IQRA

Hubungan Gelap Arab-Israel (2)

Sejoli dari tanah suci

Paling ironis, Saudi mengizinkan perusahaan keamanan asal Israel mengamankan pelaksanaan haji saban tahun.

05 Januari 2015 06:54

Pelan tapi pasti borok itu tersingkap. Arab Saudi dan Israel ternyata diam-diam menjalin hubungan.

The Sunday Times pertama kali melansir informasi itu November 2013. Surat kabar ini menulis Riyadh dan Tel Aviv tengah menyiapkan rencana menyerbu Iran. Saudi sepakat mengizinkan wilayah udara mereka dilintasi jet-jet tempur Israel. Mereka juga siap membantu operasi penyelamatan dengan menyediakan helikopter, pesawat tempur, dan pesawat pengebom nirawak.

Kantor berita semiresmi Iran Fars menguatkan kecurigaan itu. Mereka menyebut kepala dinas intelijen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan bertemu direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Tamir Pardo dan sejumlah pejabat intelijen Israel lainnya.

Perjumpaan ini berlangsung di tengah perundingan soal program nuklir Iran sedang berjalan di Kota Jenewa, Swiss. Kedua pihak membahas soal bagaimana mencegah Iran menguasai teknologi pembuatan senjata pemusnah massal, mengontrol kelompok jihadis di Suriah, mengenyahkan Al-Ikhwan al-Muslimun, dan menghentikan gelombang Revolusi Arab.

Perundingan soal nuklir Iran itu berakhir dengan kesepakatan Teheran bersedia menghentikan proyek pengayaan uranium. Sebagai balasan, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, China, dan Jerman harus mencabut sanksi. Mereka juga setuju memberi bantuan US$ 7 miliar bagi Iran buat meringankan beban akibat sanksi selama ini.

Hasilnya bisa ditebak. Saudi dan Israel menolak kesepakatan itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut itu sebagai kesalahan sejarah. “Saudi dan Israel ketakutan dengan kebijakan Amerika terhadap Iran sekarang,” kata mantan diplomat Amerika John Graham.

Kedua negara sama-sama mencemaskan menguatnya pengaruh Iran di Timur Tengah. Jika negeri Mullah itu berhasil menjadi negara berkekuatan nuklir, dominasi Israel sebagai satu-satunya negara adikuasa di kawasan itu bakal terancam. Apalagi rezim di Teheran tidak sekadar menolak mengakui Israel. Mereka juga bersumpah melenyapkan negara Zionis itu.

Bagi Saudi, terus bertiupnya gelombang musim Semi Arab bisa mengancam stabilitas negara-negara kerajaan di Teluk Persia. Kekuasaan mereka secara turun-temurun bakal hancur digantikan kelompok-kelompok Islam lebih berkiblat kepada Iran.

Informasi rahasia soal kedekatan Saudi dan Israel ini terus bergulir. Menurut Radio Israel, delegasi militer Saudi dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Amir Salman bin Sultan baru-baru ini melawat ke Israel.“Delegasi Saudi bertemu para pejabat keamanan Israel,” kata sejumlah sumber seperti dikutip surat kabar Al-Manar. Bin Sultan juga mengunjungi salah satu markas militer Israel ditemani seorang pejabat senior Israel.”

Kontroversi belum selesai. Diplomat kedua negara juga bertemu di sela Konferensi Kebijakan Dunia di Monako. Mantan menteri intelijen dan pernah menjabat duta besar Saudi untuk Amerika, Pangeran Turki al-Faisal bersalaman dengan bekas duta besar Israel di Washington Itamar Rabinovich dan anggota Knesset (parlemen Israel) Meir Shitrit.

Dalam kesempatan itu Pangeran Turki mendesak Israel menerima inisiatif perdamaian dari Saudi. Namun dia menolak menerima undangan buat berpidato di depan anggota Knesset.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Saudi membantah negaranya menjalin kontak dengan Israel. "Riyadh tidak menjalin hubungan atau kontak dengan Israel dalam bentuk dan di tingkat apapun.”

Tapi paling ironis, Saudi bekerja sama dengan perusahaan keamanan tersohor asal Israel G4S buat mengamankan pelaksanaan haji saban tahun. Perusahaan ini telah bekerja sama dengan pemerintah Saudi sejak 2010 dengan nama Almajal G4S.

Direktur lembaga nirlaba Friends of Al-Aqsa Ismail Patil memprotes kebijakan itu. “Tidak bisa diterima Saudi mengizinkan perusahaan terlibat dengan penjajahan Israel dan penyiksaan rakyat Palestina menangani keamanan jamaah haji.

Seperti adagium dalam politik: tidak ada musuh abadi, yang abadi adalah kepentingan. Sebab itu lumrah saja Saudi berwajah ganda. Terang-terangan memusuhi Israel namun diam-diam bermesraan dengan rezim Zionis itu.

Hujan deras di Arab Saudi (SPA)

72 derajat di Iran tapi hujan di Saudi

Gara-gara temperatur kelewat panas, pemerintah Irak mengumumkan libur nasional empat hari.

Mercedes Benz berpelat nomor Arab Saudi terlihat di Kota Jaffa, Israel, Jumat, 24 Juli 2015. (@JackyHugi/Twitter)

Mobil berpelat nomor Saudi terlihat di Israel

Pemandangan ini amat sangat tidak biasa. Pengemudi Mercedes Benz itu pengusaha Arab Saudi.

Untung ada ISIS

ISIS bisa menjadi alat bagi Arab Saudi untuk menghancurkan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Simbol Bintang Daud di Ibu Kota Teheran, Iran. (Google Earth)

Simbol Bintang Daud di negeri Mullah

Iran dan Israel pernah membina hubungan harmonis sebelum pecah Revolusi Islam pada 1979.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR