IQRA

Ideologi Syahid ISIS (2)

Latih remaja lakoni serangan bunuh diri

ISIS menyasar anak-anak lelaki berumur 12-16 tahun.

18 Mei 2015 22:02

Menjadi syuhada buat mengalahkan musuh agama adalah inti dari ideologi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Serangan bunuh diri dilakoni para relawan tidak terlatih menjadi taktik militer efisien sekaligus senjata mematikan. Banyak keluarga di seantero wilayah kekuasaan ISIS ketakutan anak-anak mereka bakal dicuci otak buat mengorbankan diri.

Karena itulah, Nura, 36 tahun, meninggalkan Kota Mosul, Irak, bersama suami dan enam anaknya. ISIS telah membangun kamp-kamp untuk melatih remaja lelaki melaksanakan serangan bunuh diri. Nura, ingin nama aslinya tetap dirahasiakan, tiba di Irbil, ibu kota Kurdistan, 22 Maret lalu.

Alasan utamanya kabur dari Mosul lantaran ISIS menyasar anak-anak berusia 12-16 tahun buat dilatih menjadi pengebom bunuh diri. Dia menjelaskan para ulama ISIS memang tidak menyebut soal bom bunuh diri tapi mereka mengajarkan keutamaan mati syahid.

Mulanya keluarga-keluarga di Mosul bisa membayar denda agar anak lelaki mereka tidak ikut wajib militer, tapi kemudian pelatihan itu diharuskan.

Tidak seperti Aisyah, Nura mempunyai sedikit fulus lantaran suaminya menganggur. Ini faktor lain mendorong mereka kabur dari Mosul. Dia bilang banyak orang bekerja untuk ISIS demi mendapat cukup makanan. "Persoalannya adalah banyak pengangguran tertarik bekerja dengan ISIS bukan karena senang namun cuma itu pilihannya," kata Nura kepada surat kabar the Independent.

Dia mengungkapkan kehidupan di Mosul kian hari makin sulit. Tidak ada lagi pasokan listrik dari pemerintah Irak. "Kami juga tidak punya uang untuk membeli generator, jadi benar-benar menyedihkan," ujarnya.

Harga setabung gas buat memasak juga mahal, yakni 80 ribu dinar Irak atau setara Rp 894 ribu. Satu kilogram tomat dan kentang masing-masing 15 ribu dinar Irak (Rp 167 ribu). Air bersih juga langka.

Namun belakangan dia diberitahu orang tuanya - masih tinggal di Mosul - lewat telepon, situasi mulai membaik. Listrik menyala dua jam sehari. Harga gas buat memasak juga sudah turun setengahnya.

Ayahnya bilang para petani di Mosul tahun ini mesti menjual hasil penen mereka kepada ISIS lantaran cuma mereka pembelinya. Apalagi ISIS berjanji membeli dengan harga tinggi.

Aisyah juga mengungkapkan kisah serupa. Dia mengatakan di distrik tempat tinggalnya listrik menyala tiga jam saban dua hari, namun di kawasan lain gulita. Bahan makanan juga sulit diperoleh karena semua diimpor dari Suriah. "Jadi kami melihat banyak produk dari Aleppo dan Raqqah selain asal Irak," ujar Aisyah, sudah meninggalkan Mosul bareng dua anaknya April lalu.

Aisyah menambahkan ISIS meledakkan tiang-tiang telepon seluler, namun sinyal masih bisa didapat di bangunan-bangunan tinggi.

Aisyah yakin ISIS tidak dapat dikalahkan karena mereka memiliki solusi atas krisis keuangan tengah mereka alami. Mereka mengenakan pajak bagi penduduk Mosul dan orang-orang ingin meninggalkan kota itu dengan tarif amat besar.

Tapi Nura percaya ISIS bisa dikalahkan karena mereka sudah kehabisan fulus dan makin korup. "Faktor internal bakal menjadi pemicu, yakni suap, nepotisme, dan ketertarikan," kata Nura.

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR