Rumah-rumah gandeng hasil modifikasi dalam semalam disiapkan pemerintah Israel di seantero negeri sebagai tempat penampungan sementara bagi imigran-imigran Soviet ini. Kurangnya kesempatan kerja memaksa banyak dokter, ilmuwan, musisi, dan artis tidak mempunyai pilihan selain bekerja seadanya, seperti menjadi petugas keamanan atau kasir supermarket.

Seperempat abad kemudian semua berubah. Saat ini orang-orang Yahudi berlisan Rusia berjubel di pelbagai sektor: ada yang jadi politisi, dokter, ahli teknologi mutakhir, ilmuwan komputer, pengajar matematika dan ilmu pengetahuan, serta atlet olimpiade.

Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Liberman berbahasa Rusia. Begitu pula ketua Knesset (parlemen Israel) Yuli Edelstein dan ketua koalisi Zeev Elkin. Salah satu penyanyi Israel paling tersohor, Marina Maximilian, kelahiran Ukraina, dan atlet senam Alex Shatilov, dua kali terpilih menjadi atlet terbaik Israel, dilahirkan di Uzbekistan.

Bahkan anak-anak Israel sepulang sekolah mengikuti kursus dan les senam, tari, musik, serta kegiatan lainnya dari guru-guru berbahasa Rusia. Mofet, program pelatihan bikinan imigran Rusia, juga tersohor di kalangan orang-orang kelahiran asli Israel. Gesher, perusahaan teater ternama juga dibangun oleh imigran Rusia, kini menjadi salah satu pengekspor budaya Israel terpandang.

Bahkan kalau berada di tengah antrean pembeli tiket the Israel Philharmonic atau gedung opera Israel, jarang kita tidak mendengar orang-orang berbahasa Rusia. "Mereka membawa ke Israel bukan hanya musisi tapi juga penontonnya," tutur Chaim Chesler, mantan direktur eksekutif the Israel Public Council for Soviet Jewry. Dia pernah memimpin rombongan Badan Yahudi ke Rusia saat tingginya gelombang imigrasi dari sana.

Mengingat mahalnya tiket pertunjukan opera, kehadiran orang-orang berlisan Rusia ini menunjukkan sudah sejauh mana kisah sukses mereka.

Imigran-imigran Yahudi berbahasa Rusia ini juga mempengaruhi masyarakat Israel dalam hal negatif. Alkoholisme menjadi masalah sosial mencemaskan di Israel sejak kehadiran mereka. Begitu pula kejahatan terorganisasi atau biasa disebut mafia Rusia, menemukan lahan subur di Israel buat mencuci uang. Skandal korupsi terbaru melibatkan para petinggi Partai Yisrael Beitenu, dihuni mayoritas politisi berbahasa Rusia, menjadi bukti.

Dan tidak seluruh dari mereka merasa disambut baik di Israel. Kisaran 300 ribu pendatang berbahasa Rusia tiba di Israel sejak 1990 tidak dianggap Yahudi menurut hukum agama. Mereka dibolehkan datang ke Israel berdasarkan Hukum Kembali. Beleid ini memberikan kewarganegaraan bukan hanya kepada orang Yahudi menurut hukum agama, tapi juga buat anak-anak dari ayah berdarah Yahudi, individu-individu setidaknya memiliki kakek atau nenek orang Yahudi.

Karena mereka tidak disebut Yahudi berdasar hukum agama, mereka tidak boleh menikah di Israel atau dikubur di pemakaman Yahudi. Alhasil, mereka merasa seperti orang terasing di tanah air baru mereka.

Avigdor Liberman bersama anggota Partai Yisrael Beitenu, November 2014. (olivier fitoussi/haaretz)

Menjadi lebih Israel

Masa hidup imigran Soviet di Israel lebih panjang sepuluh tahun ketimbang semasa hidup di negara asal mereka.

Gedung Teater Gesher di Israel. (commons.wikimedia.org)

Menjadikan Israel lebih sekuler dan berhaluan kanan

Toko-toko daging milik imigran Soviet menjual babi dan daging tidak halal lainnya. Jaringan supermarket mereka buka di hari Sabbath.

Natan Sharansky, tokoh gerakan pembebasan Yahudi Soviet, tiba di Israel pada Februari 1986 bersama istrinya, Avital. (alex levac)

Inspirasi dari Yahudi Soviet

Gerakan pembebasan Yahudi Soviet mendapat sokongan Barat karena merasa bersalah tidak maksimal membantu orang-orang Yahudi Eropa sebelum dan selama Holocaust.

Serangan 11 September 2001 menghantam menara kembar WTC di Kota New York, Amerika Serikat. (www.dailymail.co.uk)

Mossad dalangi Teror 11/9

Pelaku pengeboman pertama menara kembar WTC juga agen Mossad.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR