IQRA

Hidup Dalam Kuasa ISIS (2)

Saya akhirnya sadar ISIS sesat

"Awalnya saya pikir mereka berjihad di jalan Allah tapi saya akhirnya sadar mereka jauh dari prinsip-prinsip Islam."

23 Maret 2015 09:04

Hamzah, lelaki 33 tahun dari Fallujah, kota dikuasai ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan berjarak sekitar 64 kilometer sebelah barat Ibu Kota Baghdad, Irak, tahun lalu pernah menjadi anggota milisi itu karena tertarik dengan propaganda agamanya. Dua bulan lalu dia membelot setelah diminta membunuh orang dia kenal dan diundang untuk memperkosa tawanan gadis-gadis Yazidi.

Dia adalah lelaki cerdas, idealis, amat berpendidikan, dan saleh. Dia lari keluar dari ISIS setelah enam bulan menjalani pelatihan sebagai pejuang karena dia benar-benar marah dengan hukuman-hukuman mati diterapkan, beberapa di antara korban eksekusi dia kenal.

Dia kemudian sadar bila tetap bertahan sebagai anggota ISIS, dia pun bakal segera ditunjuk buat menjadi algojo. "Saya tidak suka Syiah tapi ketika harus membunuh mereka saya benar-benar kaget," kata Hamzah kepada surat kabar the Independent.

Dia pernah menolak mengeksekusi beberapa orang Sunni dituding bekerja dengan pemerintah Irak dikuasai mayoritas penganut Syiah. ISIS sering menyebut mereka sebagai pemerintahan kafir. Herannya, dia tidak dihukum atas penolakannnya. Komandannya cuma bilang dia nanti akan diminta menjadi algojo dalam eksekusi-eksekusi berikutnya. Untuk sementara jihadis asing menjadi pelaksana hukuman mati.

Dia mengakui menjadi pejuang ISIS memang enak. "Saya digaji 400 ribu dinar Irak (sekitar Rp 4,5 juta) sebulan berikut berbagai tunjangan, seperti makanan, bahan bakar, dan baru-baru ini akses ke jaringan Internet," ujarnya.

Bukan saja tidak suka bakal disuruh menjadi algojo, Hamzah juga tidak setuju saat ditawarkan untuk bercinta dengan perempuan Yazidi menjadi tawanan ISIS. Dia menyamakan undangan itu dengan pemerkosaan.

Ceritanya bermula pada pekan pertama Desember tahun lalu. ISIS membawa 13 gadis Yazidi ke Fallujah. "Komandan berusaha menggoda kami dengan mengatakan (gadis-gadis) ini halal buat kalian, hadiah dari Allah," tutur Hamzah. "Kami dibolehkan tiduri mereka bahkan tanpa harus menikah karena mereka kafir."

Di lain pihak, ada beberapa gadis muslim Tunisia datang dari Suriah. Mereka tidur seranjang bareng para komandan ISIS di bawah kawin kontrak selama sepekan. Habis itu mereka diceraikan dan kawin lagi dengan komandan ISIS lainnya. Menurut Hamzah, mereka datang ke Suriah melalui Turki.

Hamzah tidak mau nama asli atau lokasinya saat ini ditulis meski dia meyakini sementara ini dia aman. Dia meminta cara dia kabur dari ISIS Januari lalu dirahasiakan, tapi dia mau menceritakan bagaimana dia bergabung dalam pasukan ISIS dan apa saja telah dia lakoni.

Dia menjelaskan setelah mencaplok Fallujah tahun lalu, ISIS mulai mendekati para penduduk. Mereka mendatangi tiap rumah dan menanyakan apa saja dibutuhkan. Mereka memberikan pelbagai layanan, termasuk pendidikan. "Kami akan mencerdaskan anak-anak kalian, jadi jangan kirim mereka ke sekolah-sekolah pemerintah."

Mereka juga menggelar pengajian dan ceramah saban habis salat wajib. Kebanyakan membahas bagaimana meningkatkan kehidupan masyarakat dengan rujukan Al-Quran dan hadis sebagai penguat argumen mereka. "Ini semacam cuci otak tapi berlangsung pelan-pelan selama enam bulan," kata Hamzah.

Dia juga ikut menghadiri pengajian dan tiap pekan ISIS menggelar perlombaan mengenai berbagai masalah agama antar kelompok pemuda. Dia mengaku pernah dua kali juara dan hadiahnya 300 ribu dinar Irak (Rp 3,4 juta).

Juli tahun lalu keluarganya pindah ke Baghdad namun Hamzah memilih bertahan di Fallujah. "Setelah dua kali juara saya merasa telah menyukai sistem mereka," ujar Hamzah. Padahal ayahnya bilang untuk ikut pindah dari Fallujah dan jangan terlalu terpengaruh dengan ISIS karena telah mendapatkan hadiah.

Hamzah mengatakan ayahnya tidak terlalu menentang ISIS tapi dia sudah terlalu tua untuk menghadapi kehidupan kian sulit di Fallujah. Pekerjaan, air, listrik, dan makanan sulit diperoleh.

Dia meyakinkan orang tuanya bakal menyusul ke Baghdad dalam beberapa hari tapi dia memutuskan bergabung dengan ISIS. Motif utamanya agama dan idealisme. "Saya yakin negara Islam adalah sistem ideal untuk melayani dan bekerja buat Allah serta kehidupan akhirat abadi," tuturnya.

ISIS segera menerima dia setelah direkomendasikan oleh ustadnya. Dia kemudian mulai menjalani latihan fisik untuk memperkuat stamina pada Juli-Agustus 2014. Dia kemudian dikirim ke sebuah unit militer di luar Fallujah sebulan dan dioper lagi ke Raqqah (Suriah) selama 1,5 bulan. Di sanalah dia menjalani pelatihan militer intensif.

"Di Fallujah saya belajar menembak dengan Kalashnikov dan bagaimana cara melempar granat. Bersama sekelompok relawan di Raqqah saya mendapat pelatihan lanjutan mengenai cara menggunakan RPG dan beragam senapan mesin."

Menurut Hamzah, pelatihan militer diadakan di Raqqah bukan karena peralatan dan fasilitas tidak tersedia di Irak, tapi untuk merasakan atmosfer patriotisme dalam khilafah islamiyah. Juga buat memperoleh pengalaman dan revolusi baru.

Ketika dibawa ke Raqqah semua pejuang ISIS menjadi yakin perbatasan antara Irak dan Suriah palsu dan mereka merasa bersatu di bawah kekhalifahan Islam. "Saya merasa begitu santai dan gembira pergi ke sana sebab senang rasanya menghancurkan dan melewati batas kedua negara. Ini benar-benar pencapaian hebat," katanya.

Eksekusi memainkan peran penting dalam kehidupan di wilayah ISIS. Bukan sekadar alat untuk menakut-nakuti musuh tapi juga sebagai upacara pengenalan dan bukti keyakinan dari para jihadis baru. Sebelum menonton langsung, pejuang-pejuang baru ini dicekoki banyak rekaman video eksekusi.

Di Raqqah para peserta pelatihan diwajibkan menonton pelaksanaan hukuman mati digelar di depan umum. Di sana Hamzah menyaksikan tiga eksekusi, termasuk hukuman terhadap seorang lelaki Syiah dituduh bekerja untuk pemerintah Suriah. Dia ditembak mati dalam jarak dekat. Di Fallujah dia melihat eksekusi terhadap para tentara Syiah dari angkatan darat Irak. "Ini pertama kali saya menyaksikan sebuah pemancungan," ujarnya.

Ada sejumlah syarat buat menjadi algojo ISIS. Jihadis mesti telah melewati masa pelatihan enam bulan. Dia juga harus menunjukkan keahlian dalam ilmu agama dan taktik militer.

Meski membenci Syiah, jiwa Hamzah terguncang saat menyaksikan langsung mereka dibunuh. Akhirnya pada pekan keempat November 2014, salah satu komandan ISIS meminta dia dan beberapa rekan seangkatannya menjadi algojo dalam eksekusi orang-orang Sunni bekerja untuk pemerintah Suriah. Dia mengenali beberapa di antara mereka.

Hamzah menolak dengan alasan kalau yang bakal dieksekusi orang Syiah dia segera melaksanakan tugas itu. Sang komandan menerima jawabannya. Apalagi dia belum selesai menjalani masa pelatihan enam bulan.

Keyakinannya kepada ISIS kian goyang karena tidak lama setelah itu dia dan teman-temannya diundang untuk memperkosa 13 gadis Yazidi. Mulai saat itulah dia berpikir untuk lari. Dia sadar ini bakal sulit dan berbahaya.

Dia bilang seorang jihadis ISIS pernah mencoba kabur ditangkap dan akhirnya dibunuh dengan dakwaan berkhianat. "Persoalannya tidak ada orang bisa dipercaya bahkan teman dekat sekalipun," tuturnya.

Hamzah lalu meminta bantuan temannya di luar ISIS untuk merencanakan pelariannya. Keduanya berhubungan melalui layanan pesan singkat Viber. Hamzah memakai fasilitas Internet bagi para jihadis asal Fallujah. Mereka mendapat jatah menggunakan Internet tiga jam sekali pakai dan tiga hari dalam seminggu.

Telepon seluler beroperasi di sebagian kecil wilayah Fallujah dan hanya sedikit jihadis mampu dipercaya diizinkan memiliki. "Saya bilang kepada komandan saya perlu telepon seluler untuk berbicara kepada keluarga saya dan dia setuju," kata Hamzah. "Dia mengatakan saya akan mendapat lebih banyak fasilitas bila mampu membuktikan kesetiaan dan pengabdian saya."

telepon seluler pinjaman ini membantu upayanya untuk kabur dengan menghubungi teman-teman dan penyelundup dia bayar. Dia melaksanakan rencana itu suatu malam di awal Januari lalu, ketika dia kebagian tugas berjaga di pinggiran Fallujah. Perlu lima hari bagi dia untuk mencapai tempat aman.

Menurut Hamzah, ada lokasi-lokasi dirahasiakan bagi pejuang ISIS. Salah satunya adalah ruang operasional berisi banyak komputer dan para ahli dari luar negeri. Meski begitu, rekan-rekannya kadang boleh menggunakan Internet dekat ruangan itu dan mendapat kata sandi Wifi setelah menyuap teknisi.

Hamzah menegaskan dia keluar dari ISIS karena amat kecewa. "Awalnya saya pikir mereka berjihad di jalan Allah tapi saya akhirnya sadar mereka jauh dari prinsip-prinsip Islam."

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR