IQRA

Hidup Dalam Kuasa ISIS (1)

Mulanya kami senang mereka datang

"Kami perlu ISIS buat menyelamatkan kami dari pemerintah, tapi bukan berarti kami mendukung mereka sepenuhnya," kata Abbas.

23 Maret 2015 07:02

Abbas, 53 tahun, biasa dikenal dengan panggilan Abu Muhammad, ialah petani dari Fallujah, Irak. Dia mengenang hari menyenangkan saat ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) pertama kali datang ke kota berpenduduk mayoritas Sunni itu. "Awalnya kami begitu bergembira dan menyebut kehadiran mereka sebagai 'Penaklukan Islam'. "Sebagian besar penduduk menggelar pesta dan menyambut hangat para pentolan mereka," katanya kepada surat kabar the Independent.

ISIS bilang kepada warga Fallujah mereka tiba untuk membentuk negara Islam dan awalnya tidak begitu sukar. Mereka membikin Otoritas Dewan Syariah buat menyelesaikan persoalan masyarakat.

Abbas menjelaskan semua berjalan bagus hingga ISIS mencaplok Mosul, kota terbesar kedua di negeri Dua Sungai ini. Kemudian pembatasan-pembatasan terhadap warga mulai mengetat. Imam-imam masjid setempat mulai digantikan oleh orang-orang dari negara Arab lain atau Afghanistan.

Selama enam bulan pertama kekuasaan ISIS, milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini hanya menganjurkan kaum lelaki salat di masjid. "Tapi setelah merebut Mosul salat di masjid menjadi kewajiban. Siapa saja melanggar aturan ini dikenai hukuman 40 kali cambukan," ujar Abbas.

Komite sesepuh Fallujah memprotes aturan ISIS itu dan mendapat jawaban menarik: di masa Nabi Muhammad syariat Islam awalnya longgar dan minuman beralkohol dibolehkan di tiga tahun pertama kedatangan Islam. Hanya setelah Islam kuat, aturan mesti keras ditegakkan.

Abbas, pemimpin masyarakat Fallujah berpikiran konservatif dan memiliki dua putra serta tiga putri, mengatakan dia tidak ingin meninggalkan kota itu karena seluruh keluarga besarnya tinggal di sana meski kehidupan saban hari sulit dan kian keras.

Seperti bulan lalu, masyarakat Fallujah kekurangan air bersih dan listrik karena pasokan listrik cuma tiga sampai lima jam tiap dua hari. Harga gas meroket sampai 50 pound sterling atau sekitar Rp 975 ribu per tabung harus mulai menggunakan kayu untuk memasak. Komunikasi susah karena ISIS setengah tahun lalu meledakkan menara transmisi untuk telepon seluler, tapi beberapa orang berhasil memperoleh jaringan telepon satelit.

Meski begitu, hidup tidak terlalu sulit bagi Abbas kecuali dua masalah menyangkut anak-anaknya memaksa dia buru-buru meninggalkan Fallujah 2 Januari lalu. Alasan pertama undang-undang wajib militer memerintahkan tiap keluarga menyerahkan salah satu putranya untuk menjadi pejuang ISIS. Abbas tidak mau putranya, Muhammad, menjadi bagian dari ISIS.

Mulanya keluarga mampu bisa menghindari wajib militer dengan membayar denda besar. Namun permulaan tahun ini wajib militer di wilayah pemerintahan ISIS tidak bisa ditawar dengan alternatif lain.

Persoalan kedua berkaitan dengan anak-anak perempuannya. Dia menceritakan suatu hari seorang pejuang asing bertugas di pos pemeriksaan sebuah pasar mengikuti putrinya tengah berbelanja bareng ibunya hingga ke rumah. Dia lantas mengetuk pintu dan meminta bertemu kepala keluarga.

Abbas menyambut orang asing ini dan menanyakan, "Apa dapat saya bantu?" Anggota ISIS ini bilang ingin melamar putrinya. Abbas menolak pinangan itu karena tradisi sukunya tidak bisa mengawinkan anak perempuan dengan lelaki tidak dikenal.

Militan ISIS itu benar-benar kaget dengan penolakan Abbas dan kemudian berusaha melecehkan anak-anak perempuannya berkali-kali. "Saya kira lebih baik saya pergi (meninggalkan Fallujah)," tutur Abbas. Dia bersama keluarganya kini tinggal di wilayah Kurdistan, utara Irak.

Abbas menyesalkan ISIS tidak berkomitmen dengan kebijakan moderat dan populer mereka terapkan sebelum mencaplok Mosul. Apalagi setelah milisi Islam ekstremis itu mulai memberlakukan aturan-aturan tidak ada dalam syariat Islam. "Kami perlu ISIS buat menyelamatkan kami dari pemerintah, tapi bukan berarti kami mendukung mereka sepenuhnya."

Dia masih ingat bagaimana ISIS mengharamkan rokok dan syisya dengan alasan bisa melalaikan orang dari menunaikan salat tepat waktu. Juga melarang gaya rambut Barat dan mengenakan kaus oblong bertulisan Inggris atau bergambar perempuan. Kaum hawa juga tidak boleh keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya. "Ini semua mengejutkan kami dan membuat kami pergi dari Fallujah," katanya.

Pandangan lebih sinis disampaikan oleh Umar Abu Ali, 45 tahun, petani beraliran Sunni dari wilayah Al-Kharmah, sekitar 16 kilometer sebelah timur laut Fallujah. Dia memiliki dua putra dan tiga putri. Waktu ISIS menguasai kota ini tahun lalu, dua anak lelakinya begitu senang namun Abu Ali tidak terlalu yakin.

Kedatangan ISIS tidak menaikkan kehidupan mengenaskan penduduk Kharmah dan dia tidak terlalu serius menanggapi propaganda ISIS: bagaimana tentara Allah bakal mengalahkan setan-setan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki. Banyak orang di Kharmah meyakini hal itu tapi Abu Ali percaya Saddam Husain, Maliki, atau ISIS sama buruknya buat warga Kharmah. "Mereka menjadikan kota kami medan tempur dan kamilah pencundangnya," ujar Abu Ali.

Kharmah amat dekat dengan lokasi pertempuran antara pasukan pemerintah disokong milisi Syiah menghadapi ISIS. Alhasil, wilayah ini mengalami semiblokade, pasokan kebutuhan saban hari sulit masuk. Harga seliter bensin menjadi sekitar Rp 52.600 dan sekarung terigu lebih dari Rp 1,3 juta.

Abu Ali berusaha membeli sebanyak mungkin roti buat cadangan keluarga selama sepekan atau lebih. Sebab banyak pabrik roti kekurangan bahan baku terigu. Kharmah rutin menjadi sasaran gempuran udara dan bulan lalu fasilitas pemurnian air di sana terkena ledakan. "Kota ini sekarang dalam situasi menyedihkan lantaran kekurangan air bersih," tuturnya.

Dia pernah bekerja lima bulan dengan ISIS agar dua putranya berusia 14 dan 16 tahun terhindar dari wajib militer. Meski roket dan serangan artileri menghujani Kharmah, dia bilang pejuang ISIS jarang kena karena mereka tinggal dalam rumah-rumah penduduk sipil dan sekolah.

Abu Ali sejatinya sudah dua bulan berusaha kabur dari Kharmah namun tidak cukup fulus hingga akhirnya dia menjual semua perabotan rumah. Dia sekeluarga sekarang tinggal di luar Irbil, ibu kota wilayah Kurdistan. Kelima anaknya bekerja di pertanian setempat.

Dia bilang Amerika Serikat, pemerintah Irak, atau ISIS sama-sama bencana bagi mereka. "Mereka semua membunuh kami. Kami tidak memiliki teman."

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR