IQRA

Imigrasi Massal Yahudi Uni Soviet (3)

Menjadikan Israel lebih sekuler dan berhaluan kanan

Toko-toko daging milik imigran Soviet menjual babi dan daging tidak halal lainnya. Jaringan supermarket mereka buka di hari Sabbath.

09 Maret 2015 10:45

Sejuta lebih orang-orang Yahudi berbahasa Rusia telah berimigrasi ke Israel selama seperempat abad terakhir telah meninggalkan tanda terbesar dalam panggung politik negara Zionis. Dengan sebuah anomali pada 1992, ketika mereka membantu Partai Buruh ke puncak kekuasaan, imigran Yahudi Soviet ini sudah biasa memberikan suara mereka bagi partai-partai sayap kanan berhaluan ultra-nasionalis.

Profesor Larissa Remennick dari Departemen Sosiologi dan Antropologi Universitas Bar-Ilan, Ibu Kota Tel Aviv, Israel, menekankan mereka berasal dari negara adikuasa dengan wilayah amat luas. Jadi bagi kebanyakan orang Yahudi Soviet, menyerahkan wilayah buat berdamai adalah sebuah tindakan gila, terutama lantaran Israel negara kecil.

"Mereka menafsirkan pandangan sayap kanan sebagai patriotik sedangkan sayap kiri sebagai orang kalah," katanya. "Mereka tidak diragukan lagi berkontribusi terhadap pergeseran bertahap dalam kecenderungan politik ke arah kanan tengah."

Menurut wartawan sekaligus penulis buku Lily Galili, alasan imigran-imigran berlisan Rusia itu lebih menyukai partai sayap kanan cukup rumit. Dia mengatakan hal itu didorong oleh trauma semasa mereka masih hidup di bawah rezim Uni Soviet - diwarnai kecurigaan, ketidakpercayaan, ketakutan, dan kebimbangan - lantas ditambah oleh trauma lokal di Israel: dimusuhi negara-negara Arab menjadi tetangga.

Datang dari sebuah masyarakat bertahun-tahun dilarang menjalankan praktek agama, para imigran Soviet ini tiba di Israel dengan sedikit pengetahuan mengenai agama Yahudi. Jadi mereka mendorong Israel ke arah lebih kanan, mereka membuat masyarakat menjadi lebih sekuler.

Di antara sumbangan paling populer Yahudi Soviet ini dalam kehidupan di Israel adalah toko-toko daging menjual babi dan daging tidak halal lainnya serta jaringan supermarket mereka tetap buka di hari Sabbath.

Mereka juga merayakan Natal. Di awal kedatangannya, imigran Yahudi berbahasa Rusia ini menyembunyikan pohon-pohon Natal karena takut dengan reaksi bakal diterima. "Pohon-pohon Natal ini tidak hubungannya dengan Yesus atau Kristen. Mereka bagian dari budaya Rusia buat merayakan tahun baru," ujar Galili.

Pengaruh mereka terhadap budaya Israel, khususnya kebudayaan tingkat tinggi, begitu dalam. Bukan lantaran aliyah Soviet ini hanya membawa musisi, aktor, dan artis dalam jumlah besar, menurut Remennick, mereka juga membawa sebuah semangat dalam kegiatan seperti catur, senam, dan tarian dalam ruangan, telah begitu dikenal di kalangan orang kelahiran asli Israel. Dia bilang perusahaan teater Gesher barangkali contoh terbaik dari bagaimana budaya dapat menjembatani antara orang-orang Yahudi berbahasa Rusia dan yang asli Israel.

Lena Kreindlin, direktur pelaksana Gesher dan ikut membangun perusahaan ini, mencatat sekarang setengah aktor Gesher adalah kelahiran Israel. "Kami sangat bangga akan hal ini," tuturnya. "Karena itu mimpi Zionis bertahun-tahun lalu, orang-orang datang ke Israel membawa apa yang mereka miliki dan mencampurkan dengan yang sudah ada di sini untuk mendapat suatu hal baru."

Banyak imigran berbahasa Rusia merupakan insinyur dan ilmuwan yang keahlian mereka telah membantu Israel mencapai revolusi teknologi mutakhir. Sekitar 55 sampai 60 persen imigran ini tiba dengan gelar sarjana, angkanya jauh lebih tinggi dari penduduk Israel masa itu," kata Remennick. "Pada dasarnya itu hadiah gratis."

Meski begitu, dia mengakui di awal ketibaan mereka di Israel, sumber daya manusia berkualitas itu terbuang percuma karena masalah ekonomi Israel. Negara Zionis ini setidaknya belum mampu memberikan pekerjaan sesuai keahlian mereka.

Jumlah imigran Yahudi dari Uni Soviet sejak 1989 sampai sekarang

Rusia: 351.796 Ukraina: 332.874 Uzbekistan: 85.372 Belarusia: 76.183 Moldova: 51.418 Azerbaijan: 35.691 Georgia: 25.088 Kazakhstan: 20.707 Latvia: 10.739 Tajikistan: 10.616 Lithuania: 10.370 Kirgistan: 5.605 Turkmenistan: 3.034 Estonia: 1.522 Armenia: 1.251 Lainnya: 10.998

Total: 1,03 juta imigran Sumber: Kementerian Penyerapan Imigran Israel

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Mengintip persiapan Piala Dunia 2022

Patut disayangkan, Indonesia belum masuk dalam agenda promosi Piala Dunia 2022.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di sebuah toko kebab di Suq Waqif, Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR