IQRA

Selamatkan Al-Aqsa (2)

Diserang seratus kali setahun

Israel berencana membangun sebuah proyek disebut "Taman Talmud" berisi pusat-pusat hiburan dan mal di sekeliling Al-Aqsa.

20 April 2015 08:02

Beginilah nasib Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Rumah Tuhan ini kerap kekurangan jamaah lantaran tentara Israel menyortir kaum muslim boleh salat di sana.

Kondisi ini kian diperparah oleh serbuan dari kelompok Yahudi radikal. Hasil penelitian oleh Al-Aqsa Foundation for Endowment and Heritage menyebutkan selama 2011 kompleks Al-Aqsa diserang seratus kali.

Serangan itu beragam jenisnya. Mulai dalam bentuk fisik atau tindakan mengancam kesucian dan keamanan masjid pernah menjadi kiblat orang Islam sejagat ini, seperti dilansir International Solidarity Movement Februari 2012. Studi itu juga menemukan banyak pernyataan provokatif dan hasutan buat menghancurkan tempat paling suci ketiga bagi kaum muslim setelah Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Laporan dari Yayasan Al-Aqsa ini menyebutkan sepanjang 2011 sekitar lima ribu orang Israel, termasuk pemukim Yahudi dan anggota kelompok militan, pernah menyerbu masuk ke dalam masjid. Padahal mereka diharamkan ke sana. Mereka menggelar ritual terang-terangan atau secara sembunyi serta membawa lembaran Torah ke dalam Al-Aqsa.

Pejabat intelijen, pemerintah, dan tokoh politik Israel juga makin banyak datang ke masjid. Lebih dari 200 ribu pelancong non-muslim juga dibolehkan memasuki Masjid Al-Aqsa. Beberapa di antara mereka berpakaian tidak sopan.

"Selama 2011, militer Israel melarang 3,7 juta warga Palestina dari Jalur Gaza dan Tepi Barat buat memasuki Al-Aqsa," tulis laporan itu. Israel berencana membangun sebuah proyek disebut "Taman Talmud" berisi pusat-pusat hiburan dan mal di sekeliling Al-Aqsa. Belum lagi banyak permukiman Yahudi ilegal berdiri di sekitar sana.

Meski hingga kini tidak ada bukti arkeologi, sebagai warga Yahudi percaya di lokasi Masjid Al-Aqsa berdiri saat ini pernah ada Kuil Sulaiman. Kuil ini dua kali dirusak.

Kuil pertama dibangun pada 832 sebelum Masehi. Usianya hanya 410 tahun. Kuil Suci pertama ini dihancurkan ketika bangsa Babilonia menguasai Yerusalem. Kemudian dibangun Kuil Suci kedua dan diratakan lagi saat kerajaan Romawi berkuasa di sana pada tahun 70 Masehi. Kuil Suci kedua ini hanya bertahan 162 tahun.

Kini sejumlah kalangan Yahudi militan berambisi membangun Kuil Suci ketiga. Tentu saja untuk mewujudkan hal itu, mereka mesti menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

Salah satunya adalah the Temple Institute. Organisasi dipimpin Rabbi Chaim Richman mengkampanyekan pembangunan Kuil Suci ketiga."Tujuan kami adalah melaksanakan perintah: 'Mereka harus membuat sebuah kuil untuk Aku dan Aku akan tinggal di antara mereka,'" ujar Richman mengutip ayat Exodus.

Setelah kuil kedua dihancurkan pada tahun 70 Masehi, kebanyakan rabbi bersikap sesuai hukum Yahudi, yakni melarang pembangunan kuil sebelum kedatangan Sang Juru Selamat.

Namun the Temple Institute mengambil langkah berbeda. "Tidak ada ganjalan hukum bagi orang-orang Yahudi membangun kuil," tutur Richman. "Ganjalan yang ada bersifat politis."

Pemuda Palestina di Tepi Barat memanjat tembok pemisah untuk menuju Yerusalem. (Middle East Monitor)

Pemuda Palestina panjat tembok pemisah demi salat Jumat di Al-Aqsa

Israel sudah membangun tembok pemisah di Tepi Barat sejak 2002.

Iftar di Al-Aqsa

Ratusan warga Palestina berbuka puasa di Masjid Al-Aqsa Jumat lalu, dengan makanan donasi dari masyarakat Indonesia

Ratusan warga Palestina bersiap untuk berbuka puasa dengan makanan sumbangan dari masyarakat Indonesia disalurkan melalui KBRI Amman, 25 Mei 2018. (Albalad.co)

Warga Palestina di Yerusalem berbuka puasa di Al-Aqsa dengan makanan donasi dari Indonesia

Situasi ini berbeda ketika warga Palestina di Yerusalem menolak makanan berbuka puasa sumbangan dari Uni Emirat Arab.

Suasana berbuka puasa di Yerusalem, Palestina, 23 Mei 2018. (Albalad.co)

UEA beli tanah dan properti dekat Al-Aqsa untuk dijual lagi ke warga Israel

Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman menekankan Palestina bukan lagi agenda utama Arab Saudi, tapi isu Iran menjadi prioritas buat mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR