IQRA

Investor Arab di Liga Eropa (1)

Fulus Arab bola bule

Sejauh ini Syekh Mansyur sudah menggelontorkan lebih dari 1 miliar pound sterling buat menjadikan City klub paling disegani di seluruh dunia.

10 Agustus 2015 13:20

Ahad, 13 Mei 2012. Stadion Etihad berkapasitas 48 ribu penonton di Kota Manchester bergemuruh. Pendukung tuan rumah menangis haru dan berteriak gembira menyaksikan kejadian bersejarah itu.

Setelah 44 tahun tenggelam dalam bayangan klub sekota, Manchester United, Manchester City berhasil merebut gelar juara Liga Primer Inggris. Ini trofi keempat diraih klub dibikin 135 tahun lalu itu. Dua tahun kemudian mereka mengulang prestasi ini.

Semua bermula di akhir Agustus 2008. Di Hotel the Dorchester, salah satu tempat penginapan bintang lima paling bergengsi dan termahal sejagat, pemilik konglomerasi Abu Dhabi United Group (ADUG) Syekh Mansyur bin Zayid an-Nahyan dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, meneken kontrak pembelian City dari mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, membeli City setahun sebelumnya.

Nilainya konon 200 juta pound sterling atau kini setara Rp 4,2 triliun. Thaksin, hidup dalam pengasingan di London dan Dubai karena divonis melanggar hak asasi manusia dan terbelit korupsi, untung 90 juta pound sterling (Rp 1,9 triliun) dari transaksi itu.

Syekh Mansyur tidak main-main membesarkan City. Hanya dalam 24 jam setelah menguasai klub ini dan di menit-menit akhir menjelang bursa transfer ditutup, dia memecahkan rekor di Inggris setelah memboyong Robinho seharga 32,5 juta pound sterling.

"Kami benar-benar memiliki fulus amat banyak. Dengan membeli para pemain hebat, mereka bisa melihat kami membangun klub menjadi salah satu dari empat klub teratas di Liga Primer," kata seorang juru bicara ADUG saat pembelian City diumumkan.

Sejauh ini Syekh Mansyur sudah menggelontorkan lebih dari 1 miliar pound sterling buat menjadikan City klub paling disegani di seluruh dunia. Dalam empat tahun 22 pemain mahal dan tersohor berhasil digaet.

Para penggemar antusias dengan kehadiran ADUG. Klub kebanggaan mereka kini sejajar dengan Manchester United. Saking senangnya, baru setahun berpindah pemilik, suporter City sudah membentangkan spanduk bertulisan, "Manchester berterima kasih kepada Anda Syekh Mansyur." Mereka juga pernah menunjukkan uang bohongan pecahan 500 miliar pound sterling bergambar Syekh Mansyur.

Bos City Khaldun al-Mubarak menegaskan majikannya itu membeli City dari kantong pribadi, bukan atas sponsor perusahaan atau negara. "Syekh Mansyur penggemar berat sepak bola dan dia selalu mengikuti perkembangan," ujarnya. "Saya kira dia selalu ingin mempunyai sebuah klub Eropa bisa dia bangun menjadi salah satu tim terkuat di dunia."

Namun Khaldun tidak menampik selain buat kesenangan, Syekh Mansyur juga mengincar keuntungan bisnis dari membeli City. Apalagi kompetisi Liga Primer Inggris disiarkan di 122 negara.

Syekh Mansyur tidak salah beli barang. Hingga musim 2013-2014, menurut laporan majalah Forbes, City menjadi klub keenam di dunia dengan pendapatan terbanyak, rata-rata 414,4 juta euro setahun. City juga menjadi klub termahal kelima sejagat, bernilai US$ 1,38 miliar.

Penggemar pun tidak kecewa. Setelah fulus Syekh Mansyur tiba di City, Kota Manchester tidak akan selalu merah saban akhir musim. Dia bisa berganti biru langit, warna kostum City.

Kesetiaan mereka pun kian dalam seperti mars kerap mereka nyanyikan buat memompa semangat para pemain:

City sampai saya mati Saya City sampai saya mati Saya tahu, saya yakin Saya City sampai saya mati.

Guyuran fulus Arab telah membikin mereka bersumpah setia kepada klub kebanggaan hingga embusan nafas terakhir.

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Mengintip persiapan Piala Dunia 2022

Patut disayangkan, Indonesia belum masuk dalam agenda promosi Piala Dunia 2022.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di sebuah toko kebab di Suq Waqif, Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR