IQRA

Arafat Wafat (1)

Misteri kematian Arafat

Rapat merencanakan pembunuhan Arafat dihadiri Abbas, Ariel Sharon, dan pejabat CIA.

13 Juli 2015 06:32

Sudah hampir sebelas tahun pemimpin menjadi ikon perjuangan rakyat Palestina, Yasir Arafat, wafat. Namun hingga kini kematiannya masih menyisakan misteri: apakah benar-benar karena sakit atau dibunuh.

Arafat meninggal pada 11 November 2004 dalam usia 75 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Militer Van de Grace di Ibu Kota Paris, Prancis. Para dokter menangani dirinya mengungkapkan ayah satu putri ini menderita AIDS, penyakit menggerogoti kekebalan tubuh akibat virus HIV.

Banyak orang curiga dia memang dibunuh lantaran informasi soal meninggalnya sangat dirahasiakan. Setidaknya keyakinan itu muncul dari Sekretaris Jenderal Komite Pusat Fatah Faruq Qaddumi. Bahkan dia menuduh Presiden Otoritas Palestina sekaligus Ketua Komite Pusat Fatah Mahmud Abbas dan Muhammad Dahlan terlibat dalam pembunuhan itu.

"Kepemimpinan Fatah seharusnya mengetahui pemimpin mereka, khususnya Dahlan dan Abu Mazin (Abbas) bertanggung jawab langsung atas pembunuhan Arafat," kata Qaddumi Ahad dalam jumpa pers di Ibu Kota Amman, Yordania, Juli 2009.

Tudingan ini muncul sebulan menjelang kongres keenam Fatah untuk memilih pemimpin baru mereka. Qaddumi menolak acara itu diselenggarakan di Ramallah, Tepi Barat, karena masih dalam penjajahan Israel. Alhasil, kata dia, negara Zionis itu dapat mempengaruhi siapa pemimpin Fatah selanjutnya.

Qaddumi mengaku Arafat pernah memberitahu dirinya soal pertemuan rahasia dihadiri mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, Presiden Abbas, Muhammad Dahlan (mantan orang kuat di Jalur Gaza), sejumlah pejabat dinas intelijen Amerika Serikat CIA, dan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika William Burns. Rapat berlangsung beberapa menit itu terjadi pada 2004.

Dalam kesempatan itu, Sharon menyarankan untuk melenyapkan para pemimpin dari Hamas, Jihad Islam, Barisan Rakyat bagi Pembebasan Palestina (PFLP), dan Brigade Syuhada Al-Aqsha merupakan sayap militer Fatah. Menurut Sharon, rencana itu bakal menciptakan kekacauan akan memuluskan jalan Abbas dan Dahlan untuk berkuasa.

Mereka yang menjadi sasaran termasuk Abdul Aziz Rantisi, Ismail Haniyah, Mahmud Zahar, Abdullah Syami, Muhammad al-Hindi, dan Nafiz Azzam. Israel membunuh Rantisi pada 17 April 2004, sedangkan maut menjemput Arafat pada 11 November tahun yang sama.

Sharon juga mengatakan Arafat harus dibunuh dengan cara diracun. "Dia (Abbas) dan Dahlan adalah lingkaran terakhir sebelum orang membawa racun itu sampai ke Arafat," ujar Qaddumi. Sharon memperingatkan jangan sampai lelaki dikenal dengan nama Abu Ammar itu meninggalkan wilayah pendudukan Israel hingga ada jaminan dia bakal dikenakan tahanan rumah di pengasingan.

Namun Abbas membantah dan menyebut tuduhan itu fitnah. "Dia (Qaddumi) sangat mengetahui informasi ini salah. Dia membuka itu untuk melecehkan kongres tapi kami akan meneruskan persiapan," katanya.

Kepada sebuah situs berita di Yordania, bekas dokter pribadi Arafat, Dr Asyraf al-Kurdi, mengungkapkan seseorang menyuntikkan virus HIV ke tubuh Arafat sebelum dia tewas. Menurut dia, upaya itu untuk mengaburkan racun sudah diinjeksi sebelumnya.

Lelaki mengabdi kepada Arafat selama 18 tahun ini menegaskan sakit dan kematian Arafat harus diselidiki karena mencurigakan. Dia sama sekali tidak ditelepon saat kondisi bosnya itu gawat. Bahkan istri Arafat, Suha, mencegah dia menjenguk Arafat tengah dirawat di Paris dan melayat jenazahnya. "Saya biasanya ditelepon untuk segera menemui Arafat meski dia hanya kedinginan biasa," kata Kurdi.

Menurut seorang sumber di Israel, Arafat wafat lantaran menderita leukemia.

Ahad at-Tamimi (tengah), remaja Palestina penampar wajah tentara Israel, dibebaskan dari penjara pada 29 Juli 2018. (Middle East Eye)

Penampar tentara Israel bebas dari penjara

Ahad at-Tamimi bersumpah akan melanjutkan perlawanan sampai penjajahan Israel berakhir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpose bareng anjing peliharaan keluarganya, Kaiya, di kediaman resminya di Yerusalem. (@netanyahu/Twitter)

Putin undang Abbas dan Netanyahu tonton laga final Piala Dunia

Konflik Palestina-Israel kian memburuk setelah Amerika Serikat bulan lalu memindahkan kedutaan besarnya dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, ke Yerusalem.

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman: Isu Palestina bukan prioritas utama bagi Arab Saudi

"Ada yang lebih mendesak dan sangat penting untuk ditangani, seperti isu Iran."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR