IQRA

Dunia Tanpa Israel (3)

Palestina negara khayalan

Status Yerusalem Timur selalu menjadi isu paling sensitif.

30 Maret 2015 09:07

Segigih apapun usaha masyarakat internasional, rasanya mustahil mendamaikan Palestina dan Israel. Apalagi mewujudkan negara Palestina merdeka dan berdaulat. Sebab dari sekian isu mengganjal proses perdamaian kedua pihak, status Yerusalem Timur merupakan masalah paling sensitif.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry tahun lalu pernah mencoba menghidupkan kembali perundingan Palestina-Israel. Lagi-lagi upaya kesekian kalinya sekutu istimewa negara Zionis itu mandek.

Kerry mengutak-atik isu paling sensitif dalam sejarah sengketa dua pihak. Dia mengusulkan Yerusalem dibagi dua: sebelah barat untuk Israel dan bagian timur menjadi ibu kota negara Palestina.

Tentu saja gagasan Kerry ini menyengat elite-elite politik Israel. "Israel tidak akan dibagi dua selama saya menjadi perdana menteri," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Channel 2.

Israel telah mencaplok Yerusalem setelah menang dalam Perang Enam Hari, Juni 1967. Knesset (parlemen Israel) kemudian secara sepihak pada September 1980 mengesahkan Hukum Dasar Yerusalem menyebut Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Israel bahkan terus memperluas permukiman Yahudi di Yerusalem Timur. Padahal, permukiman Yahudi di Tepi Barat, termasuk di calon ibu kota Palestina, itu melanggar hukum internasional.

Selain soal Yerusalem, ada dua isu besar lain kerap mengganjal pembicaraan damai antara Palestina dan Israel, yakni batas wilayah kedua negara sebelum Perang Enam Hari dan pemulangan pengungsi Palestina.

Palestina menuntut luas wilayah mereka seperti sebelum Perang Enam Hari 1967. Artinya Israel mesti merelakan seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem, dan Jalur Gaza menjadi wilayah kedaulatan Palestina.

Palestina juga meminta semua pengungsi dalam peristiwa Nakbah dibolehkan pulang. Jumlah 700 ribu orang Palestina terusir bersama keturunan mereka saat ini lebih dari lima juta. Bisa dibayangkan kalau mereka boleh balik semua. Israel tadinya didominasi orang Yahudi bakal menjadi minoritas. Persoalan kian rumit jika mereka menuntut harta dan tanah mereka dikembalikan.

Meski terdengar ogah-ogahan, Netanyahu mengajukan tiga syarat buat berdirinya negara Palestina merdeka dan berdaulat, yakni Palestina harus mengakui Israel sebagai negara Yahudi, Palestina mesti menghentikan serangan terhadap Israek, dan negara Palestina nantinya tidak boleh memiliki angkatan perang.

Ketiga syarat itu kian menipiskan harapan Palestina bisa terbentuk. Konflik makin kusut dengan ganjalan-ganjalan lain, termasuk pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat, blokade atas Gaza, dan perluasan permukiman Yahudi.

Alhasil, bisa dibilang mustahil negara Palestina bisa terwujud. Kalau sudah begini bukan mimpi Mahmud Ahmadinejad bakal menjadi kenyataan. Israel tidak akan terhapus dari peta dunia namun negara Palestina sekadar khayalan.

Kantor PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. (plodelegation.org)

Amerika tutup kantor PLO di Washington

Penutupan kantor PLO ini terjadi sehari setelah peringatan 25 tahun penandatanganan surat pengakuan antara PLO dan Israel.

Ahad at-Tamimi (tengah), remaja Palestina penampar wajah tentara Israel, dibebaskan dari penjara pada 29 Juli 2018. (Middle East Eye)

Penampar tentara Israel bebas dari penjara

Ahad at-Tamimi bersumpah akan melanjutkan perlawanan sampai penjajahan Israel berakhir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpose bareng anjing peliharaan keluarganya, Kaiya, di kediaman resminya di Yerusalem. (@netanyahu/Twitter)

Putin undang Abbas dan Netanyahu tonton laga final Piala Dunia

Konflik Palestina-Israel kian memburuk setelah Amerika Serikat bulan lalu memindahkan kedutaan besarnya dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, ke Yerusalem.

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR