IQRA

Petaka Zionisme (4)

Kebangkitan Zionisme religius

Kalangan muda Zionis religius melanjutkan pembangunan permukiman buat menguasai seluruh Tanah Dijanjikan dan ini baru permulaan.

16 Maret 2015 10:04

Zionisme religius, gerakan politik kini dipimpin oleh Naftali Bennett, terlahir sebagai catatan sejarah. Bertahan selama setengah abad di tengah dominasi kelompok Yahudi sekuler, dari kelompok terpinggirkan sekarang menjadi aliran utama dalam politik Israel.

Ketika dilahirkan pada akhir abad ke-19, Zionisme mendorong hati dan jiwa warga Yahudi di seantero Eropa. Zionisme menampilkan diri sebagai gerakan kuat dan sekuler, bukan layaknya agama kuno dan takut tersohor. Namun, sejumlah rabbi sependapat dengan ideologi diusung oleh Theodor Herzl ini.

Menurut Talmud, upaya bangsa Yahudi kembali ke Tanah Dijanjikan Tuhan sebelum masa keabadian dilarang. Gagasan mendirikan negara Israel sebagai upaya mempercepat datangnya Sang Penyelamat merupakan ide tidak tepat. Kebanyakan warga Yahudi religius meyakini Zionisme melanggar aturan agama. Bagi rabbi-rabbi pro-Zionis, berdirinya negara Israel bisa diterima dengan alasan agar bangsa Yahudi terhindar dari kejaran tentara Nazi Jerman.

Tapi bagi para rabbi ortodoks, pendapat semacam itu bertentangan dengan ajaran Yudaisme. "Kita tidak mesti mendengarkan seruan mereka (kaum Zionis) untuk mempercepat datangnya penebusan atas keinginan kita karena kita tidak diizinkan berdoa agar kiamat segera hadir," tulis Rabbi Shalom Dov Baer Schneersohn dari kelompok Lubavitch pada 1899, tiga tahun setelah gerakan Zionis berdiri.

Kelompok Zionis sekuler rupanya juga tidak ramah terhadap kubu Zionis saleh (kerap memakai yarmulke). Menurut Max Nordau, orang nomor dua dalam gerakan Zionis setelah Theodor Herzl, Zionisme tidak ada hubungannya dengan agama. "Jika semangat dalam hati bangsa Yahudi buat mendirikan negara di (bukit) Zion, bukan Torah atau Mishnah yang menginspirasi, tapi saat-saat sulit."

Kasihan benar nasib Zionisme religius. Kaum reiligus Yahudi menolak mereka dan kubu Zionis sekuler juga meragukan komitmen mereka. Alhasil, Zionisme religius tersingkir, terutama dalam kepemimpinan politik Israel. Sejak negara itu merdeka pada 1948, kelompok Zionis religius menjadi pelengkap kabinet koalisi dipimpin Zionis sekuler. Gerakan Zionis berhasil membentuk Israel sebagai Yahudi secara etnik dan bukan secara agama.

Namun, menurut rabbi berpengaruh, Abraham Isaac Kook, Zionis sekuler adalah instrumen sebenarnya dalam rencana rahasia Tuhan untuk mencapai penebusan. Komentarnya ini terbukti selepas Perang Enam Hari 1967, Israel menguasai Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Mereka menguasai lagi tempat suci dulu menjadi lokasi berdirinya Kuil Sulaiman.

Kebanyakan generasi 1967 dari kubu Zionisme religius lahir di luar negeri dan secara politik mereka moderat. Mereka ingin melakukan lebih baik ketimbang pendahulu mereka. Kemudian gerakan pemukim Yahudi lahir dan gerakan Zionis religius terbelah dua. Kelompok tua tetap mempertahankan prinsip memisahkan antara ajaran Torah dan etos bernegara.

Kelompok Zionis sekuler berpendapat tujuan mendirikan negara Israel sudah selesai. Namun kalangan muda Zionis religius melanjutkan pembangunan permukiman buat menguasai seluruh Tanah Dijanjikan dan ini baru permulaan. Meski sebagian besar rakyat Israel menentang dan politisi berbeda pendapat, kenyataannya gerakan permukiman terus mendapat sokongan.

Selain di sektor permukiman, Zionis religius juga merambah militer Israel. Sebagai contoh, pada 1990 hanya terdapat 2,5 persen tentara saleh dan hingga 2007 jumlah serdadu religius meningkat menjadi 31,4 persen. Para pegiat Zionis religius juga membangun surat kabar, sekolah film, stasiun radio, dan lembaga-lembaga publik lainnya. Tapi mereka tidak pernah menang dalam pemilihan umum. Pada pemilu 2009, suara kelompok Zionis religius terbagi antara Likud, Persatuan Nasional, dan Bayit Yehudi.

Dalam Pemilu 2013 berbeda setelah Naftali Bennett terjun ke politik. Dia membawa semangat baru buat meleburkan kelompok Yahudi ortodoks dan sekuler. Hasilnya terbukti. Perolehan suara Partai Bayit Yehudi dia pimpin melonjak dua kali lipat dibanding pemilu empat tahun lalu. Sebuah jajak pendapat menunjukkan 43 persen pemilih Bennett adalah Yahudi sekuler.

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Mengintip persiapan Piala Dunia 2022

Patut disayangkan, Indonesia belum masuk dalam agenda promosi Piala Dunia 2022.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di sebuah toko kebab di Suq Waqif, Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR