IQRA

Koneksi Arab Saudi dan ISIS (2)

Benci mengakar terhadap Syiah

ISIS merupakan alat Saudi buat menumpas pengaruh Syiah tengah mengancam tuannya itu.

09 Februari 2015 11:14

Sejauh mana Arab Saudi terlibat membantu ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mencaplok sebagian besar wilayah utara Irak dan menyalakan api konflik Sunni-Syiah di dunia Islam? Suatu hari sebelum serangan 11 September 2001 terjadi, Pangeran Bandar bin Sultan, mantan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat dan kepala dinas intelijen, pernah membuka percakapan tidak menyenangkan dia lakoni dengan kepala dinas rahasia Inggris MI6 Sir Richard Dearlove.

"Waktunya tidak lama lagi di Timur Tengah, Richard, ketika Tuhan benar-benar menolong Syiah," kata Pangeran Bandar. "Lebih dari semiliar kaum Sunni sudah cukup bersabar kepada mereka."

Momen fatal telah diperkirakan Pangeran Bandar itu mungkin kini sudah datang buat banyak penganut Syiah, di mana Arab Saudi memainkan peran penting dengan menyokong jihad anti-Syiah di Irak dan Suriah. Sejak ISIS menguasai Mosul 10 Juni tahun lalu, perempuan dan anak-anak Syiah telah dibunuh di desa-desa di selatan Kirkuk. Pasukan Syiah ditembak mati dan dikubur massal di Tikrit.

ISIS meledakkan tempat-tempat keramat dan masjid-masjid Syiah di Mosul. Sekitar empat ribu rumah milik warga Syiah di Kota Tal Afar diambil paksa sebagai rampasan perang. Menjadi Syiah atau meyakini sekte lainnya terkait Syiah, seperti Alawi, di wilayah Sunni dikuasai ISIS di Irak dan Suriah saat ini sungguh berbahaya seperti menjadi seorang Yahudi saat Nazi Jerman menguasai Eropa pada 1940.

Tidak ada keraguan soal keakuratan pernyataan Pangeran Bandar, sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Saudi sejak 2005 dan kepala dinas intelijen pada 2012-2014, dalam dua tahun ISIS berhasil mengambil alih wilayah-wilayah dikuasai pemberontak Sunni di Irak dan Suriah.

Ketika berbicara awal Juli tahun lalu di the Royal United Service Institute, Dearlove, menjadi bos MI6 selama 1999-2004, menekankan arti dari komentar-komentar Pangeran Bandar. Dia tidak meragukan pasokan dana dalam jumlah besar dan berkelanjutan dari donor-donor individu di Arab Saudi dan Qatar, di mana pemerintah kedua negara menutup mata, telah sangat berperan membikin ISIS mampu mencaplok daerah-daerah mayoritas Sunni di Irak.

"Hal itu tidak mungkin terjadi spontan," ujar Dearlove. Kedengarannya memang realistis sebab kepemimpinan suku dan masyarakat di provinsi-provinsi mayoritas Sunni dikontrol oleh para penyumbang dari Saudi negara-negara Arab superkaya lainnya di Teluk Persia. Para pemimpin suku ini tidak mungkin mau bekerja sama dengan ISIS tanpa izin dari majikan-majikan mereka itu.

Tidak seperti Al-Qaidah, ISIS jauh lebih rapih. Mereka bukan saja menyerang Barat, tapi juga kaum muslim dan non-muslim lainnya. Saban kali mencaplok wilayah Nasrani, ISIS bakal mengambil alih gereja dan mengusir orang-orang Kristen menolak menjadi mualaf. Sekitar seratus juta penganut Syiah di Timur Tengah sekarang tengah menghadapi bencana. Banyak orang Syiah percaya mereka menjadi korban kampanye pembantaian Syiah dipimpin Saudi. "Sebagian besar orang Syiah ketakutan setelah apa yang terjadi di utara Irak," tutur seorang pengamat menolak disebutkan identitasnya.

Bukan sekadar ancaman militer, kaum Syiah melihat kian meluasnya penyebaran paham Wahabi disokong Arab Saudi sebagai sesuatu menakutkan. Ajaran puritan dan tidak toleran Wahabi ini mengecam Syiah dan aliran lain dalam Islam sebagai kaum ingkar.

Dearlove melihat kebencian mengakar Saudi terhadap Syiah berkiblat ke Iran dipicu dua hal. Pertama, Saudi meyakini tidak boleh ada paham lain menolak mandat diberikan Wahabi kepada mereka buat menjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Kedua, ini mungkin lebih signifikan memperparah konflik Sunni-Syiah. Saudi meyakini merekalah Islam sejati dan menarik minat kaum militan untuk ikut memerangi rezim Syiah.

Negara-negara Barat biasa menutupi mengenai hubungan antara Arab Saudi dan Wahabi serta koneksi antara Saudi dan jihad: apakah itu Al-Qaidah bikinan Usamah Bin Ladin atau ISIS di bawah komando Abu Bakar al-Baghdadi. Bukan rahasia lagi soal keterkaitan ini: 15 dari 19 pembajak dalam Teror 11/9 adalah warga Saudi, termasuk Bin Ladin, dan kebanyakan penyumbang dana juga orang Saudi.

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara Al-Qaidah dan ISIS. Ketika Bin Ladin tewas oleh serangan pasukan komando SEAL awal Mei 2011 di Kota Abbottabad, Pakistan, Baghdadi merilis pernyataan belasungkawa. Dia bersumpah ISIS bakal melancarkan seratus serangan buat membalas kematian Bin Ladin.

Pangeran Bandar pernah bilang Teror 11/9 sekadar tusukan peniti bagi Barat. "Dalam jangka menengah itu tidak lebih dari serangkaian tragedi personal," katanya. "Apa yang diinginkan teroris ini adalah menghancurkan Bani Saud dan membikin peta Timur Tengah baru."

Arab Saudi selama ini menjalankan dua kebijakan sekaligus: mendorong jihadis Sunni sebagai alat efektif menghadapi pengaruh Syiah di luar negeri dan menekan kelompok militan di dalam negeri karena dilihat sebagai ancaman bagi rezim Bani Saud.

Simpati Saudi atas militansi anti-Syiah terlihat dalam bocoran dokumen-dokumen resmi Amerika Serikat. Hillary Clinton pada Desember 2009 menulis sebuah kabel rahasia menyebut, "Arab Saudi masih merupakan donatur utama bagi Al-Qaidah, Taliban, Laskar-i-Tayyiba di Pakistan dan kelompok-kelompok teroris lainnya."

Dia bilang sejauh ini Saudi menumpas Al-Qaidah karena sudah mengancam negara mereka bukan lantaran kegiatan mereka di luar negeri. Kebijakan ini mungkin berubaha setelah Pangeran Bandar dicopot dari jabatan kepala intelijen, tapi perubahan itu masih membingungkan dan mungkin sudah terlambat. Seorang pangeran Saudi awal Juli tahun lalu mengumumkan menyetop dana buat stasiun televisi anti-Syiah berkantor pusat di Mesir.

Persoalannya adalah upaya Saudi menciptakan pemilih Sunni anti-Maliki dan anti-Assad sekaligus milisi anti-Al-Qaidah dan kloningannya telah gagal. Dengan berupaya menjatuhkan Maliki dan Assad, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya sama saja telah mengikuti permainan bikinan ISIS.

Barat mungkin harus membayar mahal atas aliansi mereka dengan Arab Saudi dan negara-negara kerajaan di Teluk Persia. Mereka lebih tertarik pada jihadi Sunni ketimbang demokrasi. Alhasil, pihak Barat pun selalu menerapkan standar ganda. Ini terlihat saat Saudi mendukung penumpasan protes damai dilakukan warga mayoritas Syiah di Bahrain pada Maret 2011. Saudi mengirim sekitar 1.500 tentara dan demonstrasi itu berakhir dengan kebrutalan: masjid dan tempat-tempat dikeramatkan kaum Syiah dihancurkan.

Amerika Serikat dan Inggris beralasan keluarga Al-Khalifah berkuasa di Bahrain sedang mendorong ke arah perubahan dan dialog. Namun alasan ini pun terbantahkan sendirinya setelah Bahrain mengusir diplomat Amerika urusan hak asasi manusia Tom Mallinowski lantaran dia bertemu pimpinan partai Syiah Al-Wifaq. "Tindakan pemerintah Bahrain ini bukan soal saya tapi itu telah melecehkan usaha perundingan," ujarnya ketika itu.

Kegagalan pemerintahan Maliki bukan alasan kenapa Irak selalu tidak stabil. Yang membikin Irak kerap goyang adalah revolusi kaum Sunni di Suriah sejak 2011 dan pengambilalihan revolusi itu oleh kelompok jihadis, kerap disponsori oleh donatur dari Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Berkali-kali politisi Irak memperingatkan kalau perang saudara di Suriah tidak segera dihentikan, konflik di Irak akan meletup lagi. "Saya pikir mereka tidak mempercayai kami dan ingin melenyapkan Assad," ujar seorang politikus Irak Juli tahun lalu.

Tentu saja Amerika dan Inggris berpendpat mereka tidak berwenang mengakhir konflik Suriah tapi ini keliru. Dengan menegaskan perundingan damai harus soal lengsernya Assad, tujuan tidak akan pernah tercapai karena Assad masih menguasai sebagian besar kota di Suriah dan pasukannya terus merangsek, Amerika dan Inggris sama saja memastikan perang akan terus berlanjut. Paling diuntungkan adalah ISIS. Mereka akhirnya berhasil mencaplok sebagian wilayah Suriah dan utara Irak.

Arab Saudi telah menciptakan sebuah mosnter dalam waktu cepat tidak terkontrol. Mereka mungkin menyesal telah mendukung revolusi Sunni di Suriah dan Irak karena media sosial kaum jihadis sudah berbicara Bani Saud adalah sasaran ISIS berikutnya.

Kian kuatnya ISIS bukan saja kabar buruk bagi kaum Syiah, tapi juga buat rezim Wahabi Arab Saudi. Sebab ISIS adalah gerakan tidak toleran dan hanya bertujuan untuk perang tanpa akhir.

ISIS merupakan alat Saudi buat menumpas pengaruh Syiah tengah mengancam tuannya itu.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.

Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal, jihadis ISIS asal Indonesia. (shotussalam.co)

Adu status jihadis ISIS

Tidak ada satu pun jihadis Indonesia memiliki akses ke lingkaran dekat Baghdadi.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Salib terjerembab di tanah Arab

"Untuk pertama kali dalam dua ribu tahun, tidak ada layanan gereja di Mosul."

Peta wilayah kekuasaaan ISIS di Suriah dan Irak. Warna merah menunjukkan daerah dikontrol ISIS dan yang berarsir adalah daerah penyokong ISIS. (New York Times)

Kisah pisah Diyaa dan Rana

Diyaa dan Rana terpisah setelah ISIS mencaplok Bakhdida. Keduanya menjadi tawanan di Mosul di tempat berbeda.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR