IQRA

Senjata Pemusnah Massal Israel (1)

Perang Yom Kippur dan jejak nuklir Zionis

Golda Meir menolak gagasan Moshe Dayan buat menggunakan senjata nuklir dalam Perang Yom Kippur.

12 Januari 2015 05:58

Lebih dari enam dasawarsa telah lewat sejak Israel memulai proyek senjata nuklir mereka. Namun tidak ada orang dalam bicara mengenai hal itu. Tidak seperti delapan negara nuklir lain – Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, Cina, Pakistan, India, dan Korea Utara -, Israel percaya bungkam soal nuklirnya adalah emas atau amimut dalam bahasa Ibrani.

Bagi negara Zionis, program senjata pemusnah massal mereka adalah sesuatu bersifat rahasia, bimbang, dan tabu. Tidak ada sejarah pernah menulis mengenai itu. Israel mengunci rapat-rapat arsip-arsip tentang program senjata nuklir mereka. Hingga akhirnya terkuak, Israel pernah berencana menggunakan senjata nuklir saat Perang Yom Kippur, Oktober 1973.

Usulan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Moshe Dayan dalam pertemuan di kantor Perdana Menteri Golda Meir, seperti dilansir dari situs wilsoncenter.org. Persamuhan ini berlangsung di hari kedua setelah pecah perang. Selain Meir dan Dayan, rapat darurat itu juga dihadiri oleh Wakil Perdana Menteri Yigal Alon, Kepala Staf Angkatan Bersenjata David Elazar, dan Menteri Tanpa Portofolio Yisrael Galili.

Elazar menyampaikan situasi terkini dari medan tempur: pasukan Israel terdesak. Dayan sepakat dengan penilaian itu. Bahkan dia melihat tidak ada jalan lain selain menggunakan kekuatan nuklir buat mengalahkan pasukan negara-negara Arab. Namun gagasan itu baru dia sampaikan setelah Elazar meninggalkan ruangan.

“Karena kita tidak memiliki banyak waktu dan alternatif, kita juga harus menyiapkan kekuatan nuklir,” kata Dayan seraya memegang gagang pintu kepada Meir, seperti dibilang Arnan “Sini” Azaryahu kepada Avner Cohen, peneliti soal nuklir Israel dari lembaga the Wilson Center. Wawancara berlangsung di kediaman Sini, Kibbutz Yiron (Galilea Atas), Januari 2008, sepuluh bulan sebelum dia meninggal dalam usia 92 tahun.

Dia meminta izin kepada Meir agar membolehkan Direktur Jenderal Komisi Tenaga Atom Israel Shalheveth Freier masuk. “Jika kita mesti membuat keputusan untuk mengaktifkan (senjata nuklir), hanya perlu beberapa menit saja ketimbang waktu setengah hari buat menyiapkan pasukan cadangan,” ujar Dayan.

Alon dan Galili serentak berdiri dan menolak usulan Dayan. Menurut keduanya, pasukan Israel masih bisa menahan laju tentara Suriah. Jika pasukan cadangan tiba di lokasi pertempuran, kondisi bakal berbalik menguntungkan Israel. “Kita tidak usah panik dan kalau kita mempersiapkan senjata nuklir bakal menjadi akhir dari segalanya.”

Meir lebih sependapat dengan pandangan Alon dan Galili. “Lupakan itu,” katanya kepada Dayan. Dia tidak menjawab dan segera meninggalkan ruangan kerja Meir.

Galili sempat bertemu Dayan di koridor. Dia meminta Dayan melupakan ide pemakaian senjata nuklir. “Oke, bila itu yang kamu katakan, saya terima,” jawab Dayan.

Israel menang dalam perang 20 hari melawan koalisi pasukan negara Arab dipimpin Suriah. Negara Bintang Daud ini berhasil mencaplok Dataran Tinggi Golan dan Semenanjung Sinai.

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.

Bangunan berisi kubur Imam Musa al-Kazhim, salah satu tempat paling dikeramqtkan kaum Syiah, terletak di Distrik Kazhimiyah, Ibu Kota Baghdad, Irak. (Twitter)

Teman seranjang jam-jaman

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR