IQRA

Aliansi Wahabi dan Bani Saud (1)

Persekongkolan Wahabi dan Bani Saud

Pada 1744 Muhammad bin Saud dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab membikin perjanjian buat saling mendukung.

19 Januari 2015 08:05

Bodoh, arogan, dan suka melawan. Itulah penilaian Ibnu Humaidi, guru dari pendiri gerakan Wahabi Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Dia akhirnya tidak lulus belajar dengan mufti bermazhab Hambali di Kota Makkah, Arab Saudi, itu.

Dia lantas berguru kepada Muhammad Hayyat al-Sindhi di Kota Madinah. Di sana dia ajarkan untuk mengharamkan ziarah kubur dan menghormati para wali. Setelah belajar ke mana-mana, termasuk Basrah dan Baghdad di Irak, pada 1740 dia pulang ke kampung halamannya di Desa Uyaina, Najd, Arab Saudi.

Dengan usia masih 37 tahun, Syekh Muhammad mulai menyebarluaskan ajarannya. Dia berhasil mempengaruhi Usman bin Muammar, penguasa Uyaina. Dia lantas menyuruh Usman mengangkat kubur Zaid bin Khattab dikeramatkan warga setempat. Kemudian dia memerintahkan semua pelaku zina dirajam sampai mati. Dia bahkan pernah memimpin hukuman itu.

Semua ajaran Syekh Muhammad mendapat perhatian dari Sulaiman bin Muhammad bin Ghurair dari Bani Khalid. Dia memerintahkan Syekh Muhammad dibunuh. Namun Usman menolak perintah atasannya itu. Akhirnya Syekh Muhammad diusir dari tanah kelahirannya itu.

Selepas itu, dia bermukim di Diriyah diperintah oleh Muhammad bin Saud. "Oasis ini milikmu, jangan takut terhadap musuh-musuhmu. Atas nama Allah, jika seluruh penduduk Najaf mengusirmu, kami tidak akan pernah melakukan itu," kata Muhammad bin Saud, seperti ditulis Madawi al-Rasyid dalam buku berjudul A History of Saudi Arabia.

Syekh Muhammad menjawab, "Anda adalah pemimpin dan orang bijak. Aku ingin Anda bersumpah kepada saya untuk memerangi para penentang saya. Sebagai balasan, Anda menjadi imam masyarakat muslim dan saya pemimpin dalam urusan agama."

Keduanya pada 1744 membuat perjanjian berlaku hingga kini. Kedua pihak saling mendukung. Keturunan Muhammad bin Saud akhirnya memimpin Kerajaan Arab Saudi sekarang menyokong dana buat penyebaran paham Wahabi, jumlahnya sekitar US$ 2 miliar saban tahun. Anak cucu Syekh Muhammad menjadi pemuka agama Saudi memberikan legitimasi terhadap penguasa sebagai balasan.

Seperti para pendahulunya, keluarga Kerajaan Saudi melenyapkan semua peninggalan sejarah Islam berkaitan dengan Nabi Muhammad. Mereka beralasan praktek berziarah dan berdoa di tempat-tempat disakralkan itu sebagai syirik. Para pengikut Wahabi ini juga tidak percaya dengan syafaat Rasulullah.

Paham Wahabi menganggap Rasulullah sebagai manusia biasa sehingga tidak perlu dipuja dan dipuji. Apalagi sampai merayakan hari kelahirannya. Bahkan mendiang Syekh Abdul Aziz bin Baz berani menyatakan Allah itu memiliki batas dan hanya Dia yang tahu keterbatasannya.

Sejumlah ulama Wahabi melontarkan pula pendapat membahayakan. Seperti Syekh Al-Qanuji dalam kitabnya Ad-Dinul Khalisy, jilid pertama halaman 140. Dia bilang taklid terhadap mazhab termasuk syirik. Syekh Hasan al-Aqqad dalam kitabnya Halaqat Mamnuah, halaman 25, menyatakan kafir orang membaca salawat untuk nabi seribu kali atau mengucapkan La ilaha illallah seribu kali.

Kebanyakan ulama Sunni menganggap ajaran Syekh Muhammad sesat. Ayah dan saudara lelakinya, Sulaiman bin Abdul Wahab, termasuk pengkritik dia. Sulaiman menganggap Syekh Muhammad orang terpelajar sakit mental dan tidak toleran. Dia juga menilai paham Wahabi sebagai ajaran pinggiran sekaligus fanatik.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz duduk bersebelahan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di ruang paripurna gedung Nusantara, kompleks parlemen, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz saat tiba di gedung Nusantara, kompleks DPR, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Kerajaan emas hitam

Dalam dokumen Panama Papers, disebutkan Raja Salman membeli sebuah kapal pesiar supermewah dan beberapa properti bernilai jutaan dolar Amerika Serikat di London.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Buang fulus rombongan liburan Salman

Raja Salman memiliki selusin apartemen di Paris senilai US$ 35 juta. Dia juga memiliki sebuah vila supermewah di Cote d'Azur, Prancis, dan satu istana di Marbella, Costa del Sol, Spanyol.

Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh. (Arab News)

Sebar Wahabi lewat buku pelajaran agama

Saudi sebenarnya sudah melakukan reformasi pendidikan, namun kontrol ulama atas tempat publik, pendidikan, dan indoktrinasi agama menyulitkan pelaksanaannya.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR