IQRA

Horor Sebelum Penyembelihan (5)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

02 Februari 2015 11:23

Sampai Desember 2013, ISIS telah bertukar kabar lewat surat elektronik dengan keluarga-keluarga tawanan, termasuk kerabat Foley.

Foley benar-benar berharap bakal segera pulang. Saat hari Natal mendekat - menjadi Natal keduanya jauh dari rumah - dia membikin Secret Santa di dalam penjara, sebuah tradisi dalam keluarga Foley. Tiap sandera saling memberikan hadiah dibikin dari barang-barang bekas. Foley mendapat sebuah lingkaran terbuat dari potongan lilin buat mengganjal keningnya saat bersujud di lantai keras.

Berpekan-pekan telah berlalu, Foley memperhatikan rekan-rekan satu selnya dari Eropa diminta keluar dan keluar lagi untuk menjalani interogasi. Dia tidak. Tawanan asal Amerika atau Inggris tidak ditanyai.

Para tawanan segera menyadari para penculik telah mengetahui negara mana paling ingin membayar uang tebusan. "Para penculik sudah tahu negara-negara mana saja paling bisa menerima tuntutan mereka," kata seorang bekas sandera ISIS. "Mereka mulai dengan Spanyol."

Suatu hari para sipir masuk ke dalam sel dan menunjuk ke arah tiga tawanan dari Spanyol. Mereka bilang mereka sudah tahu pemerintah Spanyol telah membayar enam juta euro buat membebaskan sekelompok relawan kemanusiaan diculik oleh sel Al-Qaidah di Mauritania itu.

Karena proses perundingan untuk tawanan Spanyol maju pesat, sandera pertama dibebaskan adalah tiga lelaki Spanyol pada Maret 2014 setelah enam bulan disekap. ISIS lantas bergerak ke empat wartawan Prancis.

Dari mengajukan pertanyaan-pertanyaan bersifat pribadi kepada tawanan-tawanan orang Eropa, ISIS beralih ke pembuatan rekaman video buat dikirim kepada keluarga atau pemerintah asal negara tawanan. ISIS membikin ancaman bakal membunuh dan menetapkan tenggat eksekusi untu memaksa negara mereka membayar duit tebusan.

Hingga akhirnya mereka berinisiatif memakaikan parasut kuning cerah buat para tawanan, sebuah seragam dipakai tahanan tersangka terorisme di kamp milik Amerika Serikat di Guantanamo, Kuba.  Sejumlah mantan tawanan ISIS dan beberapa saksi mengungkapkan ISIS juga mempraktekkan siksaan berupa menyiramkan air ke wajah tawanan ditutup pakaian membikin mereka seolah sedang tenggelam(waterboarding). Cara ini dipakai CIA untuk menyiksa para tawanan muslim.

Hingga akhirnya 23 tawanan ISIS ini dibagi menjadi dua kelompok. Tiga lelaki Amerika dan tiga pria Inggris sama-sama mengalami penganiayaan terburuk lantaran kebencian para jihadis terhadap negara mereka. Juga disebabkan Amerika dan Inggris menolak merundingkan soal fulus tebusan.

"Ini salah satu bentuk kebencian mereka terhadap Amerika," ujar seorang sumber. "Tapi mereka juga sadar Amerika dan Inggris tidak mau membayar fulus tebusan."

Salah satu tawanan mengalami siksaan paling kejam adalah Foley. Dia berulang kali dipukuli dan dianiaya dengan metode waterboarding. "Hingga suatu hari tidak ada darah di sekujur tubuhnya," tutur mantan rekan satu sel Foley. "Kami tahu dia telah mengalami penyiksaan jauh lebih buruk."

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Selama berminggu-minggu mereka hidup dalam kegelapan. Cuma cahaya dari pintu sel terkunci masuk ke dalam seukuran satu jari. Kala senja tiba, mereka tidak bisa melihat apa-apa. Sampai-sampai mereka menumpahkan makanan mereka sendiri hingga akhirnya para penjaga memberikan cahaya lewat senter mereka.

Tidak ada kasur dalam sel dihuni para tawanan ISIS itu dan hanya ada sedikit selimut. Beberapa tawanan membuat bantal dengan merobek pakaian mereka.

Para tawanan mulai tertekan. Perkelahian pun meletup.

Tapi Foley benar-benar berhati mulia. Di musim dingin dia memberikan selimut milik dia satu-satunya kepada tahanan lain. Dia berusaha membuat tawanan lain terhibur, mengajak mereka bermain dan berkegiatan lainnya, seperti Risk, permainan papan dengan cara memindahkan pasukan di atas peta secara imajinasi. Beberapa tawanan lain bermain catur bikinan seadanya. Mereka juga saling menceritakan film pernah mereka tonton dan menyampaikan topik benar-benar mereka kuasai.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.

James Foley tengah mengedit video dari Aleppo, Suriah, dua pekan sebelum dia diculik pada November 2012. (www.nytimes.com)

The Beatles di sel ISIS

Selama tiga pekan berikutnya, saban mendengar suara azan ketiganya berdiri untuk melaksanakan salat.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR