IQRA

Nasib Tragis Nasrani di Timur Tengah (2)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

27 Juli 2015 16:38

Tidak seorang pun datang mencari Diyaa dan Rana. ISIS tidak menyisir sampai ke dalam rumah bobrok mereka.

Hingga akhirnya pada 21 Agustus malam beredar kabar ISIS menawarkan dua pilihan bagi orang-orang masih bertahan di Bakhdida: kabur atau menderita. Namun mereka tidak boleh membawa apapun kalau mau meninggalkan Bakhdida, tapi paling tidak mereka selamat.

Seorang mulah lokal pergi dari satu rumah ke rumah lainnya menyampaikan berita gembira itu. Berharap untuk menyelamatkan Diyaa dan Rana, para tetangga memberitahu mullah ini di mana keduanya bersembunyi.

Diyaa dan Rana sudah bersiap pergi. Seluruh penduduk Bakhdida tersisa besok paginya diminta datang ke pusat medis untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum diusir dari kampung halaman mereka.

Semua orang tahu itu bukan pemeriksaan kesehatan, namun ISIS mengecek seluruh bagian tubuh untuk memastikan tidak ada barang berharga dibawa keluar dari Bakhdida. Sebelum membiarkan mereka pergi - bila memang diizinkan - ISIS bakal mencuri segala mereka punya.

Diyaa dan Rana menelepon keluarga mereka untuk memberitahu apa yang terjadi. "Jangan bawa apapun," ujar abang-abang iparnya kepada Diyaa, namun seperti biasa dia tidak mau menuruti.

Dia mengepak pakaian Rana, fulus, emas, paspor, dan kartu identitas mereka. Meski takut ketahuan - dia bisa saja dipenggal karena membawa lari barang-barang berharga - Rana tidak protes, dia tidak berani.

Pukul tujuh pagi esoknya, Diyaa dan Rana berjalan kaki lima menit ke pusat medis, bangunan bercat kuning dengan corak merah dan hijau, bersebelahan dengan satu-satunya masjid di Bakhdida.

Ketika berdiri dalam antrean, Diyaa kembali menghubungi keluarganya dan kerabat istrinya. "Kami sedang mengantre di pusat kesehatan sekarang," tuturnya. "Ada bus-bus dan mobil di sini. Alhamdulillah, mereka akan membiarkan kami pergi."

Hari itu benar-benar terik. Suhu udara mencapai 43 derajat Celcius. Dua jam kemudian ISIS telah memisahkan lelaki dan perempuan. Seraya duduk di tengah keramaian, Said Abbas, Emir ISIS di Bakhdida, memeriksa tawanan perempuan.

Pandangannya tertuju kepada Aida Hana Nuh, 43 tahun, tengah menggendong putrinya berusia tiga tahun bernama Christina. Selama dua pekan dia berlindung dalam rumahnya bersama anak perempuannya itu dan suaminya, Khadr Azzu Abada, 65 tahun. Dia buta sehingga terlalu sukar bagi dirinya untuk pergi mengungsi. Sebab itu, dia sudah lebih dulu mengirim putranya berusia 25 tahun bareng tiga adiknya, umur 10-13 tahun, ke tempat aman.

ISIS lantas memisahkan lelaki muda dan sehat dengan pria renta serta lemah. Salah satunya Talal Abdul Ghani. Dia sempat menelepon keluarganya sebelum anggota ISIS merampas telepon selulernya.

Dia dicambuk di depan banyak orang karena menolak masuk Islam. "Biarkan saya berbicara kepada semua orang," katanya mengiba. "Saya pikir mereka tidak akan membiarkan saya pergi." Itulah terakhir kali adik-adik perempuannya mendengar kabar dari Talal.

Tidak seorang pun yakin ke arah mana bus mengangkut mereka itu pergi. Jihadis menyuruh kaum renta dan loyo menaiki bus pertama dan kedua.

Perempuan 49 tahun bernama Sahar memprotes karena dia dipisahkan dari suaminya, Adil. Walau sudah berusia 61 tahun, dia masih sehat dan kuat. Seorang anggota ISIS meyakinkan dia seraya bilang, "Yang lain bakal menyusul."

Sahar, Aida bersama suaminya buta, Khadr, masuk ke dalam bus pertama. Sang sopir lantas menghampiri Aida dan langsung membawa Christina tanpa bicara apapun. "Tolong atas nama Tuhan, kembalikan dia," pinta Aida. Pengemudi lelaki itu membawa Christina ke pusat medis kemudian kembali dengan tangan kosong. Ketika para penumpang berdoa memohon keselamatan, Aida tetap mengemis agar putrinya itu dikembalikan.

Emir ISIS lalu muncul bareng dua anak buahnya. Dia memeluk Christina.

"Tolong balikin anak perempuan saya," kata Aida.

Sang emir lalu memberi isyarat kepada seorang anak buahnya.

"Naik ke atas bus sebelum kami membunuhmu," ujar seorang jihadis ISIS.

Christina berupaya menggapai ibunya.

"Masuk ke dalam bus sebelum kami membantai keluargamu," ujarnya mengulangi perintah.

Saat bus melintas menuju utara, Aida terduduk lesu di samping suaminya. Sebagian besar dari 40 penumpang terisak. "Kami menangis buat Christina dan diri kami sendiri," tutur Sahar.

Bus itu lalu belok kanan ke arah Sungai Khazir, batas wilayah dikuasai ISIS. Semua penumpang kemudian turun. Diarahkan seorang penggembala, 40 warga Bakhdida sakit dan renta ini berjalan kaki 12 jam menyusuri tepian Sungai Khazir.

Bus kedua - diisi lelaki muda dan sehat - juga ke arah utara. Namun bukan berbelok ke timur, tapi ke barat menuju Mosul. Di antara penumpang terdapat Diyaa. Dia tidak bareng Rana. Istrinya itu berada di mobil ketiga bersama Christina dan gadis 18 tahun bernama Rita. Dia datang ke Bakhdida untuk membantu ayahnya sudah renta kabur dari sana.

Tiga perempuan ini diangkut ke Mosul. Besoknya, orang menyekap Rana menghubungi abang-abangnya. Dia mengancam bakal meledakkan diri di rumah tempat dia menawan Rana.

Rana, salah satu perempuan ditawan ISIS dari Bakhdida, berhasil berbicara dengan keluarganya September tahun lalu. Dia menceritakan nasib menimpa Rita dan Christina, bocah perempuan berusia tiga tahun dipisahkan dari ibunya.

Dia menjelaskan Rita dijadikan budak seks oleh seorang anggota ISIS berpengaruh di Mosul. Christina diasuh sebuah keluarga muslim.

Sudah berbulan-bulan sampai sekarang tidak ada kabar dari Rana. "Ada yang bilang ketiganya masih hidup," kata Rabee Mano, 36 tahun, pengungsi dari Bakhdida kini tinggal di Ankawa, permukiman Kristen di Kota Irbil, utara Irak. "Dia sudah menikah dengan anggota ISIS berkuasa."

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.

Haji Bakar, perancang ISIS. (france24.com)

Kuat karena Baath

Sejak rezim Saddam terguling akibat invasi Amerika pada 2003, orang-orang ini kehilangan penghasilan dan kekuasaan. Sekarang ISIS menjadi kendaraan buat mereka memperoleh kembali status itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR