IQRA

Duka Perang Gaza (1)

Beda sembahan sependeritaan

Peluru kendali Israel tidak membedakan antara muslim dan orang Kristen.

16 Februari 2015 07:02

Perang 50 hari berlangsung Juli-Agustus tahun lalu telah meluluhlantakkan Jalur Gaza sudah berakhir setengah tahun. Namun kenangan pahit ini masih terus membekas dalam ingatan penduduk di sana.

Palagan ketiga - setelah perang Desember 2008-Januari 2009 dan November 2012 - sejak Israel mundur dari Gaza pada 2005 itu menewaskan lebih dari 2.100 warga Gaza dan hanya 73 orang Israel terbunuh.

Amukan Israel juga tidak membedakan lelaki dan perempuan, dewasa dan anak-anak atau bahkan bayi, serta muslim atau minoritas Nasrani. Seperti dialami keluarga Ayyad.

Tanpa peringatan, Sabtu di akhir Juli 2014, sebuah peluru kendali Israel menghantam rumah keluarga Ayyad. Mereka menjadi keluarga minoritas Kristen pertama terkena sasaran gempuran Israel di Jalur Gaza.

Kediaman Ayyad rusak berat. Perabotan rumah berantakan dan barang-barang lainnya, termasuk mainan anak, berserakan. Serangan itu menewaskan Jalila Ayyad. “Kami minoritas Nasrani tidak berkaitan dengan Hamas atau Fatah. Kami menjaga diri dan menjauhi masalah,” kata Fuad Ayyad, keponakan Jalila.

Suami dari Jalila juga bernama Fuad. Dengan kaus oblong putih bernoda darah istri dan putranya, terluka parah, dia menyaksikan keponakannya itu tengah diwawancara.

Upacara pemakaman digelar besoknya di Gereja Yunani Kuno Porphyrus di Kota Gaza. Bukan hanya bagi umat Nasrani, gereja ini juga menjadi tempat berlindung ratusan keluarga muslim dari amukan Israel.

“Gereja ini telah menjadi tuan rumah kami selama dua pekan. Mereka memberikan makanan, pakaian, dan apapun kami perlukan,” kata pengungsi bernama Abu Khalid, 45 tahun. “Kesedihan mereka adalah kesedihan kami, kepedihan mereka juga kepedihan kami.”

Kerumunan pelayat sesenggukan saat menghadiri pemakaman korban tewas pertama dari kelompok Kristen. “Satu lagi manusia, orang tidak bersalah, terbunuh,” ujar Uskup Agung Alexios.

Sepekan sebelumnya kompleks gereja ini juga diserang. Sebanyak 15 makam hancur dan sebuah mobil jenazah milik gereja rusak. “Dunia mesti sadar peluru kendali Israel tidak membedakan Kristen dan muslim,” tutur Abu Khalid.

Ada sekitar 1.500 penganut Nasrani di Gaza. Masjid dan gereja letaknya berdekatan. George Ayyad, kerabat Jalila, menolak pendapat warga Kristen akan meninggalkan Gaza setelah kematian Jalila. “Ini adalah tanah air saya. Kami orang Kristen sudah ada di sini lebih dari seribu tahun dan akan tetap tinggal di sini,” katanya.

Abu Khalid benar. Israel tidak membeda-bedakan sasaran mereka. Muslim atau Kristen sama saja. Mereka memang berbeda sembahan tapi satu penderitaan.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Pasukan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas. (abdurrahim khatib/flash 90)

2014 tahun paling berdarah dalam konflik Palestina-Israel

Sepanjang tahun lalu 2.314 warga Palestina terbunuh dan 17.125 cedera. Sedangkan di pihak Israel cuma 85 orang tewas dan 2.629 luka.

Kerusakan akibat serangan udara Israel ke Jalur Gaza dalam perang 50 hari, Juli-Agustus 2014. (indymedia.ie)

Perangi Hamas demi gas

Hamas menjadi ganjalan utama Israel buat memperoleh hak pengelolaan gas di lepas pantai Gaza.

Avigdor Liberman bersama anggota Partai Yisrael Beitenu, November 2014. (olivier fitoussi/haaretz)

Menjadi lebih Israel

Masa hidup imigran Soviet di Israel lebih panjang sepuluh tahun ketimbang semasa hidup di negara asal mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR