IQRA

Duka Perang Gaza (3)

Pesanan Ahmad isak Narjis

“Jika dua anak saya orang Yahudi, apakah dunia juga akan sebungkam ini?” tanya sang ibu di antara derai tangisnya.

16 Februari 2015 09:23

Suasana di Rumah Sakit Syifa, Kota Gaza, awal Agustus 2014, tenang meski ratusan pengungsi masih berkemping di sana. Di antara mereka terdapat Narjis al-Qayid, 21 tahun. Seiring hari terus berlalu, hatinya kian galau menanti nasib adik kandungnya, Ahmad, 12 tahun.

Tiga hari menjelang lebaran lalu, Ahmad pulang ke rumah bersama kakak perempuannya, Wala, 14 tahun. Keduanya berencana mengambil kasur dan baju baru untuk merayakan lebaran di tempat mereka mengungsi, sebuah sekolah milik UNRWA (badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi Palestina).

Narjis masih terbayang senyum adiknya itu seraya berkata, “Jangan lupa belikan hadiah lebaran buat saya.”

Namun Ahmad dan Wala tidak pernah kembali ke pengungsian, bahkan tidak sempat berlebaran. Sebuah peluru kendali ditembakkan pesawat pengebom nirawak Israel mengenai mereka. Wala tewas seketika. Seorang paramedis memunguti ceceran tubuhnya untuk diangkut ke Rumah Sakit Al-Aqsa di Dair al-Balah.

Namun tubuh Ahmad tidak ada di sana. Keluarga cemas bercampur harap. Mereka menghubungi semua rumah sakit dan petugas penyelamat buat mencari tahu keberadaan Ahmad. Pihak Palang Merah Internasional (ICRC) memberitahu Ahmad masih hidup dan sedang dirawat di Rumah Sakit Sorko, Beersheba, selatan Israel.

Selama 13 hari menunggu tanpa kepastian membuat keluarga resah. Ketika terjadi gencatan senjata, awal Agustus 2014, mereka pulang dan menemukan kantong infus serta perban. Keluarga menyangka tentara Israel telah merawat Ahmad.

Selasa, 5 Agustus 2014, keluarga mendapat kabar korban luka dirawat di Israel telah keluar dari rumah sakit dan dibawa kembali ke Gaza oleh ICRC. Narjis bergegas mengambil hadiah lebaran sudah dia belikan untuk Ahmad. Bersama suaminya, Adham al-Qayid, dan saudara iparnya, Amal as-Sayad, Narjis menumpang taksi dari Jalan Salahuddin di Dair al-Balah menuju Rumah Sakit Syifa.

Setibanya di sana dia berlari ke semua koridor, mengecek seluruh pasien. Tapi Ahmad tidak kelihatan. Bahkan namanya juga tidak ada dalam daftar pasien tengah dirawat. Sang suami berusaha meyakinkan Narjis. Mungkin Israel masih merawat Ahmad dan dia belum dibolehkan pulang hingga kondisinya pulih. Para staf di Rumah Sakit Syifa tidak tahu menahu soal nasib Ahmad.

Narjis benar-benar berharap Ahmad masih hidup. Dia sudah kehilangan Wala. Dia ingin melihat Ahmad tersenyum sehabis menerima hadiah lebaran dia belikan. Kemudian muncul seorang petugas medis berpakaian serba putih lalu bertanya, “Apakah kalian keluarganya Al-Qayid?” Setelah mengiyakan, rombongan Narjis diminta mengikuti lelaki itu. Mereka menuju kamar mayat.

“Semoga Allah memberkahi ruhnya,” kata pria itu seraya membuka pintu besi berwarna putih. Ketika ruang mayat terbuka, Narjis terjatuh lunglai seraya terisak. Dia melangkah maju dan berusaha membangunkan Ahmad. Paras adiknya itu dingin dan kaku. Sebagian rambutnya tercukur habis dan terdapat sejumlah benang bekas jahitan operasi.

Ahmad! Adikku Ahmad,” Narjis berteriak histeris. Dia memukul tembok dengan keras lantas terduduk lemas sambil menangis. Ahmad tewas dengan luka di kepala, dada, dan kedua kakinya.

“Hati saya benar-benar sedih. Dua anak saya dibunuh tanpa alasan. Mereka hanya ingin merayakan lebaran,” tutur ibunya Ahmad. Keluarga ini telah kehilangan rumah mereka hancur digempur Israel.

“Jika dua anak saya orang Yahudi, apakah dunia juga akan sebungkam ini?” tanya sang ibu di antara derai tangisnya.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Pasukan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas. (abdurrahim khatib/flash 90)

2014 tahun paling berdarah dalam konflik Palestina-Israel

Sepanjang tahun lalu 2.314 warga Palestina terbunuh dan 17.125 cedera. Sedangkan di pihak Israel cuma 85 orang tewas dan 2.629 luka.

Kerusakan akibat serangan udara Israel ke Jalur Gaza dalam perang 50 hari, Juli-Agustus 2014. (indymedia.ie)

Perangi Hamas demi gas

Hamas menjadi ganjalan utama Israel buat memperoleh hak pengelolaan gas di lepas pantai Gaza.

Avigdor Liberman bersama anggota Partai Yisrael Beitenu, November 2014. (olivier fitoussi/haaretz)

Menjadi lebih Israel

Masa hidup imigran Soviet di Israel lebih panjang sepuluh tahun ketimbang semasa hidup di negara asal mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Terus berdusta demi selamatkan putera mahkota

Arab Saudi mulanya membantah, lalu mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Kemudian mengklaim pembunuhan Khashoggi direncanakan tapi balik lagi ke pengakuan awal: dia meninggal lantaran berantem.

16 November 2018
Unjuk gigi Khashoggi
06 November 2018
Ajal tujuh menit Jamal
23 Oktober 2018
Tuan rumah minus tradisi
30 Maret 2018

TERSOHOR