IQRA

Koneksi Arab Saudi dan ISIS (1)

Poros Riyadh-Raqqah

"ISIS itu proyeknya Saudi," ujar pejabat senior Qatar.

09 Februari 2015 02:24

"Terima kasih Tuhan atas anugerah berupa Saudi dan Pangeran Bandar," kata John McCain kpada presenter stasiun televisi CNN Candy Crowley Januari tahun lalu. "Terima kasih Tuhan buat Saudi dan Pangeran Bandar serta teman-teman dari Qatar," bilang senator ini sekali lagi sebulan kemudian di acara Konferensi Keamanan Munich di Kota Munich, Jerman.

McCain memuji Pangeran Bandar bin Sultan, mantan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat kemudian menjadi kepala intelijen, lantaran menyokong perlawanan terhadap rezim Basyar al-Assad di Suriah. McCain bareng Senator Lindsey Graham pernah menemui Pangeran Bandar untuk mendorong Saudi mempersenjatai pasukan pemberontak Suriah.

Namun tidak lama setelah komentar McCain di Munich itu, Raja Abdullah membebaskan Pangeran Bandar dari tugas rahasia di Suriah itu dan diganti oleh Pangeran Muhammad bin Nayif. Pada pertengahan April, dua pekan setelah Presiden Amerika Barack Hussein Obama bertemu Raja Abdullah pada 28 Maret, Bandar juga dicopot dari jabatannya sebagai kepala intelijen.

Menurut pernyataan resmi pemerintah, pergantian itu atas kemauan Pangeran Bandar. Namun sejumlah sumber dalam keluarga kerajaan mengungkapkan Raja Abdullah memecat Pangeran Bandar karena ketidakbecusannya menangani kebijakan Saudi soal Suriah dan pelbagai ketegangan lainnya, setelah sebelumnya menolak pengunduran diri Pangeran Bandar. Dia lalu mendapatkan lagi jabatan sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional.

Tentara Pembebasan Suriah (FSA), kelompok oposisi bersenjata moderat di Suriah, menerima banyak perhatian. Namun dua faksi paling sukses dalam palagan di negara itu adalah Jabhat Nusrah dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kemudian menguasai sebagian besar Suriah dan wilayah utara serta barat Irak. Keberhasilan ini karena sokongan mereka peroleh dari dua negara Arab superkaya di Teluk Persia: Qatar dan Arab Saudi.

Qatar telah memasok fulus dan kebutuhan militer dalam jumlah besar kepada Jabhat Nusrah. Seorang pejabat senior negara ini bahkan sesumbar dia bisa mengenali identitas komandan Jabhat Nusrah sesuai wilayah mereka kuasai di Suriah. Tapi ISIS soal lain. "ISIS itu proyeknya Saudi," ujar pejabat senior Qatar lainnya.

ISIS kenyataannya merupakan bagian utama dari strategi operasi rahasia bikinan Pangeran Bandar di Suriah. Pemerintah Saudi telah membantah tudingan-tudingan itu, termasuk klaim pernah disampaikan mantan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki: Saudi mendukung ISIS secara langsung. Namun ada tanda-tanda Saudi telah menggeser dukungan mereka ke milisi-milisi lebih moderat di Suriah.

Amerika Serikat, Prancis, dan Turki sudah lama membantu FSA, milisi lemah dan tidak terorganisir, serta meminta komitmen Qatar dan Arab Saudi untuk melakoni hal serupa. Ketika Pangeran Muhammad bin Nayif mengambil tanggung jawab urusan Suriah dari Pangeran Bandar Februari tahun lalu, pemerintah Saudi kelihatannya mendukung strategi ini. Seperti ditulis David Ignatius dalam surat kabar the Washington Post, "Peran baru Pangeran Muhammad menggambarkan tingginya kekhawatiran Arab Saudi dan negara-negara tetangga lainnya soal kian bertambahnya kekuatan Al-Qaidah dalam kelompok oposisi Suriah."

Kecemasan itu pun terlihat dalam pertemuan antara penasihat keamanan nasional Amerika Susan Rice dan kepala intelijen dari Turki, Qatar, Yordania, dan negara-negara sekitar. Mereka menyimpulkan ISIS dan Jabhat Nusrah telah menjadi pasukan pemberontak paling menonjol di Suriah. Mereka sepakat memotong bantuan bagi dua kelompok ini. Meski dukungan dari Qatar dan Arab Saudi mengendur, tapi sokongan dana dan militer dari pihak non-pemerintah kelihatannya masih terus mengalir ke ISIS dan Jabhat Nusrah.

Para pejabat Gedung Putih menolak membahas soal adanya sejumlah pejabat Saudi membantu ISIS. Mereka menekankan Arab Saudi saat ini mendukung pemberontak moderat di Suriah dan membantu mengoordinir kebijakan kawasan buat menghadapi ancaman ISIS.

Seperti elemen mujahidin, mendapat dukungan keuangan dan militer dari Amerika buat memerangi pasukan Uni Soviet di Afghanistan kemudian berbalik menyerang Barat dengan membentuk Al-Qaidah, ISIS pun telah mencapai tingkat itu dengan sokongan dari Saudi. Kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini telah menjadi ancaman besar bagi Saudi dan kawasan Timur Tengah.

Dengan fulus kiriman Riyadh, ISIS beribu kota di Raqqah, Suriah, menjelma sebagai milisi buas dan bengis. Sejumlah pejabat Saudi, seperti Pangeran Bandar, mungkin berusaha mencapai tujuan-tujuannya di Suriah dengan membangun sebuah monster. Kenyataannya tidak berhasil.

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.





comments powered by Disqus