IQRA

Ledakan Media Sosial di Saudi (2)

Bertemu calon suami lewat Twitter

Raqad yakin lelaki itu bakal menikahi dirinya.

01 Juni 2015 15:18

Ketika media-media sosial tersohor di pelbagai kelompok umur, anak-anak muda Arab Saudi berusia di bawah 30 tahun begitu menggangdrungi dan bahkan mengandalkan hal itu.

"Segala hal berhubungan dengan teknologi adalah jendela menuju dunia luar," kata Huda Abdurrahman al-Hilaisi, anggota perempuan Majelis Syura Arab Saudi, lembaga penasihat bagi Raja Salman bin Abdul Aziz. "Tidak ada sesuatu di luar sana tidak diketahui generasi muda kita."

Meski media sosial begitu populer, liberalisasi gaya Barat tidak begitu kentara. Kaum konservatif dan liberal sama-sama memakai media sosial untuk kepentingan mereka sendiri. Generasi muda Saudi juga tetap bangga dengan kebudayaan negaranya.

Bekerja dari rumah dengan sebuah telepon pintar dan rasa humor, mahasiswi 22 tahun bernama Amy Roko berhasil menggaet setengah juta pengikut di akun Instagramnya. Ini berkat klip video bikinannya: meniru diva Kolombia berdarah Libanon Shakira sedang berkarate dan bermain papan luncur. Bedanya, Roko tampil berabaya dan bercadar serba hitam.

Dia mempunyai impian mengenai perubahan di Saudi. "Kami perlu bioskop," ujarnya. Saudi satu-satunya negara di dunia mengharamkan bioskop.

Haya al-Fahad berhenti dari pekerjaannya di sebuah universitas. Alasannya, sepertiga dari gajinya habis cuma untuk membayar sopir pribadi mengantar dia pergi dan pulang kerja.

Perempuan 27 tahun ini kini bekerja sendiri di rumah, membuat gelang dan dijual lewat Instagram. Dia memiliki tiga akun Facebook, tiga akun Instagram, dan sebuah akun Twitter. "Ini identitas saya," ucapnya. "Saya tidak tahu bagaimana orang sepuluh tahun lalu bertahan hidup tanpa media sosial."

Dia cuma menggunakan nama aslinya di satu akun pribadi, selebihnya memakai nama samaran karena lebih bebas berbicara. "Ada banyak orang Saudi ingin berbicara tapi mereka tidak berani lantaran tidak ada perlindungan."

Raqad al-Abdali, gadis dari keluarga konservatif tinggal di pinggiran Ibu Kota Riyadh, berkenalan dengan calon suami lewat Twitter. Sehabis itu mereka saling bertukar pesan. "Dia selalu mengecek untuk memastikan apakah saya sudah tidak sedih lagi," kata Raqad. "Lantas kami saling berkomunikasi saban hari."

Keduanya kemudian bertukar nomor telepon dan mulai berhubungan lewat telepon. Hingga akhirnya Raqad nekat mengirim sebuah foto dirinya tanpa jilbab dan cadar dengan wajah dirias.

Lelaki itu bilang ingin menikahi dirinya. Calon ibu mertua sudah menelepon dia. Pasangan ini tengah merencanakan pertemuan keluarga sehingga mereka bisa berada di satu ruangan. "Saya tidak ragu dia bakal menikahi saya," ujar Raqad. Sebab abangnya dan sang istri bertemu di Facebook.

Perempuan Arab. (ilustrasi/english.alarabiya.net)

Lebih berwarna di dunia maya

Generasi muda di negara Kabah kian mengandalkan media sosial untuk berekspresi dan menghibur diri, mencari fulus, serta bertemu teman dan calon pasangan hidup.

Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh. (al-shorfa.com)

Wahabi cermin radikalisme

Mantan agen MI6 (badan intelijen Inggris) Alastair Cooke bilang Kerajaan Arab Saudi dibentuk dengan terorisme.

Raja Arab Saudi Abdul Aziz bin Saud dan Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt dalam sebuah pertemuan pada 1945. (myemail.constantcontact.com)

Benci mengakar terhadap Syiah

ISIS merupakan alat Saudi buat menumpas pengaruh Syiah tengah mengancam tuannya itu.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Poros Riyadh-Raqqah

"ISIS itu proyeknya Saudi," ujar pejabat senior Qatar.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR