IQRA

Imigrasi Massal Yahudi Uni Soviet (2)

Inspirasi dari Yahudi Soviet

Gerakan pembebasan Yahudi Soviet mendapat sokongan Barat karena merasa bersalah tidak maksimal membantu orang-orang Yahudi Eropa sebelum dan selama Holocaust.

09 Maret 2015 09:20

Selama satu generasi diaspora Yahudi di era 1970-an dan 1980-an mengalami masa-masa tersulit setelah munculnya gerakan membebaskan Yahudi Soviet. Banyak dari tokoh-tokoh oposisi menentang rezim komunis harus mendekam bertahun-tahun dalam penjara. Generasi ini memiliki sejumlah pahlawan, seperti Natan (Anatoly) Sharansky, Josef Mendelevich, Ida Nudel, dan Yosef Begun. Sebagai pemberontak Yahudi, mereka juga berjuang buat hak mereka untuk meninggalkan Uni Soviet dan berimigrasi ke Israel.

Mereka dibantu kelompok-kelompok nirlaba beroperasi di Amerika Serikat, termasuk Konferensi Nasional bagi Yahudi Soviet, Perjuangan Pelajar untuk Yahudi Soviet, dan Dewan Persatuan Yahudi Soviet. Kelompok lain bertaraf internasional berkantor pusat di Ibu Kota London, Inggris, yakni Kampanye Perempuan bagi Yahudi Soviet, dikenal dengan sebutan The 35s.

"Bagi Yahudi Amerika khususnya dan beberapa Yahudi Inggris serta Kanada, gerakan itu didorong sebagian oleh rasa bersalah karena tidak melakukan upaya lebih maksimal buat membantu orang-orang Yahudi dari Eropa sebelum dan selama Holocaust," kata Zvi Gitelman, profesor ilmu Yudaisme di Universitas Michigan dan ahli soal Yahudi Soviet. Gerakan pembebasan Yahudi Soviet ini, menurut dia, mendapat daya dorong lain berupa gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat.

Gitelman menjelaskan memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan diaspora Yahudi. Ada yang bilang Israel bukan lagi kekuatan pemersatu seperti sebelumnya, apalagi setelah Perang Enam Hari 1967. Namun Yahudi Soviet persoalan lain. Gerakan pembebasan Yahudi Soviet mendapat sokongan dari orang-orang non-Yahudi lantaran ini masalah kemanusiaan, menyangkut isu kebebasan berimigrasi dan menyampaikan pendapat.

Di antara para pentolan awal kelompok Perjuangan Pelajar bagi Yahudi Soviet ialah Rabbi Avi Weiss, saat ini tokoh terpandang dalam aliran orthodoks modern dan kini menjadi pemimpin spiritual di the Hebrew Institute of Riverdale di Kota New York, Amerika Serikat. "Saya percaya orang-orang Yahudi di Uni Soviet telah menyalakan kembali perasaan identitas Yahudi, semangat Yahudi, dan komitmen Yahudi dalam diaspora," ujarnya.

Dia bilang Yahudi Soviet telah mengirim sebuah pesan amat kuat bagi orang-orang Yahudi di seluruh diaspora. "Jika berada dalam situasi seperti mereka hadapi mereka bisa mengenali diri mereka sebagai orang Yahudi, itu benar-benar sebuah inspirasi mengagumkan buat orang-orang Yahudi di dunia Barat untuk melakukan hal serupa," tuturnya. Rabbi Weiss bulan ini dijadwalkan meluncurkan buku berjudul Open Up the Iron Door: Memoirs of a Soviet Jewry Activist Rabbi. "Ini sebuah gerakan akar rumput luar biasa."

Meski orang-orang Yahudi di seluruh dunia berdemonstrasi untuk hal serupa, masih ada satu anggapan mengganjal di tengah mereka: Haruskah orang-orang Yahudi Soviet diberi kebebasan buat memutuskan ke mana mereka pergi setelah meninggalkan Uni Soviet atau dibatasi ke Israel saja? Banyak para pemimpin Israel kemudian menyukai pandangan itu.

Menurut catatan Gitelman, selama bertahun-tahun pemerintah Amerika Serikat menggolongkan emigran Yahudi Soviet sebagai pengungsi politik sehingga tidak perlu dibatasi. Mereka pun memfasilitasi orang-orang Yahudi Soviet ini untuk berimigrasi ke Amerika. Selama periode itu, sekitar 90 persen dari emigran Yahudi Soviet pindah ke Amerika Serikat.

Namun semua berubah pada Oktober 1989, ketika Jaksa Agung Amerika Serikat Edwin Meese mengumumkan sebuah perubahan kebijakan secara dramatis kemudian mengurangi jumlah orang-orang Yahudi Soviet berimigrasi ke Amerika. Ada kecurigaan perubahan kebijakan itu bagian dari kesepakatan antara Amerika dan Israel. "Proporsinya kemudian terbalik dan 90 persen emigran Yahudi Soviet pindah ke Israel," kata Gitelman.

Mendelevich ditangkap pada 1970 ketika bersama sekelompok penentang berusaha membajak satu pesawat Rusia menuju Israel. Dia kemudian mendekam sebelas tahun di penjara. Baru pada 1978, saat Sharansky juga bergabung di penjara sama, dia tahu gerakan pembebasan Yahudi Soviet mendapat sokongan internasional.

"Kami memiliki kesempatan berbicara dalam toilet, jadi saya tanyakan dia apa yang terjadi dan apakah kita mendapat dukungan, dia menceritakan semuanya," kenang Mendelevich, kini mengajar Talmud dan filsafat di Yerusalem. "Saya kaget sekaligus senang."

Avigdor Liberman bersama anggota Partai Yisrael Beitenu, November 2014. (olivier fitoussi/haaretz)

Menjadi lebih Israel

Masa hidup imigran Soviet di Israel lebih panjang sepuluh tahun ketimbang semasa hidup di negara asal mereka.

Gedung Teater Gesher di Israel. (commons.wikimedia.org)

Menjadikan Israel lebih sekuler dan berhaluan kanan

Toko-toko daging milik imigran Soviet menjual babi dan daging tidak halal lainnya. Jaringan supermarket mereka buka di hari Sabbath.

Imigran Yahudi dari Uni Soviet setiba di Israel. (pavel wohlberg)

Membuka Pintu Besi lalu beremigrasi

Imigran-imigran Yahudi dari Uni Soviet dianggap tidak mau berbaur.

Serangan 11 September 2001 menghantam menara kembar WTC di Kota New York, Amerika Serikat. (www.dailymail.co.uk)

Mossad dalangi Teror 11/9

Pelaku pengeboman pertama menara kembar WTC juga agen Mossad.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR