IQRA

Nasib Tragis Nasrani di Timur Tengah (1)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.

27 Juli 2015 04:34

Ada hal dalam diri Diya tidak sukai abang-abang iparnya. Kata mereka, Diyaa itu diktator. Selama 14 tahun menikah dia tidak mengizinkan istrinya, Rana, 31 tahun, memiliki telepon seluler. Dia mengisolasi Rana dari teman dan kerabatnya. Diyaa pencemburu.

Meski Diyaa dan Rana sama-sama asal Qaraqosy atau dalam bahasa Arab disebut Bakhdida, kota Nasrani terbesar di Irak, keduanya tidak pernah bersua sebelum keluarga menjodohkan mereka. Segalanya tidak berjalan mulus. Menurut semua abangnya, Rana seperti anak-anak, sedangkan Diyaa murahan. Rumah dia sewa rusak dan tidak pantas Rana tinggal di sana.

Bakhdida berada di dataran Ninawih, sebuah tanah rebutan seluas 3.885 kilometer persegi, berlokasi antara wilayah Kurdishtan di bagian utara dan Arab di sebelah selatan. Hingga musim panas tahun lalu, kota berpenduduk 50 ribu orang ini begitu indah. Ladang gandum, peternakan ayam dan domba mengelilingi kota dilengkapi kedai-kedai kopi, bar, tempat cukur, tempat kebugaran, dan sarana kehidupan modern lainnya.

Sampai kemudian Juni 2014 milisi ISIS (negara Islam Irak dan Suriah) mencaplok Mosul, jaraknya tidak sampai 32 kilometer sebelah barat Bakhdida. Para jihadis brutal ini menulis huruf N dalam bahasa Arab dengan cat merah, merupakan penghinaan, terhadap rumah-rumah orang Nasrani. ISIS juga mengambil alih pasokan air.

Banyak penduduk Mosul lari ke Bakhdida membawa cerita mengerikan soal eksekusi dan pemancungan massal. Warga Bakhdida cemas wilayah mereka juga bakal menjadi sasaran.

Beberapa pekan sebelum menyerbu Bakhdida, ISIS memutus suplai air ke kota itu. Karena sumur-sumur kering, beberapa penduduk Bakhdida pergi, sebagian masih bingung mau ke mana. Ketika Juli muncul pelbagai laporan ISIS hendak mencaplok Bakhdida, ribuan orang mengungsi.

Kenyataannya kelompok brutal dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini tidak datang. Dalam hitungan hari penduduk lari pulang lagi. Diyaa menolak pergi. Dia yakin ISIS tidak akan mencaplok Bakhdida.

Sepekan kemudian pasukan Kurdi dikenal dengan sebutan Peshmerga, dikasih kewenangan oleh pemerintah Irak untuk menjaga Bakhdida, mundur. "Kami tidak mempunyai senjata buat menghentikan mereka (ISIS)," kata Jabbar Yawar, Sekretaris Jenderal Peshmerga.

Kota itu tanpa pertahanan. Pasukan Kurdi tidak mengizinkan penduduk dataran Ninawih mempersenjatai diri dan telah melucuti senjata mereka beberapa bulan sebelumnya. Puluhan ribu orang berjejalan dalam mobil-mobil beriringan di jalan sempit menuju Irbil, ibu kota wilayah Kurdistan, utara Irak, sekitar 80 kilometer dari Bakhdida.

Sepuluh anggota keluarga Rana berdesakan dalam sebuah Toyota bak terbuka. Semua abangnya Rana juga kabur. Dalam perjalanan mereka berulang kali menelepon Diya, memohon agar dia lari bareng Rana. "Dia tidak boleh pergi," kata Diyaa. "ISIS tidak akan datang. Kabar ini bohong."

Besok paginya, Diyaa dan Rana bangun dan menemukan Bakhdida hampir kosong. Hanya tersisa sekitar seratus orang, kebanyakan terlalu miskin, tua, atau sakit untuk mengungsi. Beberapa orang seperti Diyaa tidak menanggapi ancaman itu serius. Seorang lelaki tengah mabuk melintas di teras belakang rumah Diyaa dan bangun esok paginya saat ISIS hadir.

Diyaa dan Rana bersembunyi di lantai bawah tanah rumah mereka. ISIS mendobrak dan menjarah isi semua toko di Bakhdida. Selama dua pekan mereka menyisir rumah satu-satu dan memaksa keluar penghuninya. Para militan ISIS ini menyerbu Bakhdida dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan bak terbuka. Mereka menandai tembok-tembok gudang dan toko dengan tulisan, "Harta milik ISIS."

ISIS kini tidak hanya menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak, tapi juga Fallujah dan Ramadi. Selama Perang Irak, pertempuran di tiga kota ini menewaskan sepertiga dari total tentara Amerika Serikat tewas.

Seperti di Mosul, ISIS menawarkan kepada penduduk Bakhdida dua pilihan: masuk Islam atau membayar jizya atau pajak. Bila menolak, mereka dibunuh, diperkosa, atau diperbudak. Semua harta mereka diambil sebagai rampasan perang.

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Haji Bakar, perancang ISIS. (france24.com)

Kuat karena Baath

Sejak rezim Saddam terguling akibat invasi Amerika pada 2003, orang-orang ini kehilangan penghasilan dan kekuasaan. Sekarang ISIS menjadi kendaraan buat mereka memperoleh kembali status itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR