IQRA

Horor Sebelum Penyembelihan (2)

The Beatles di sel ISIS

Selama tiga pekan berikutnya, saban mendengar suara azan ketiganya berdiri untuk melaksanakan salat.

02 Februari 2015 08:30

Di bawah todongan senjata Sotloff dan Abu Bakar dibawa ke sebuah pabrik tekstil di sebuah desa di luar Aleppo, Suriah. Keduanya ditempatkan dalam sel terpisah. Abu Bakar, dilepaskan dua pekan kemudian, pernah mendengar para penyekap mereka membawa Sotloff ke dalam sebuah ruangan bersebelahan dengan selnya. Dia kemudian mendengar seorang interogator berlisan Arab berbicara dalam bahasa Inggris: "Kata sandi."

Proses itu diulangi berkali-kali terhadap sejumlah tawanan lain. Para penculik merampas komputer jinjing, telepon seluler, kamera, dan meminta kata sandi akun-akun surat elektronik dan media sosial mereka. Mereka lalu memindai linimasa Facebook, obrolan Skype, arsip-arsip foto, dan surat-surat elektronik tawanan, mencari bukti hubungan dengan intel Barat atau militer.

"Mereka membawa saya ke sebuah bangunan khusus untuk interogasi," kata Marcin Suder, wartawan foto Polandia berumur 37 tahun dan diculik pada Juli 2013 di Saraqib, Suriah. Setelah dioper ke beberapa milisi bersenjata, Suder berhasil kabur empat bulan berselang.

Para penyekap juga memeriksa kamera dan komputer tablet milik Suder. Mereka lantas menelanjangi Suder hingga bugil. "Mereka mencari siapa tahu ada GPS di bawah kulit atau dalam pakaian saya. Mereka lalu mulai memukuli saya," ujarnya. "Mereka mencari di Google dengan kata kunci Marcin Suder dan CIA, Marcin Suder dan KGB. Mereka menuduh saya mata-mata."

Suder - tidak pernah memberitahu nama kelompok menahan dirinya dan tidak pernah bertemu tawanan lain karena lari sebelum dipindah ke lokasi sama - memperhatikan ada kata-kata Inggris khusus kerap digunakan para pemeriksanya.

Dalam sebuah sesi interogasi, para penculik tetap menyebut Suder nakal - kata diingat tawanan lain ditahan bareng Foley dipakai para sipir saat menyiksa mereka dengan brutal.

Tentu saja lewat interogasi semacam itu pula para jihadis inimenemukan gambar-gambar personel militer Amerika Serikat dalam komputer jinjing Foley. Itu merupakan foto-foto selama Foley bertugas di Afghanistan dan Irak.

"Dalam arsip foto hasil jepretannya sendiri ada beberapa foto memuliakan militer Amerika," tulis ISIS dalam sebuah artikel dilansir setelah kematian Foley. "Sayang bagi James, arsip ini ada bersama dia saat ditangkap."

Tawanan asal Inggris, David Cawthorne Haines, dipaksa mengakui pernah menjadi tentara. Keterangan itu ada dalam profil LinkedIn miliknya.

Militan ISIS juga memperoleh bukti Kassig, relawan dari Indiana, dulunya anggota pasukan Ranger dan veteran Perang Irak. Kedua fakta ini mudah ditemukan di Internet lantaran CNN pernah meliput kegiatan kemanusiaan Kassig sebelum dia diculik.

Hukuman bagi siapa saja terlibat dengan hal itu adalah penyiksaan.

"Anda bisa lihat bekas luka di pergelangan kakinya (Foley)," kata Jejoen Bontinck. Remaja 19 tahun asal Belgia ini pernah satu sel bareng Foley tiga pekan di musim panas 2013. "Dia bilang kepada saya bagaimana mereka telah merantai kedua kaki saya ke tiang dan menggantung saya dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian para penculik itu meninggalkan dia."

Bontinck, dibebaskan akhir 2013, berbicara pertama kali soal pengalamannya disekap ISIS kepada the New York Times saat ditemui di tempat tinggalnya, Antwerp, Belgia. Dia satu dari 46 pemuda Belgia diadili dengan dakwaan menjadi anggota organisasi teroris.

Mulanya penyiksaan itu tidak kelihatan untuk sebuah tujuan lebih besar. Kaum militan ini juga tidak tampak memiliki rencana menambah jumlah tawanan mereka.

Bontinck bilang Foley dan Cantlie awalnya disekap oleh Jabhat Nusrah, kelompok berafiliasi ke Al-Qaidah. Para penjaga mereka, tiga orang berbahasa Inggris biasa disebut "the Beatles", kelihatannya menyiksa mereka untuk kesenangan saja.

Keduanya lantas diserahkan kepada sebuah kelompok bernama Dewan Syura Mujahidin, dipimpin oleh orang-orang Prancis. Foley dan Cantley berpindah tangan sedikitnya tiga kali sebelum akhirnya dibawa ke penjara bawah tanah di Rumah Sakit Anak Aleppo.

Di penjara itulah Bontinck, waktu itu baru 18 tahun, bersua Foley. Bontinck tadinya seorang pejuang, satu dari ribuan pemuda Belgia ikut berjihad. Dia akhirnya berselisih dengan kelompoknya sehabis menerima pesan pendek dari ayahnya meminta dia pulang ke Belgia. Komandannya menuding dia intel.

Kelompok militan itu lantas memenjarakan Bontinck dalam sebuah ruang bawah tanah berdinding coklat muda. Di dalam sana sudah ada dua lelaki bule berewok dengan tubuh sangat kurus: Foley dan Cantlie. Selama tiga pekan berikutnya, saban mendengar suara azan ketiganya berdiri untuk melaksanakan salat.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Terus berdusta demi selamatkan putera mahkota

Arab Saudi mulanya membantah, lalu mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Kemudian mengklaim pembunuhan Khashoggi direncanakan tapi balik lagi ke pengakuan awal: dia meninggal lantaran berantem.

16 November 2018
Unjuk gigi Khashoggi
06 November 2018
Ajal tujuh menit Jamal
23 Oktober 2018
Tuan rumah minus tradisi
30 Maret 2018

TERSOHOR