IQRA

Horor Sebelum Penyembelihan (6)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

02 Februari 2015 12:49

Di musim semi tahun lalu ISIS memindahkan para tawanan dari penjara bawah tanah di rumah sakit anak di Aleppo ke Raqqah, ibu kota ISIS. Mereka ditempatkan dalam sebuah bangunan di luar instalasi minyak. Tawanan-tawanan ini dipisah berdasarkan kelamin.

Sampai Maret 2014 ISIS telah menghasilkan kesepakatan dalam perundingan untuk membebaskan tiga wartawan Spanyol.

Ketika kiriman pertama dari uang tebusan diminta tiba, para penjaga menemukan ada duit rusak. Mereka mengeluh kepada tawanan tersisa. Mereka bilang pemerintah para korban penculikan itu bahkan tidak memiliki kesopanan dalam mengirim fulus.

Sebulan kemudian hampir setengah dari tawanan ISIS sudah dilepas. Namun tidak ada kemajuan soal uang tebusan diminta sebagai syarat pembebasan sandera asal Amerika Serikat dan Inggris.

Dari tiga kelompok tawanan, ada satu dari Rusia. Lelaki ini dikenal dengan nama Sergey dan bagi ISIS tidak begitu menjual.

Diketahui lewat media-media Rusia bernama Sergey Gorbunov, dia terakhir terlihat dalam rekaman video dilansir ISIS Oktober 2013. Dengan tergagap-gagap dia bilang jika Moskow menolak membayar uang tebusan diminta, ISIS bakal membunuh dia.

Suatu hari di musim semi. Sejumlah lelaki bertopeng mendatangi Sergei. Mereka lantas menarik keluar dan menembak mati pria Rusia ini. Mereka merekam kondisi mayatnya dan diperlihatkan kepada tawanan lain. "Ini bakal terjadi (kepada kalian) jika pemerintah kalian tidak mau membayar."

*****

Selama dua pekan Foley telah menyaksikan rekan-rekan satu selnya sudah dibebaskan.

Kian sedikitnya jumlah penghuni sel seluas 20 meter persegi di Kota Raqqah itu membikin dia kian sulit untuk tetap berharap. Foley, pernah berkampanye buat Presiden Obama, terus meyakini pemerintahnya akan datang untuk menyelamatkan dirinya.

Pada 27 Mei 2014 tawanan tersisa diingatkan: beda paspor lain nasib.

Mereka ditangkap bareng dalam banyak kasus dilepas bersamaan. Tapi itu tidak berlaku bagi relawan kemanusiaan asal Italia dan Inggris bekerja buat the Agency for Technical Cooperation and Development, organisasi kecil berkantor di Prancis. Mereka diculik saat berada sekitar satu kilometer dari perbatasan Turki sehabis mengirim tenda di sebuah kamp pengungsi.

Menurut bekas rekan satu selnya, pada Mei 2014 tawanan berkebangsaan Italia Federico Motka diberitahu dia bakal dilepaskan. Meski klaim itu dibantah, pemerintah Italia diyakini telah membayar uang tebusan.

Namun temannya, David Haines, tetap meringkuk dalam sel. Haines akhirnya dipenggal September 2014 setelah dipaksa membaca pernyataan menyalahkan pemerintah Inggris atas kematiannya.

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan. Empat lelaki Amerika dan tiga pria Inggris - semuanya adalah warga dari dua negara menolak membayar uang tebusan.

Dalam sebuah artikel dilansir Dabiq, majalah bikinan ISIS, kelompok militan ini menggambarkan serangan udara dipimpin Amerika sebagai paku dalam peti-peti jenazah para tawanan. Mereka menyebut pula kebijakan antiuang tebusan ikut menentukan keputusan ISIS membunuh Foley.

"Karena pemerintah Amerika mengerem kakinya, enggan menyelamatkan nyawa James," tulis mereka. "Perundingan-perundingan sudah  dilakoni oleh pemerintah dari sejumlah tawanan Eropa telah menghasilkan pembebasan selusin tahanan setelah tuntutan ISIS dipenuhi."

Sebanyak 15 tawanan dilepas selama Maret hingga Juni 2014. Duit tebusan diberikan buat tiap satu sandera rata-ata lebih dari dua juta euro, kata sejumlah mantan tahanan ISIS dan orang-orang dekat mereka.

Di antara sandera paling terakhir dibebaskan adalah wartawan foto Denmark Daniel Rye Ottosen, 25 tahun. Dia menghirup kebebasan setelah keluarganya membayar jutaan euro. Dia salah satu sandera dibebaskan berhasil menyelundupkan keluar surat-surat dari rekan satu selnya.

"Saya benar-benar takut mati," tulis Kassig dalam surat dilansir keluarganya. "Hal tersulit adalah tidak tahu apa-apa, berharap, dan membayangkan jika saya cuma bisa berharap saja."

Foley kelihatan sudah merasa akhir hayatnya telah dekat. Dalam suratnya dia memerintahkan keluarganya mencairkan tabungannya di bank.

Pada Agustus 2014 Foley diangkut ke sebuah bukit di luar Kota Raqqah. Beralaskan sepasang sandal dia dipaksa berlutut. Dia memang ke arah kamera dengan tatapan melawan. Mereka kemudian menggorok tenggorokannya.

Dua pekan berselang rekaman video serupa menunjukkan kematian Sotloff. Pada September 2014 giliran Haines dan sebulan kemudian mereka membunuh Henning. Hanya tiga dari 23 sandera tersisa: dua orang Amerika, Kassig dan seorang perempuan belum dilansir identitasnya, serta satu lelaki Inggris, Cantlie.

ISIS mengumumkan Kassig giliran berikutnya. Mualaf ini pun menemui ajal November tahun lalu dengan cara serupa: digorok. Juga beralaskan sepasang sandal plastik biasa dipakai sandera ISIS ke kamar mandi.

Horor boleh jadi belum berhenti. Masih ada Cantlie dan satu wanita Amerika.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Mualaf bernama Abu Hamzah

Ketika para sipir membawa Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, James Foley menghabiskan berjam-jam untuk membaca kitab suci itu.

James Foley tengah mengedit video dari Aleppo, Suriah, dua pekan sebelum dia diculik pada November 2012. (www.nytimes.com)

The Beatles di sel ISIS

Selama tiga pekan berikutnya, saban mendengar suara azan ketiganya berdiri untuk melaksanakan salat.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR