IQRA

Horor Sebelum Penyembelihan (1)

Mata-mata di pos batas

"Kami baru 20 menit berkendara saat saya melihat tiga mobil berhenti di depan mobil saya," kata Abu Bakar.

02 Februari 2015 07:00

Tawanan-tawanan itu dikeluarkan dari dalam sel satu-satu.

Dalam sebuah ruangan tertutup, para penculik mereka menanyakan masing-masing tiga pertanyaan pribadi. Ini sebuah teknik standar digunakan untuk memperoleh bukti seorang sandera masih hidup dalam perundingan pembebasan.

James Foley, 40 tahun, kembali ke sel dia huni bareng hampir dua lusin warga asing. Dia menangis gembira. Pertanyaan diajukan para penculinya sangat pribadi: "Siapa menangis di pernikahan kakakmu?" dan "Siapa kapten tim sepak bola semasa kamu SMA?". Foley tahu militan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) sudah berhubungan dengan keluarganya.

Kejadian itu Desember 2013, lebih dari setahun sejak Foley ditangkap di sebuah jalan di utara Suriah. Dia mengatakan kepada sesama tawanan, orang tuanya akhirnya tahu dia masih hidup. Dia yakin pemerintahnya akan segera merundingkan pembebasannya.

Tapi harapan dan keyakinan terbalik dengan kenyataan. Wartawan Amerika Serikat itu pada Agustus 2014 dipaksa berlutut di daerah perbukitan tandus Suriah. Berkepala plontos dan berparasut oranye, mirip seragam tahanan Guantanamo, Foley menemui ajal dengan leher disembelih. Kejadian menggidikkan ini direkam oleh kamera video.

Rekaman video menggambarkan detik-detik kematiannya adalah akhir dari cobaan berat tersembunyi bisa diketahui umum. Cerita soal apa yang terjadi dalam jaringan penjara bawah tanah kelompok ISIS di Suriah merupakan salah satu penderitaan menyiksa. Foley dan tawanan lain rutin dipukuli dan disiksa dengan cara meletakkan pakaian basah di atas muka tahanan. Tawanan tidak berdaya itu merasakan seakan tengah tenggelam.

Berbulan-bulan mereka kelaparan dan diancam bakal dibunuh sekelompok anggota ISIS, lalu mereka kadang diserahkan kepada grup lain membagikan manisan dan berencana membebaskan mereka. Para tawanan ini kompak, bermain bersama untuk melewatkan waktu seolah tak ada habisnya tapi kondisi mereka terima kian memburuk.

Mereka saling menguatkan semangat satu sama lain. Beberapa sandera, termasuk Foley, akhirnya menemukan kedamaian setelah menjadi mualaf dan berganti nama muslim.

Penculikan terhadap mereka terjadi saat ISIS menemukan kejayaan hingga kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini mengklaim sebagai kekhalifahan Islam. Foley adalah satu dari sedikitnya 23 tawanan asing ISIS asal 12 negara, kebanyakan adalah orang Eropa. Pemerintah mereka sudah biasa membayar uang tebusan untuk membebaskan warganya dari penculik.

Kisah mereka dalam sekapan ISIS ditulis untuk pertama kalinya berdasarkan wawancara dengan lima mantan tawanan, penduduk lokal menyaksikan perlakuan mereka terima, keluarga dan rekan tawanan, serta sekelompok perunding menemui ISIS untuk membahas proses pembebasan mereka. Rincian-rincian penting dibenarkan oleh seorang mantan anggota ISIS mulanya ditugaskan menjadi sipir di penjara tempat Foley ditahan.

Siksaan diterima tawanan masih menjadi rahasia besar lantaran militan ISIS telah memperingatkan kerabat mereka untuk tidak berbicara kepada media. Mereka mengancam membunuh sandera jika pihak keluarga berani melakukan itu. The New York Times hanya menyebut nama-nama sandera telah diumumkan secara terbuka oleh ISIS sejak Agustus 2014.

Para pejabat di Washington D.C. mengatakan mereka telah mengupayakan segalanya untuk membebaskan Foley dan tawanan lainnya, termasuk melaksanakan misi penyelamatan gagal. Mereka berpendapat kebijakan Amerika untuk tidak membayar uang tebusan dalam jangka panjang akan membikin warga Amerika kurang menarik untuk diculik.

Di dalam sel beton berbentuk kotak, para tawanan ini tidak tahu apa yang keluarga dan pemerintah lakukan atas nama mereka. Mereka pelan-pelan mengumpulkan informasi dari obrolan dengan penjaga dan sesama tahanan. Kebanyakan dari mereka menderita, menunggu tanda-tanda kemungkinan mereka bisa dibebaskan.

*****

Hanya 40 menit bermobil dari perbatasan Turki, Foley memutuskan berhenti untuk terakhir kali.

Di Binesh, Suriah, tiga tahun lalu, Foley dan teman seperjalanannya, wartawan foto asal Inggris John Cantlie, masuk ke sebuah kafe Internet untuk menyimpan hasil liputan mereka. Keduanya tidak asing mengenai risiko meliput di Suriah.

Beberapa bulan sebelumnya Cantlie diculik hanya lusinan kilometer dari Binesh. Dia berusaha kabur dengan kaki telanjang dan kedua tangan terikat. Penculiknya menembakkan peluru hingga akhirnya dia ditangkap lagi. Dia dibebaskan sepekan kemudian setelah ada campur tangan dari kelompok pemberontak beraliran moderat.

Mereka sedang mengunggah foto-foto liputan mereka saat seorang lelaki masuk ke dalam kafe Internet itu.

"Dia berjenggot tebal," kata Mustafa Ali, penerjemah keduanya, mengingat saat-saat terakhir kebersamaan mereka. "Dia tidak tersenyum atau mengatakan sesuatu. Dia menatap kami dengan pandangan benci."

Pria itu lalu mendekat dan duduk di depan komputer hanya semenit lantas pergi. "Dia bukan orang Suriah. Dia sepertinya dari negara Teluk," ujar Ali.

Foley, wartawan lepas untuk Global Post dan AFP, serta Cantlie, fotografer buat koran-koran Inggris, terus melanjutkan pekerjaan mereka. Mengirim hasil liputan melalui surat elektronik kepada seorang rekan menunggu di Turki.

Lebih dari sejam kemudian mereka naik taksi menempuh perjalanan 40 kilometer menuju Turki, namun mereka tidak pernah tiba di perbatasan.

Sekelompok pria bersenjata menumpang sebuah mobil van mengejar taksi mereka tumpangi. Setelah sejajar di sisi kiri, minibus itu langsung memotong laju taksi. Beberapa orang bertopeng langsung meloncat keluar. Mereka berteriak dalam bahasa Arab dengan dialek asing, menyuruh Foley dan Cantlie tiarap di atas tanah. Tangan mereka diikat ke belakang dan mereka dilempar ke dalam van. Pada 22 November 2012 itu Foley dan Cantlie ditangkap.

Mereka meninggalkan Ali di jalan seraya mengancam, "Jika kamu mengikuti kami, kami akan membunuh kamu."

Selama 14 bulan kemudian sedikitnya 23 warga asing, kebanyakan wartawan lepas dan relawan kemanusiaan, terperangkap lewat jebakan serupa. Para penculik mengenali orang-orang lokal disewa wartawan buat menolong mereka selama liputan, seperti Ali dan Yusuf Abu Bakar, penerjemah asal Suriah. Abu Bakar mengantar Steven J. Sotloff, wartawan lepas dari Amerika, masuk ke Suriah pada 4 Agustus 2013.

"Kami baru 20 menit berkendara saat saya melihat tiga mobil berhenti di depan mobil saya," kata Abu Bakar. "Mereka pasti mempunyai mata-mata di perbatasan telah melihat mobil saya dan memberitahukan kepada mereka saya sudah masuk Suriah."

Penculikan dilakoni kelompok-kelompok berbeda makin kerap terjadi. Pada Juni 2013 empat jurnalis Prancis ditangkap. Tiga bulan kemudian giliran tiga wartawan Spanyol menjadi korban.

Pos-pos pemeriksaan seolah menjadi penjaring orang. Akhir Oktober 2013 mereka menunggu Peter Kassig, 25 tahun, teknisi medis darurat asal Indianapolis, Amerika Serikat, tengah memasok kebutuhan medis. Dua bulan berselang Alan Henning, sopir taksi dari Inggris, juga diculik. Henning menguras tabungannya buat membeli sebuah ambulans bekas dan berharap bisa ikut konvoi kemanusiaan ke Suriah. Dia diculik setengah jam setelah menyeberang ke negara itu.

Korban penculikan terakhir adalah lima relawan dari kelompok Dokter Tanpa Batas. Mereka ditangkap Januari 2014 saat bekerja di sebuah rumah sakit lapangan di daerah terpencil di Suriah.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR