IQRA

Kediktatoran Arab Saudi (2)

Beli rasa aman dengan uang

Ada empat atau lima anggota keluarga kerajaan senior Arab Saudi menolak perubahan.

06 April 2015 08:01

Ujian terberat pernah menghampiri mendiang Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz saat pemerintahannya baru berjalan enam tahun. Dia naik takhta pada 2005 sehabis saudara tirinya Fahad bin Abdul Aziz wafat.

Demonstrasi besar-besaran antipemerintah kerap disebut Musim Semi Arab membekap Timur Tengah. Banyak pihak tidak menyangka revolusi itu berhasil menggulingkan rezim Zainal Abidin bin Ali di Tunisia telah berusia lebih dari dua dasawarsa, Husni Mubarak di Mesir (32 tahun), dan Muammar al-Qaddafi di Libya (42 tahun).

Abdullah tentu saja cemas mimpi buruk itu bakal menjadi kenyataan. Rezim Bani Saud telah menguasai negara Dua Kota Suci ini sejak 1932. Gaya kepemimpinan mereka benar-benar tidak demokratis. Jangankan pemilihan umum, pemilihan dewan kota saja tidak pernah berlangsung di Saudi.

Meski Bani Saud menjadi salah satu keluarga kerajaan paling tajir sejagat, namun angka pengangguran di Saudi termasuk paling tinggi di dunia. Bertahun-tahun pekerja asing di negara itu menerima perlakuan tidak adil, seperti disiksa, dipaksa mengaku, dan menjalani peradilan tidak jujur kalau terlibat kejahatan.

Kerajaan pastinya sadar bahaya mengancam. Setelah revolusi mulai bertiup dari Tunisia, setidaknya terjadi satu peristiwa bakar diri di Saudi dan sejumlah protes. Namun jumlah demonstran dan pengaruhnya terbatas.

Buat meredam ketidakpuasan lama bersemayam, Abdullah pada pertengahan Maret 2011 meluncurkan paket reformasi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. Surat kabar the New York Times menulis Saudi memberi bonus dua bulan gaji bagi pegawai pemerintah. Mereka juga menggelontorkan US$ 70 miliar buat membangun setengah juta rumah bagi warga berpenghasilan rendah.

Atas jasa memelihara pelaksanaan 'syariat Islam', organisasi-organisasi keagamaan kecipratan US$ 200 juta. Mereka memang menolak ada perubahan dan menuding kaum intelektual liberal tidak peduli soal keamanan negara. "Mereka mau gadis-gadis menyetir, pergi ke pantai melihat perempuan berbikini," tutur ulama muda populer Muhammad al-Arifi dalam sebuah khotbah Jumat.

Menurut Pangeran Talal bin Abdul Aziz, saudara kandung Raja Abdullah, sebagian besar keluarga kerajaan ingin ada perubahan, namun terganjal empat atau lima anggota kerajaan senior. "Sayangnya, ada minoritas dalam keluarga kerajaan tidak ingin perubahan. Mereka minoritas tapi berpengaruh," katanya.

Di lain pihak, kelompok oposisi mulai frustasi karena bertahun-tahun berjuang tanpa hasil. Apalagi mereka dibenturkan dengan kelompok ulama. "Mereka merasa sudah berkorban. Mereka dipenjara berkali-kali tapi masyarakat tidak peduli," ujar pegiat hak asasi manusia Muhammad F. Qahtani.

Puteri Basmah binti Saud bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (Insider)

Rintihan dari dalam penjara

Melalui jaringannya di Amerika, Puteri Basmah telah meminta bantuan sebagian anggota Kongres namun hasilnya nihil.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Sasaran Bin Salman lantaran harta warisan

Sebagian dari aset-aset menjadi hak Puteri Basmah, termasuk rekening-rekening bank di Swiss, tanah, perhiasan, mobil, dan rumah telah dirampas oleh negara.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Tanpa izin Bin Salman tertahan di landasan

Dr Mounir Ziade selama ini merawat Puteri Basmah, melalui surat terbuka bertanggal 15 Desember 2018, menegaskan pasiennya itu harus menjalani perawatan rutin saban beberapa bulan.

Puteri Basmah binti Saud bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (Insider)

Diculik dari apartemen di Jeddah

Keluarganya pernah meminta foto, rekaman video, atau apa saja untuk meyakinkan Puteri Basmah dan Syuhud dalam keadaan baik tapi Puteri Basmah bilang itu dilarang.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Rintihan dari dalam penjara

Melalui jaringannya di Amerika, Puteri Basmah telah meminta bantuan sebagian anggota Kongres namun hasilnya nihil.

03 Juli 2020

TERSOHOR