IQRA

Nasib Tragis Nasrani di Timur Tengah (3)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

27 Juli 2015 18:49

Kebanyakan kaum Nasrani di Irak menyebut diri mereka Assiria, Chaldea, dan Siriak, nama-nama berbeda untuk sebuah etnisitas serumpun berakar dari Kerajaan Mesopotamia berpusat di antara sungai Tigris dan Eufrat, ribuan tahun sebelum kelahiran Yesus.

Kristen datang di abad pertama, menurut Eusebius, ahli sejarah gereja mengklaim telah menerjemahkan surat-surat antara Yesus dan seorang raja Mesopotamia. Cerita turun temurun menyebut Thomas, satu dari 12 pengikut Yesus, telah mengirim Thaddeus, orang Yahudi berpindah menjadi penganut Nasrani, ke Mesopotamia untuk menyebarluaskan ajaran Yesus.

Ketika Kristen berkembang, ia hidup berdampingan dengan tradisi lebih tua - Yudaisme, Zoroasterisme, Druze, Yazidi, dan Mandea - berhasil bertahan di kawasan itu. Kristen kemudian terpecah dalam tiga aliran besar: Katolik (orang-orang berkiblat ke Vatikan), Ortodoks Timur dan Oriental (meyakini Yesus memiliki dua sifat, sebagai manusia dan Tuhan), serta Gereja Assiria dari Timur, bukan Katolik atau Ortodoks.

Waktu pasukan Islam tiba pertama kali dari Semenanjung Arab di abad ketujuh, Gereja Assiria dari Timur mengirim para misionaris ke Cina, India, dan Mongolia. Pergeseran dari Kristen ke Islam berlangsung bertahap. Meski Islam berkuasa, mereka boleh menjalankan ajaran mereka.

Seabad lalu, ketika Kekhalifahan Usmaniyah runtuh dan Perang Dunia Pertama meletup, terjadi pembantaian oleh kaum muda Turki terhadap orang Nasrani, bermotif nasionalisme bukan agama. Setidaknya dua juta orang Armenia, Assiria, dan Yunani tewas adalah pengikut Yesus.

Mereka yang selamat, sebagian besar terdidik lari ke Barat. Sebagian lagi menetap di Irak dan Suriah, dilindungi diktator militer karena menguasai perekonomian.

Dari 1910 sampai 2010, jumlah orang Kristen di Timur Tengah - di negara-negara seperti Mesir, Israel, Palestina, dan Yordania - terus melorot. Pernah berjumlah 14 persen dari total penduduk, tapi kini empat persen saja.

Di Iran dan Turki, mereka telah lenyap. Di Libanon, kaum Nasrani memiliki kekuatan politik penting. Dalam seabad terakhir, jumlah orang Kristen di Libanon anjlok menjadi 34 persen dari sebelumnya 78 persen dari jumlah penduduk.

Rendahnya angka kelahiran, konflik politik, dan krisis ekonomi bertanggung jawab atas penurunan ini. Ketakutan juga faktor pendorong. Tumbuh suburnya kelompok-kelompok ekstremis dan persepsi komunitas mereka menghilang, mamaksa para pemakai salib itu pergi dari Timur Tengah.

Selama lebih dari satu dasawarsa, kaum ekstremis menyasar orang Kristen dan kelompok minoritas lainnya. Setelah invasi pasukan Amerika Serikat ke Irak, ratusan ribu pemuja Yesus kabur.

"Sejak 2003 kami kehilangan banyak pendeta, uskup, dan lebih dari 60 gereja dibom," kata Basyar Warda, Uskup Agung Irbil dari aliran Katolik Chaldea. Sehabis rezim Saddam Husain tumbang, orang-orang Kristen mulai meninggalkan Irak dalam jumlah besar. Populasi mereka sekarang kurang dari setengah juta, tadinya 1,5 juta orang pada 2003.

Musim Semi Arab membikin situasi kian buruk buat kaum Nasrani. Karena para diktator, seperti Husni Mubarak di Mesir dan Muammar Qaddafi di Libya, jatuh, perlindungan buat kaum minoritas juga berakhir.

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) saat ini merajalela - telah menguasai setengah wilayah Suriah dan sepertiga Irak - berusaha menghabisi orang Nasrani dari muka bumi. Kalau pun dibiarkan hidup, mereka cuma menjadi warga kelas dua dalam wilayah kekuasaan ISIS.

Masa depan umat Yesus di tanah kelahirannya sendiri tidak pasti. "Berapa banyak lagi yang bisa kabur sebelum kami dan minoritas lainnya menjadi cerita dalam buku sejarah?" ujar Nuri Kino, wartawan sekaligus pendiri kelompok advokasi Demand for Action.

"Kristen sedang dalam ancaman nyata," ucap Anna Eshoo, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat dari Partai Demokrat, merujuk pada kemunculan ISIS.

Salah satu jalan buat kaum Nasrani kabur dari Timur Tengah adalah melalui Libanon. Musim semi tahun ini, ribuan orang Kristen dari desa-desa sepanjang Sungai Khabur di timur laut Suriah mengungsi di Libanon. Mereka menyelamatkan diri dari serangan ISIS.

Ini bukan kali pertama mereka terusir dari kampung halaman. Banyak dari mereka adalah keturunan dari para pengungsi di 1933 meninggalkan Irak setelah terjadi pembantaian atas kaum Kristen Assiria, menewaskan tiga ribu orang dalam satu hari.

Sejak pecah perang saudara di Suriah pada 2011, Presiden Basyar al-Assad telah mengizinkan kaum Nasrani meninggalkan negara itu. Hampir sepertiga dari jumlah umat Yesus di Suriah, sekitar 600 ribu, sudah keluar dari sana karena ancaman Jabhat Nusrah dan sekarang ISIS.

Namun Assad dipandang sama jahatnya dengan ISIS. "Assad adalah versi diet dari ISIS," kata Samy Gemayel, pemimpin Partai Kataib di Libanon.

Nasib Kristen di Timur Tengah bukan sekadar masalah agama, tapi juga bagian tidak terpisahkan dari identitas masyarakat akan berkembang di sebuah wilayah. Di Libanon, di mana orang-orang Kristen berperan penting dalam pemerintahan, mereka menjadi penyangga antara Sunni dan Syiah.

Awal tahun ini Libanon menutup semua perbatasannya bagi para pengungsi dari Suriah, kecuali buat orang Nasrani. Ketika kelompok ekstremis menyerbu desa-desa di sepanjang Sungai Khabur, Menteri Dalam Negeri Libanon Nouhad Machnouk memerintahkan pejabat di perbatasan membiarkan orang Kristen masuk. "Mereka jauh lebih menderita ketimbang yang lain di Suriah dan Irak," ujar Machnouk. "Mereka bukan Sunni atau Syiah, tapi mereka lebih tersiksa dibanding keduanya."

Gara-gara ketegangan Sunni dan Syiah, kaum Nasrani di Libanon juga terbelah. Gerakan Masa Depan pro-Arab Saudi, berisi sebagian besar partai beraliran Sunni, menyokong pemimpin Kristen Samir Geagea, tinggal di puncak Bukit Libanon.

Hizbullah berpaham Syiah dan didukung Iran sejak 2006 beraliansi dengan FPM (Gerakan Patriotik Bebas), partai politik diketuai Michel Aun. "Ini permainan politik," ujar Alain Aun, anggota parlemen Libanon untuk FPM dan keponakan dari Michel Aun.

Dia bilang komunitas Nasrani senang ada pihak-pihak memerangi ISIS. Hizbullah cukup membayar satu kali saja senilai US$ 500 hingga US$ 2 ribu kepada  anak-anak muda Krsiten di Lembah Bekaa untuk bertempur menghadapi ISIS.

Di dataran Ninawih, utara Irak, ada lima milisi Kristen Assiria berjuang mempertahankan atau merebut kembali kampung halaman mereka dari caplokan ISIS. Kelima milisi ini adalah Pasukan Dataran Ninawih (NPF) berkekuatan 500 orang, Dwekh Nawsha terdiri dari seratus pejuang, Unit Perlindungan Dataran Ninawih (NPU) berkekuatan lebih dari 300 orang, Dewan Militer Siriak bertempur bareng pasukan Kurdi, dan Brigade Babilonia, beroperasi di bawah kontrol milisi Syiah.

Namun kekuatan kelima milisi Nasrani tidak sebanding dengan ISIS, diperkirakan memiliki 30 ribu jihadis dari 80 negara. Karena itu wajar saja salib sudah terjerembab di tanah Arab.

Dengarkanlah pengakuan Pendeta Emanuel Yokhana, kepala Program Bantuan Kristen Utara Irak. "Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.

Peta Irak. (bbc.com)

Mimpi buruk di Bakhdida

ISIS menguasai Bakhdida, kota Kristen terbesar di Irak, tanpa perlawanan setelah pasukan Kurdi mundur dari sana.

Haji Bakar, perancang ISIS. (france24.com)

Kuat karena Baath

Sejak rezim Saddam terguling akibat invasi Amerika pada 2003, orang-orang ini kehilangan penghasilan dan kekuasaan. Sekarang ISIS menjadi kendaraan buat mereka memperoleh kembali status itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR