IQRA

Al-Qaidah Rebah (2)

Tidak berdaya setelah Bin Ladin tiada

"Apakah itu namanya kepemimpinan jika pemimpin Anda di Afghanistan dan tentara Anda di Irak?"

29 Juni 2015 17:30

Satu dasawarsa setelah serangan 11 September 2001, Al-Qaidah kebanjiran fulus dan kian bergengsi. Jaringan mereka membentang luas, mulai Eropa hingga Afrika dan Asia Selatan. Tidak pernah ada sebelumnya kelompok-kelompok teror terpisah secara geografis menyatu dalam satu bendera.

Usamah Bin Ladin, pendiri Al-Qaidah, berhasil mewujudkan mimpinya itu lantaran masih mempertahankan fleksibilitas ideologi. Dia menolak membahas masalah-masalah perbedaan kecil dalam keyakinan beragama untuk menghindari perselisihan.

Dia tetap mempertahankan pakem Al-Qaidah sebagai Tanzim Qaidat al-Jihad atau Organisasi untuk Basis Jihad. Al-Qaidah menjalankan peran sebagai pusat bagi kaum militan membikin jaringan dan menerima sokongan dana serta organisasi. Komandan-komandan Al-Qaidah di tiap wilayah diberi kepercayaan untuk beroperasi secara bebas.

Sebagai balasannya kepemimpinan Al-Qaidah cuma meminta satu hal, yakni kesetiaan. Semua komandan Al-Qaidah di tiap wilayah atau cabang mesti orang berpengalaman. Hanya orang-orang dikenal pernah bertempur di Afghanistan, Bosnia, atau Chehcnya dan memiliki pengetahuan agama mumpuni bisa naik pangkat. Saat ditunjuk, para komandan senior Al-Qaidah ini harus menjalani sumpah darah kepada Bin Ladin.

Ketika Aiman az-Zawahiri mengambil alih kepemimpinan Al-Qaidah setelah kematian Bin Ladin pada 2011, dia menyadari secara geografis dirinya terisolasi. Saat dia bersembunyi, menurut sejumlah sumber, di pegunungan di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan, pusat kegiatan jihad telah berpindah ribuan kilometer ke Suriah dan Irak.

Karena pasukan Pakistan dan pesawat pengebom nirawak Amerika Serikat menyasar daerah itu, Zawahiri kesulitan menjalin komunikasi dengan para komandan di lapangan. "Apakah itu namanya kepemimpinan jika pemimpin Anda di Afghanistan dan tentara Anda di Irak?" tanya Dr Munif Samara, veteran jihad di Afghanistan serta teman dekat Abu Muhammad al-Maqdisi dan Abu Qatada.

Kenyataannya, cabang Al-Qaidah utama di Timur Tengah, ISI (Negara Islam Irak), sudah lama menjadi sumber masalah. Sejak dibentuk pada 2003 di bawah komando Abu Musab az-Zarqawi, ISI enak saja memakai label dan uang Al-Qaidah, namun tidak mau menjalin komunikasi lebih dekat dengan pimpinan pusat, termasuk dengan Bin Ladin.

Pada 2010 mereka menabrak batas aturan, yakni menetapkan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin baru ISI tanpa meminta persetujuan dari pimpinan Al-Qaidah. Apalagi para pentolan senior Al-Qaidah hampir tidak mengenal Baghdadi - dari mana dia berasal, pengalaman militernya, dan apakah dia bisa dipercaya.

Dari rumah persembunyian Bin Ladin di Kota Abbottabad, Pakistan, ditemukan surat ditulis Adam Gadahn, anggota Al-Qaidah asal Amerika Serikat, kepada Bin Ladin pada Januari 2011. Dia menanyakan kenapa ISI dibiarkan beroperasi atas nama Al-Qaidah tanpa mau berdekatan dengan pimpinan pusat. Dalam suratnya Gadahn bilang, "Mungkin lebih baik bagi mereka tidak berada di tataran mujahidin karena mereka seperti polusi mesti dihilangkan dan dibersihkan." Lima bulan setelah menerima surat ini, Bin Ladin tewas akibat serbuan pasukan khusus angkatan laut Amerika SEAL.

Sampai waktu itu, ISI hampir runtuh lantaran serbuan pasukan Amerika bareng Irak, tapi perang saudara di Suriah memberi kesempatan bagi mereka bangkit lagi. Ketika konflik bersenjata di Suriah kian memanas, Baghdadi menyusupkan perwiranya, Abu Muhammad al-Jailani, di akhir 2011 ke Suriah. Berbekal duit, persenjataan, dan beberapa prajurit terbaik ISI, kelompok Jailani kemudian dikenal dengan nama Jabhat an-Nusrah, menjadi pasukan terhebat di Suriah. Hingga 2013 Jailani begitu berkuasa dan Baghdadi cemas karena Zawahiri mengangkat dia sebagai pemimpin Al-Qaidah di Suriah.

Pada 8 April 2013 Baghdadi melancarkan serangan memicu perpecahan dalam gerakan jihad selama ini dipimpin Al-Qaidah. Dalam rekaman audionya Baghdadi mengumumkan Jabhat Nusrah dan ISI secara resmi bersatu membentuk kelompok baru diberi nama ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Dua hari kemudian Jailani membalas. Dalam rekaman audionya dia menolak menyatu dengan Baghdadi dan memilih berbaiat kepada Zawahiri. Dia meminta kepada pengganti Bin Ladin ini untuk menyelesaikan kisruh di antara mereka.

Dalam 24 jam Zawahiri menyampaikan pesan rahasia mendesak Baghdadi dan Jailani kalem. Dia meminta keduanya mengirim perwakilan menghadap kepada dirinya sebelum keputusan diambil. Namun Baghdadi menolak. Dia mengancam Zawahiri: dukungan kepada pengkhianat (Jailani) bakal menjadi pertumpahan darah.

Pada 23 Mei 2013 Zawahiri mengumumkan keputusannya: ISIS harus dibubarkan dan Baghdadi mesti membatasi operasinya di Irak saja. Sedangkan Jailani, bekas anak buah Baghdadi, diangkat menjadi pemimpin Al-Qaidah cabang Suriah. Kedua orang ini dikasih waktu setahun untuk membuktikan diri sebelum ada keputusan selanjutnya dari pimpinan pusat Al-Qaidah. Zawahiri lantas menunjuk Abu Khalid as-Suri untuk menangani sengketa ini selanjutnya.

Seorang mantan anggota ISI senior mengungkapkan kepada surat kabar the Guardian, Baghdadi begitu marah dengan surat keputusan Zawahiri. Dia amat kaget disetarakan dengan Jailani dan diperintahkan tidak terlibat dalam konflik di Suriah.

Menurut Maqdisi, Baghdadi menghina Suri, utusan Zawahiri, saat menghadap dirinya. "ISIS menolak perintah dan kemudian mulai menyerang Zawahiri. Baghdadi bilang, 'Al-Qaidah sudah lenyap, musnah terbakar.'"

Di musim panas 2013 ISIS menyerang basis-basis Jabhat Nusrah untuk mengambil alih wilayah di Suriah telah mereka kuasai.

Pendiri Al-Qaidah, Usamah Bin Ladin, bareng putranya, Hamzah Bin Ladin. (YouTube)

Mengintip hubungan Bin Ladin dengan Qatar

Qatar dituding mendanai kelompok-kelompok teroris.

Robert O'Neill, anggota pasukan elite asal Amerika Serikat SEAL, mengaku menembak mati pendiri jaringan Al-Qaidah Usamah Bin Ladin dalam penyerbuan di Kota Abbottabad, Pakistan, awal Mei 2011. (Instagram)

Prajurit SEAL klaim belah wajah Bin Ladin pakai satu peluru

Robert O'Neill adalah serdadu marinir Amerika menewaskan Usamah Bin Ladin.

Jangan abaikan Al-Qaidah

Suriah dan Irak akan tetap menjadi palagan terpenting. Walau ISIS masih kuat untuk beberapa tahun mendatang, Al-Qaidah bakal menjadi pemenang terbesar.

Hamzah Bin Ladin, putra dari mendiang pendiri Al-Qaidah Usamah Bin Ladin. (Al-Arabiya)

Putra Bin Ladin dilarang masuk ke Mesir

Hamzah Bin Ladin tiba di Kairo dalam penerbangan dari Doha.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR