IQRA

Dunia Tanpa Israel (1)

Dari Argentina hingga Uganda

Andai saja semua rencana mendirikan negara Yahudi di luar Palestina terwujud.

30 Maret 2015 07:05

Menjadi bahan sengketa dan polemik sejak belum dilahirkan, Israel kini telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu negara maju. Usia negara Zionis itu lebih muda tiga tahun ketimbang Indonesia.

Takdir telah berkata lain. Kalau saja salah satu dari enam rencana mendirikan negara Israel terlaksana, nasib bangsa Palestina barangkali tidak seburuk sekarang. Sebab keenam proposal pembentukan Israel tidak menyasar wilayah Palestina, tapi melambung jauh, mulai Amerika hingga Afrika, dari Argentina sampai Uganda.

Sejak Theodor Herzl melansir sebuah pamflet berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada 1896 di Leipzig dan Wina, dia menyebut Argentina dan Palestina menjadi tempat potensial buat mendirikan negara bagi bangsa Yahudi. Bahkan menurut beberapa sumber, Herzl menilai Argentina lebih menjanjikan ketimbang Palestina.

Gagasan Herzl ini dipicu oleh kebijakan proimigran diterapkan Presiden Alejo Julio Argentino Roca Paz, berkuasa selama 17 Juli 1843 hingga 19 Oktober 1914. Alhasil, pada 1880-an sampai 1890-an, bangsawan Prancis berdarah Yahudi Maurice de Hirsch memimpin kampanye untuk memindahkan dua pertiga orang Yahudi dari Rusia. Pada 1891 Hirsch membentuk Asosiasi Kolonisasi Yahudi buat mengkoordinasi pembelian tanah di Argentina untuk menampung imigran Yahudi.

Lantas pada 1903 Herzl menemui Joseph Chamberlain, anggota kabinet Inggris, dan pejabat tinggi lain negara itu. Dalam pertemuan ini kedua pihak sepakat untuk membangun permukiman Yahudi di Afrika Timur. Pilihan dijatuhkan pada Uganda buat menampung orang-orang Yahudi tertindas di Rusia.

Dalam kongres Zionis keenam di Basel, Swiss, 26 Agustus 1903, Herzl mengajukan Program Uganda itu. Lewat pemungutan suara, 295 anggota kongres setuju mengirim tim ekspedisi ke Uganda, sedangkan 178 lainnya menentang.

Usulan Herzl ini memunculkan perdebatan sangat sengit hingga memecah gerakan Zionis. Akhirnya terbentuk Organisasi Teritorial Yahudi (JTO). Mereka berprinsip negara Yahudi bisa didirikan di mana saja meski di luar Palestina. Kongres ketujuh Zionis pada 1905 menolak usulan Herzl itu.

Uni Soviet juga pernah mempunyai rencana serupa lewat dekrit dikeluarkan Presidium Komite Eksekutif Umum pada 28 Maret 1928. Dekrit ini mengizinkan pendirian daerah otonomi khusus bagi kaum Yahudi pekerja di dekat Sungai Amur.

Jepang konon mempersiapkan pula wilayah khusus bagi imigran Yahudi. Gagasan ini dikenal dengan nama Rencana Fugu. Madagaskar dan Guyana juga pernah masuk dalam pilihan tempat buat mendirikan negara Yahudi.

Semua rencana itu tidak terwujud hingga akhirnya lewat Deklarasi Balfour pada November 1917, Inggris merestui imigran Yahudi bermukim di Palestina. Lambat laun mereka berkembang. Mulai dari satu kibbutz (komunitas pertanian) di Jaffa meluas sampai menjadi sebuah negara dideklarasikan sepihak oleh David Ben Gurion pada 14 Mei 1948.

Ahad at-Tamimi (tengah), remaja Palestina penampar wajah tentara Israel, dibebaskan dari penjara pada 29 Juli 2018. (Middle East Eye)

Penampar tentara Israel bebas dari penjara

Ahad at-Tamimi bersumpah akan melanjutkan perlawanan sampai penjajahan Israel berakhir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpose bareng anjing peliharaan keluarganya, Kaiya, di kediaman resminya di Yerusalem. (@netanyahu/Twitter)

Putin undang Abbas dan Netanyahu tonton laga final Piala Dunia

Konflik Palestina-Israel kian memburuk setelah Amerika Serikat bulan lalu memindahkan kedutaan besarnya dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, ke Yerusalem.

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman: Isu Palestina bukan prioritas utama bagi Arab Saudi

"Ada yang lebih mendesak dan sangat penting untuk ditangani, seperti isu Iran."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR