IQRA

Arafat Wafat (3)

Jejak polonium di jasad Arafat

Tim medis menyimpulkan polonium telah mencemari darah, keringat, air liur, dan urine Arafat.

13 Juli 2015 08:35

Delapan tahun misteri itu tersimpan hingga akhirnya stasiun televisi Al-Jazeera pada 5 Juli 2012 melansir hasil penyelidikan mereka selama sembilan bulan. Kesimpulannya, mendiang Presiden Otoritas Palestina pertama sekaligus ikon perjuangan bangsa itu, Yasir Arafat, sangat mungkin tewas karena diracun dengan polonium.

Selama delapan tahun itu pula muncul selentingan menyebutkan dia meninggal karena kanker dan kerusakan hati. Ada pula yang menuding pendiri Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ini menemui ajal lantaran mengidap virus HIV. Tim medis di Rumah Sakit Militer Percy, Ibu Kota Paris, Prancis, merawat dia hingga meninggal pada 11 November 2004 tidak menemukan sisa racun di tubuhnya.

Liputan investigasi Al-Jazeera membuktikan semua rumor itu tidak benar. Dia sehat saat militer Israel mengepung dia di kantornya di Kota Ramallah, Tepi Barat. Hingga akhirnya kondisinya merosot drastis. Badan lelaki kelahiran 24 Agustus 1929 ini sangat kurus. Diaa menderita diare parah dan kerap muntah.

Uji laboratoirum terhadap barang-barang pribadi Arafat – pakaian, sikat gigi, hingga kafiyeh – menunjukkan terdapat jejak polonium dengan kadar melebihi batas aman. Kandungan zat radioaktif berbahaya dan jarang itu telah mencemari darah, keringat, ludah, dan air kencing Arafat. Tes itu dilakukan para ahli patologi tersohor di the Institut de Radiphysique di Kota Lausanne, Swiss.

Tim medis menemukan kandungan polonium itu sepuluh kali lipat dari batas aman. "Saya bisa menyimpulkan kepada Anda, kami menemukan kadar polonium-210 sangat tinggi di barang-barang pribadi Arafat dan telah meracuni bagian dalam tubuhnya," kata Dr. Francois Bochud, direktur lembaga itu.

Polonium merupakan zat radioaktif paling sering dipakai buat sumber tenaga pesawat ruang angkasa. Unsur ini pertama kali ditemukan oleh ahli kimia Prancis, Marie Curie. Putrinya, Irene, termasuk korban pertama meninggal setelah polonium mencemari laboratoriumnya. Beberapa tahun selepas kejadian itu, dia menderita leukemia. Setidaknya, dua ilmuwan nuklir Israel terbunuh setelah tercemar polonium.

Namun korban paling terkenal adalah mata-mata Rusia membelot ke Inggris, Alexander Litvinenko. Dia sakit parah pada 2006 setelah minum teh mengandung polonium di sebuah restoran sushi di Ibu Kota London, Inggris.

Para ahli di Lausanne dan sejumlah pakar lainnya tidak menemukan bukti berdasarkan hasil rekaman medis asli Arafat diperoleh sang janda, Suha Arafat. "Tidak ada kerusakan hati, kanker, leukemia," ujar Dr. Patrice Mangin, kepala the Institute of Legal Medicine di Universitas Lausanne. "Tidak ada tanda atau gejala terkena HIV."

Ahli HIV dari Tunisia, Dr. Taufik Syaaban, juga memastikan lelaki bernama lengkap Muhammad Yasir Abdurrahman Abdurrauf Arafat al-Qudwa al-Husaini itu tidak mengidap HIV. Dia salah satu dokter ikut memeriksa Arafat di Ramallah sebelum diterbangkan ke Paris.

Tim dokter di Lausanne berharap mereka bisa memeriksa contoh darah dan urine Arafat diambil saat dia dirawat di Percy. Suha telah meminta dua sampel itu, namun ditolak dengan alasan semua catatan medis mengenai Arafat sudah dihapus. "Biasanya dokter akan menyimpan catatan medis orang sangat penting seperti Arafat. Mungkin mereka ingin terhindar dari masalah," kata Suha.

Berdasarkan temuan mutakhir itu, janda satu putri ini sudah mengajukan agar jasad Arafat diotopsi. "Setidaknya saya telah melakukan sesuatu buatmenjelaskan kepada rakyat Palestina, generasi Arab dan muslim di seluruh dunia, kematiannya tidak alamiah. Itu kejahatan," Suha menegaskan.

Otopsi sudah dilakoni pada November 2012 dengan menggali kembali kuburan Arafat. Proses itu dilakukan secara terpisah antara tim dari Prancis dan gabungan Rusia-Swiss.

Setahun kemudian tim dari Prancis menyimpulkan Arafat wafat secara alamiah bukan karena diracun, namun pihak Swiss menyimpulkan sebaliknya: Arafat diracun oleh zat radioaktif jarang ditemukan.

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Mengintip persiapan Piala Dunia 2022

Patut disayangkan, Indonesia belum masuk dalam agenda promosi Piala Dunia 2022.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di sebuah toko kebab di Suq Waqif, Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR