IQRA

Membongkar Rencana Induk ISIS (4)

Selalu berawal dari lembaga dakwah

ISIS menyasar wilayah berpenduduk lemah, terbelah, atau sedang berkonflik dengan menawarkan bantuan sebagai pelindung.

11 Mei 2015 21:06

Perluasan wilayah kekuasaan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) berlangsung tanpa menyolok. Setahun kemudian banyak orang Suriah mesti berpikir sebentar soal kapan kelompok jihadis ini muncul di tengah mereka. Kantor-kantor dakwah dibuka di banyak kota di utara Suriah pada musim semi 2013 kelihatan tidak bersalah, tak seperti lembaga amal diresmikan di seluruh dunia.

Ketika sebuah kantor dakwah dibuka di Raqqah, "Semua mereka katakan mereka adalah saudara dan mereka tidak pernah bilang satu kata pun soal negara Islam," kata seorang dokter kabur dari kota itu. Satu kantor dakwah lagi diresmikan di Manbij, kota liberal di Provinsi Aleppo, pada musim semi 2013.

"Saya bahkan awalnya tidak mengetahui hal itu," ujar seorang pegiat hak sipil. "Ketika perang meletup pada Januari, kami baru tahu itu Dais (kepanjangan dari Daulah Islamiyah, nama lain ISIS dalam bahasa Arab). "Mereka telah menyewa beberapa apartemen dapat dipakai untuk menyimpan senjata dan menyembunyikan orang-orang mereka."

Situasi serupa berlangsung pula di kota kecil Al-Bab, Atarib, dan Azaz. Lembaga-lembaga dakwah juga dibuka di Provinsi Idlib awal 2013, di kota kecil Sarmada, Atmih, Kfar Takharim, Al-Dana, dan Salqin. Setelah memiliki cukup murid bisa direkrut sebagai mata-mata, ISIS mulai menguatkan keberadaan mereka. Di Al-Dana mereka menyewa lebih banyak lagi apartemen, bendera hitam dikibarkan, dan jalan diblokir.

Di kota-kota terlalu banyak penentang atau mereka tidak bisa menggaet cukup pendukung, ISIS mundur untuk sementara. Modus operandi mereka di awal adalah memperluas pengaruh dengan menghindari konflik terbuka dan menculik atau membunuh orang-orang bermusuhan dengan ISIS.

Para jihadis ISIS mulanya tetap tampil tidak menyolok. Haji Bakar bahkan secara terbuka melarang jihadis asal Irak pergi ke Suriah. Mereka juga memilih untuk tidak merekrut sangat banyak orang Suriah. Mereka memutuskan mengumpulkan semua jihadis asing datang dari seluruh dunia sejak musim panas 2012 ke Suriah. Mulai mahasiswa dari Arab Saudi, pegawai kantor asal Tunisia, pejuang Eropa, semua digabung dengan militan asal Chechnya dan Uzbekistan telah berpengalaman dalam konflik militer. Mereka ini ditempatkan di Suriah di bawah komando orang Irak.

Sampai akhir 2012 kamp-kamp militer sudah dibangun di sejumlah lokasi. Mulanya tidak seorang pun mengetahui dari kelompok mana mereka berasal. Kamp-kamp pelatihan itu dikelola secara ketat. Peserta pelatihan dari pelbagai negara dan mereka tidak boleh berbicara dengan wartawan. Orang Iraknya amat sedikit.

Para jihadis baru ini menjalani pelatihan dua bulan dan diajarkan untuk taklid kepada rantai komando. Pola ini menghasilkan pasukan benar-benar setia. Meski satu kamp, jihadis dari satu negara tidak mengenal rekan mereka dari negara lain. Pasukan asing ini bisa ditempatkan di beragam palagan. Tidak seperti jihadis asal Suriah, sebagian besar memusatkan perhatian untuk membela kampung kelahiran dan memperhatikan keluarga mereka.

Di musim gugur 2013 saja terdapat 2.650 jihadis asing di Provinsi Aleppo. Sepertiga dari jumlah ini asal Tunisia, disusul Arab Saudi, Turki, Mesir, dan sisanya dari Chechnya, negara-negara Eropa, serta Indonesia. Tetap saja jumlah jihadis asing ini masih jauh lebih kecil ketimbang pemberontak asli Suriah. Meski pemberontak ini tidak percaya terhadap para jihadis, mereka tidak bergabung dalam pasukan anti-ISIS karena tidak mau membuka palagan kedua.

Dengan berpakaian dan bertopeng serba hitam, jihadis ISIS bukan saja membuat penampilan mereka menakutkan, tapi juga menyembunyikan berapa sebenarnya jumlah mereka. Kepemimpinan ISIS kerap diberitahu di mana wilayah penduduknya lemah, terbelah, atau berkonflik. Di sanalah ISIS masuk menawarkan perlindungan untuk mendapatkan pengaruh.

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR