IQRA

Agen Mossad Bunuh Diri (3)

Berkhianat terhadap Israel

Apa yang Zygier tidak tahu, orang Hizbullah itu melaporkan pertemuan ini ke Beirut dan mulai menjalankan peran ganda.

27 April 2015 09:05

Subuh pada 16 Mei 2009. Pasukan khusus Libanon menyerbu rumah Ziad al-Homsi di sebelah barat Lembah Bekaa dan membekuk lelaki 61 tahun itu sedang terlelap di atas ranjang. Dalam surat perintah penangkapan, Homsi dituduh menjadi mata-mata Israel.

Penahanannya benar-benar mengejutkan bagi banyak warga Libanon. Dia bertahun-tahun menjadi wali kota. Dia diperlakukan sebagai pahlawan perang lantaran bertempur menghadapi pasukan Israel selama perang saudara di Libanon 1975-1990. Para penyokongnya sulit menerima hasil interogasi selama beberapa pekan: Homsi terbukti bekerja sebagai agen Mossad sejak 2006 dan mendapat bayaran US$ 100 ribu.

Nama sandi Homsi dalam Mossad adalah India. Hasil pemeriksaan menunjukkan perannya sangat penting. Dia berupaya memberikan jalan masuk bagi Mossad ke tempat persembunyian pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah. Dia berusaha meretas misi pembunuhan Mossad selanjutnya.

Surat dakwaan menceritakan kisah perekrutan Homsi. Berawal dari pria Cina bernama David mengenalkan diri kepada Homsi sebagai pegawai pemerintah di Ibu Kota Beijing dan ke Libanon mewakili sebuah perusahaan Cina ingin membangun hubungan bisnis.

Dalam sebuah pertemuan di Libanon, David mengundang Homsi mengunjungi pameran dagang di Beijing. Dia mengatakan surat undangan bakal dikirim langsung oleh pemerintah Cina. Pertemuan berlanjut di Ibu Kota Bangkok, Thailand. David berhasil memikat Homsi dengan memberikan gaji bulanan US$ 1.700. Kemudian David mulai banyak bertanya. Sebagai contoh, dia menanyakan apakah Homsi mengetahui soal tiga tentara Israel hilang pada perang 1982.

"Ini adalah saat di mana terdakwa (Homsi) sadar dia sedang berurusan dengan orang-orang Israel bekerja untuk Mossad dan tidak ada hubungannya dengan perusahaan ekspor impor kecuali mencari orang hilang (tiga serdadu negara Zionis)," demikian ditulis dalam surat dakwaan.

*****

Mossad memberikan Homsi sebuah komputer, media penyimpan data tercanggih, dan alat pengirim pesan berbentuk seperti sistem audio. Homsi mengirim laporan ke Tel Aviv saban lima hari. Menurut kepala intelijen Libanon Jenderal Asyraf Rifi, Homsi merupakan salah tangkapan terpenting pihaknya. Homsi lantas divonis 15 tahun penjara ditambah kerja paksa, namun akhirnya mendapat amnesti.

Selama musim semi 2009 Libanon berhasil membongkar jaringan mata-mata Israel di negara itu. Di antara yang ditangkap adalah Mustafa Ali Awadeh, agen Mossad bersandi Zuzi.

Bagi Israel, ini kekalahan terbesar di kawasan itu selama beberapa dekade. Para pejabat di markas Mossad bingung bagaimana Libanon bisa mengetahui informan-informan mereka.

Sebuah petunjuk diterima dari Libanon. Ada obrolan antara orang dalam Hizbullah dengan agen Mossad ketika itu sedang berada di Australia. Segera dapat ditebak, agen dimaksud adalah Benjamin Zygier.

Zygier, frustasi lantaran dikandangkan, sudah minta berhenti dengan alasan ingin melanjutkan kuliah magister bidang manajemen. Meski sudah keluar, Mossad tetap membayar gajinya. Pada Oktober 2008, Zygier mendaftar di Universitas Monash, Melbourne, kali ini memakai nama Ben Allen. Dia menjelaskan pernah bekerja di perusahaan konsultan di Jenewa, Swiss. Sebab itu dia biasa bepergian ke negara itu.

Suatu Ahad pada Oktober 2009. Karyawan majalah Der Spiegel bernama Jason Koutsoukis, bekerja sebagai koresponden Timur Tengah bagi surat kabar The Age dan Sydney Morning Herald, menerima sebuah surat elektronik dari seorang pegawai pemerintah Australia.

Isinya: "Penyelidikan intelijen berhasil menyingkap seorang mata-mata Israel kelahiran Australia kini tinggal lagi di Negeri Kanguru itu. Ada kecurigaan dia agen Mossad aktif beroperasi di negara ini."

Surat elektronik lain menyebutkan perusahaan tempat bekerja Zygier pada 2005. Badan intelijen Australia sebenarnya sudah mencium kegiatan terlarang Zygier itu.

Koutsoukis lantas menghubungi Zygier di awal Desember 2009 dan meminta konfirmasi seputar tudingan dia agen Mossad. "Itu benar-benar khayalan," ujar Zygier sebelum menutup telepon. Wawancara kedua berlangsung beberapa pekan kemudian, pertengahan Januari 2010.

*****

"Saya mempunyai informasi Anda pernah bekerja di sebuah perusahaan Eropa. Bisakah Anda jelaskan yang Anda lakukan di sana?" tanya Koutsoukis.

Saya tidak mengerti yang Anda bicarakan," jawab Zygier. "Anda pasti salah orang."

Sepuluh hari berselang, Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) menangkap Zygier setelah Mossad meminta dia kembali ke markas buat menjelaskan peringatan dari Beirut.

Cerita terungkap lewat penyelidikan internal sungguh mengejutkan Mossad. Rupanya Zygier merasa frustasi karena kemunduran karier dan merasa pangkatnya diturunkan berupaya mencari sumber-sumber baru. Sebuah usaha untuk memulihkan citra dan membuktikan betapa dirinya amat bernilai.

Dalam beberapa kali interogasi, Zygier mengakui sebelum kembali ke Australia dan tanpa persetujuan Mossad, dia bertemu orang Hizbullah di Eropa Timur. Zygier ingin merekrut dia sebagai informan.

Apa yang Zygier tidak tahu, orang Hizbullah itu melaporkan pertemuan ini ke Beirut dan mulai menjalankan peran ganda. Dia meyakinkan Zygier, dia memang ingin bekerja untuk dia, namun dia rutin melaporkan tiap langkah diambil ke dinas intelijen Hizbullah. Bahkan Nasrallah juga mendapat laporan soal itu.

Hubungan Zygier dan orang Hizbullah itu berlangsung berbulan-bulan. Pada sejumlah kesempatan tidak jelas siapa sebenarnya menjadi informan. Pejabat Libanon ini berhasil memikat Zygier dan dia meminta bukti kalau Zygier benar-benar agen Mossad.

Hasil penyelidikan Mossad menyimpulkan Zygier mulai memasok informasi mengenai jaringan Ziad al-Homsi dan Mustafa Ali Awadeh, dua informan top Mossad di Libanon, Keduanya pun akhirnya ditangkap.

Ketika Zygier dibekuk, Shin Beth menemukan satu cakram digital (CD) berisi informasi sangat rahasia dari departemen Tsomet. Untung saja CD itu belum berpindah tangan ke agen Hizbullah.

Kubur Ben Zygier di kompleks pemakaman Yahudi, Sprongvale, Melbourne, Australia. (deutsh press agency)

Tanda tanya kematian Zygier

Pengkhianatan Zygier menjadi pukulan telak buat Mossad karena menimbulkan keraguan soal integritas orang-orang mereka.

Benjamin Zygier, agen Mossad gantung diri dalam selnya di Penjara Ayalon, Tel Aviv, Israel, Desember 2010. (haaretz.com)

Bergabung dengan Mossad

Prestasinya dianggap sedang-sedang saja. Zygier lantas dimutasi dari agen lapangan ke kantor Mossad di Tel Aviv.

Benjamin Zygier, agen Mossad gantung diri dalam selnya di Penjara Ayalon, Tel Aviv, Israel, Desember 2010. (endthelie.com)

Mata-mata dalam Sel 15

Israel menetapkan kasus kematian Benjamin Zygier sebagai rahasia negara sehingga media dilarang mengungkap.

Poster mendiang Mahmud al-Mabhuh. Mossad membunuh pentolan Hamas ini pada 19 Januari 2010 di Hotel Al-Bustan Rotana, Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (themartyr.net)

Misi luruh Mabhuh

Misi Mossad membunuh Mahmud al-Mabhuh mudah terungkap lantaran ceroboh.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR