IQRA

Aib Para Pangeran Saudi (4)

Pangeran gay dari Saudi

Pengadilan London memvonis hukuman penjara seumur hidup atas Pangeran Saud bin Abdul Aziz. Dia terbukti bersalah membunuh Bandar Abdul Aziz, pembantu sekaligus pasangan homonya.

26 Januari 2015 10:03

Menjadi gay di Arab Saudi bukan sekadar sungguh memalukan, namun juga bisa terancam hukuman mati. Kegelisahan ini dihadapi oleh Pangeran Saud bin Abdul Aziz bin Nasir as-Saud dari negeri Dua Kota Suci itu.

Pengadilan Kejahatan Pusat di Ibu Kota London, Inggris, biasa disebut Old Bailey, pada 2010 memvonis lelaki 34 tahun ini dengan hukuman penjara seumur hidup. Dia terbukti bersalah membunuh pembantu lelakinya, Bandar Abdul Aziz. Selama sidang sang pangeran berupaya menyembunyikan rahasia memalukan, yakni dia seorang homoseksual.

Pengacaranya, Kelsey-Fry, berusaha keras agar pertanyaan-pertanyaan hakim tidak menjurus ke arah orientasi seksual. Menurut dia, hal itu tidak relevan dengan kasus kliennya. Dia juga menekankan homoseksual merupakan dosa besar dalam hukum Islam. "Jika diketahui dia seorang homo, dia bisa dihukum mati di negara asalnya," katanya, seperti dilansir BBC, Oktober 2010.

Meski Pangeran Saud dan kuasa hukumnya berupaya mengelak dari tudingan gay, namun seorang buruh angkut Hotel Landmark, London, Dobromir Dimitrov, juga homo, melihat pangeran dan pembantunya sebagai pasangan sesama jenis. "Mereka seperti pasangan gay," ujarnya. Pangeran Saud dan Bandar menginap di sana sebulan.

Meski tidak pernah memberikan bukti, hasil penyidikan polisi juga menyimpulkan Pangeran Saud adalah gay. Ketika Bandar ditemukan tewas di atas ranjang kamar 312 Hotel Landmark, terdapat luka gigitan di kedua pipi korban. Polisi juga menemukan sejumlah foto telanjang Bandar di telepon seluler sang majikan.

Bandar, lebih muda dua tahun ketimbang Pangeran Saud, selalu menemani bosnya itu berkeliling dunia dan menginap di hotel-hotel mewah. Pasangan homo ini menghabiskan waktu di London dengan berbelanja, makan malam di restoran-restoran kelewat mahal, serta menenggak sampanye dan koktail hingga mabuk. Mereka juga tidur seranjang.

Dua pelacur gay, Pablo Silva dan Louis Szikora, mengungkapkan pernah disewa Pangeran Saud buat menari telanjang. "Dia minta pijatan seksual," tutur Silva seraya menambahkan sang pangeran malu-malu mereka mengajak bercinta.

Vonis sudah dijatuhkan dan Pangeran Saud harus mendekam dua dekade di penjara Inggris sebelum dideportasi ke Saudi. Boleh jadi sebagai pangeran dia bisa bebas dari hukuman mati, tapi terkenal sebagai gay bisa membuat dia stres karena sungguh memalukan.

Tapi dampak itu belum seberapa. "Keluarga besarnya akan menggelar rapat dan mungkin setoran fulus haknya bakal diputus," ucap Christoph Wilcke, ahli Arab Saudi dari Human Rights Watch.

Ilustrasi pengantin Arab. (american bedu.com)

Bertemu calon suami lewat Twitter

Raqad yakin lelaki itu bakal menikahi dirinya.

Perempuan Arab. (ilustrasi/english.alarabiya.net)

Lebih berwarna di dunia maya

Generasi muda di negara Kabah kian mengandalkan media sosial untuk berekspresi dan menghibur diri, mencari fulus, serta bertemu teman dan calon pasangan hidup.

Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh. (al-shorfa.com)

Wahabi cermin radikalisme

Mantan agen MI6 (badan intelijen Inggris) Alastair Cooke bilang Kerajaan Arab Saudi dibentuk dengan terorisme.

Raja Arab Saudi Abdul Aziz bin Saud dan Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt dalam sebuah pertemuan pada 1945. (myemail.constantcontact.com)

Benci mengakar terhadap Syiah

ISIS merupakan alat Saudi buat menumpas pengaruh Syiah tengah mengancam tuannya itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR