IQRA

Arafat Wafat (2)

Cokelat dan akhir hayat Arafat

Suha Arafat diancam untuk tutup mulut.

13 Juli 2015 07:34

Banyak pihak yakin ikon perjuangan rakyat Palestina Yasir Arafat meninggal karena diracun. Namun hingga kini, sebuah rumah sakit militer di Ibu Kota Paris, Prancis, tidak pernah membuka penyebab kematian mantan pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) itu. Di sanalah dia dirawat hingga mengembuskan napas terakhir pada 11 November 2004.

Keyakinan Arafat dibunuh lantaran diracun juga dilontarkan Imad Abu Zaki, 52 tahun. Dia bekas pengawal pribadi Arafat bekerja sejak 1988 hingga maut menjemput bosnya itu. "Memang aman mengira dia diracun, namun bukan melalui makanan," katanya dalam wawancara khusus lima tahun lalu dengan surat kabar berbahasa Arab Al-Hayat.

Dia mengaku dapat memastikan itu karena semua makanan dan minuman akan dinikmati Arafat harus dicoba dulu oleh para pengawal pribadinya. Dia mencontohkan hadiah sekotak cokelat dari seorang tamu. Sang tamu memberikan sepotong kepada Arafat, disapa anak buahnya dengan sebutan Rais (dalam bahasa Arab berarti pemimpin).

Abu Zaki lantas segera mengambil kotak itu. Bersama rekan-rekannya, dia mengunyah cokelat juga mampir ke mulut Arafat. "Kami makan bersama Rais. Kami akan makan makanan sama 45 menit sebelum dia makan," ujarnya kepada koran berkantor pusat di Ibu Kota London, Inggris, itu.

Kepada sebuah situs berita di Yordania, manatan dokter pribadi Arafat, Dr Asyraf al-Kurdi, mengaku seseorang menyuntikkan virus HIV ke tubuh Arafat sebelum dia tewas. Menurut dia, upaya itu untuk mengaburkan racun diinjeksi sebelumnya.

Sebuah komite penyelidikan dibentuk Otoritas Palestina juga tidak dapat menentukan apakah Arafat wafat diracun. Kematian Arafat dalam usia tiga seperempat abad itu bakal tetap misterius. Apalagi janda Suha Arafat mengaku diancam tidak akan menerima uang pensiun suaminya jika membongkar kasus itu.

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Mengintip persiapan Piala Dunia 2022

Patut disayangkan, Indonesia belum masuk dalam agenda promosi Piala Dunia 2022.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di sebuah toko kebab di Suq Waqif, Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR