IQRA

Ideologi Syahid ISIS (1)

Dipaksa menjadi pengebom bunuh diri

"Kursus itu mengajarkan perempuan untuk mengorbankan hal-hal dianggap murah - darah, kulit, dan nyawa - untuk sesuatu dinilai lebih berharga, yakni agama, Allah, nabi, dan paling penting kehidupan kekal setelah kiamat."

18 Mei 2015 23:01

Ketika ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mengeluarkan fatwa istri wajib menaati suami dalam semua hal, termasuk menjadi pengebom bunuh diri, Aisyah, ibu dua anak berumur 32 tahun, memutuskan lari dari rumahnya di Kota Mosul, Irak. Suaminya memang tidak pernah meminta langsung dia menjadi pengebom bunuh diri, tapi pelan-pelan dia mulai membicarakan soal itu.

"Dia biasanya pulang sekali sepekan, namun belakangan dia pulang hampir saban hari" katanya kepada surat kabar the Independent. "Dia akhirnya meminta saya mengikuti kursus soal bagaimana perempuan muslim bisa menyokong masyarakat muslim dengan jiwa dan raganya."

Aisyah, bukan nama sebenarnya, menghadiri kursus dua hari juga diikuti banyak perempuan lain. Dia amat kaget atas apa yang diajarkan. Dia bilang itu seperti acara mencuci otak. "Kursus itu mengajarkan perempuan untuk mengorbankan hal-hal dianggap murah - darah, kulit, dan nyawa - untuk sesuatu dinilai lebih berharga, yakni agama, Allah, nabi, dan paling penting kehidupan kekal setelah kiamat," ujarnya.

Bukannya kepincut dengan paham seperti itu, Aisyah memikirkan bagaimana menyelamatkan dua anaknya agar tidak terperangkap dalam situasi mengerikan itu. Di hari ketiga kursus, dia berpura-pura sakit. Dia mengaku putranya juga terkena flu sehingga dia mesti tinggal di rumah.

Pada Jumat, 3 April lalu itulah Aisyah membawa kedua anaknya kabur dari rumah. Dia beralasan kepada mereka akan pergi ke rumah bibi, masih di Distrik Rifai, kawasan tempat tinggal mereka. Padahal dia sudah mengatur rencana pelariannya itu dengan seorang sepupunya.

Dia tinggal di Zakho, wilayah Kurdistan di utara Irak. Dia telah membantu banyak orang meninggalkan Mosul, telah dikuasai ISIS sejak Juni tahun lalu. Dia bilang sepupunya itu mengenal banyak penyelundup di Mosul dan Kurdistan. "Saya membayar US$ 1.200 untuk lari bareng putra dan putri saya," ujar Aisyah.

Apa yang menimpa Aisyah menggambarkan betapa kaum hawa seperti hewan ternak tanpa hak atau kemerdekaan. Mereka tidak boleh meninggalkan rumah tanpa ditemani muhrim. Kalau ketahuan, mereka dipulangkan kembali dan suami mereka dicambuk 40-80 kali karena membiarkan sang istri pergi sendirian.

Semua perempuan di luar rumah mesti berabaya, berjilbab, dan bercadar serba hitam.

Sebelum ISIS mencaplok Mosul, Juni tahun lalu, kehidupan Aisyah sekeluarga bahagia. Suaminya adalah perwira angkatan darat Irak. Milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini mengampuni tentara, polisi, atau pegawai pemerintah bersedia bekerja buat mereka.

Suami Aisyah pun setuju menjadi tentara ISIS. Tapi perlu lima bulan bagi ISIS buat yakin memberikan jabatan komandan unit kepada dia. Aisyah tidak pernah tahu apa saja kerjaan suaminya. "Dia tidak pernah bercerita kepada saya. Saya juga tidak berani bertanya," tuturnya.

Dia pernah menemukan bercak darah di seragam suaminya dan mengira dia terlibat dalam pembunuhan. Gara-gara bekerja untuk ISIS, suaminya memperoleh banyak fulus dan kebagian properti disita ISIS dari orang-orang mereka anggap musuh.

Aisyah mengaku mencuri sebagian uang tabungan suaminya buat mengongkosi pelariannya. "Ketika meninggalkan rumah saya berbekal uang sekitar US$ 6 ribu ditambah sejunmlah perhiasan. Saya mengeluarkan banyak duit untuk pergi dari Mosul dan membayar lagi buat sampai di Turki."

Setelah diterima sebagai perwira militer ISIS, perangai suaminya mulai berubah. Dia menjadi lebih agresif. Aisyah ingat suaminya pernah bilang kalau dia menolak mengorbankan jiwa raganya dia tidak bakal masuk surga dan tempatnya di neraka.

Aisyah menjawab dia mematuhi suaminya sesuai syariat Islam tapi bukan untuk menjadi pengebom bunuh diri. Dia juga takut kalau suaminya mati dalam serangan bunuh diri, dia bakal dipaksa menikah dengan komandan ISIS lainnya.

Saat suaminya ditugaskan di medan tempur, Aisyah bersama dua anaknya kabur ke Irbil, ibu kota Kurdistan. Hingga kini dia tidak pernah menghubungi suaminya.

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR