IQRA

Duka Perang Gaza (4)

Pusara massal di rumah Abu Jamaa

Serangan udara Israel saat azan magrib berkumandang tewaskan 25 anggota keluarga Abu Jamaa.

16 Februari 2015 10:01

Keluarga besar Abu Jamaa baru saja mengawali berbuka puasa ketika Ahad, pertengahan Juli 2014, satu jet tempur F-16 Israel meledakkan rumah mereka di Khan Yunis, kota terbesar kedua di Jalur Gaza.

Serangan itu berlangsung saat azan mulai berkumandang. Sama sekali tidak ada peringatan. Akibatnya sungguh fatal. Bangunan empat lantai dihuni klan Abu Jamaa luluh lantak dan rebah ke tanah. Perlu 12 jam bagi dua alat pengeruk dan satu buldoser membantu mengeluarkan korban tewas dan cedera dari balik reruntuhan.

Sebanyak 25 anggota keluarga Abu Jamaa terbunuh, termasuk 17 anak, tiga perempuan hamil, dan satu nenek. “Itu bukan peluru kendali dari F-16, itu ledakan sebuah bom nuklir,” kata Husain Abu Jamaa. Dia kehilangan ibu, kakak lelaki, tiga ipar perempuan, dan sejumlah keponakannya.

Saat tragedi itu terjadi, Husain baru saja melangkah keluar pintu rumah untuk salat magrib berjamaah. Serbuan ini membikin satu kaki dan jari Husain patah. Pecahan peluru kendali juga menembus dada dan punggungnya. “Mereka semua sedang duduk mengelilingi meja makan waktu saya meninggalkan mereka,” ujarnya. Dia menangis sesenggukan saban selesai mengucapkan satu kalimat.

Sepuluh dari 25 mayat dilarikan ke Rumah Sakit the European di Khan Yunis untuk menjalani otopsi. Sisanya diangkut ke Rumah Sakit Nasir, tidak jauh dari sana. Prosesnya singkat. Penyebab kematian tidak dipertanyakan lagi.

Korban paling muda adalah Niud. Usianya baru sembilan bulan. Dokter mengambil jenazahnya cukup memakai satu tangan. Dia mengenakan popok, kaus Mini Mouse, dan bando merah jambu saat ajal menjemput.

Di depan pintu kamar mayat Rumah Sakit the European berdiri Riyad Abu Saleh. Lelaki 45 tahun ini sedang menunggu penyerahan jasad putri sulungnya, Fatma, 24 tahun. Suaminya, Yasir Abu Jamaa, bersama tiga anak mereka berusia 6,4, dan 2 tahun ikut terbunuh.

Fatma tewas mengenaskan. Mayatnya terpotong. Setengah di Rumah Sakit the European, sisanya ada di Rumah Sakit Nasir. Kami menarik mayatnya dari balik puing-puing dalam kondisi terpotong-potong,” tutur Abu Saleh.

Serangan ke arah kediaman keluarga Abu Jamaa paling mematikan sejak Israel melancarkan operasi militer bersandi Jaga Perbatasan Selasa, 8 Juli 2014.

Israel berkali-kali menyatakan sudah melakukan pelbagai upaya untuk mengurangi jatuhnya korban sipil. Langkah ini termasuk dengan memberi peringatan melalui selebaran, telepon, atau pesan pendek.

Israel belum menjelaskan kenapa rumah keluarga Abu Jamaa menjadi sasaran. Namun menurut laporan B’Tselem, lembaga pemantau hak asasi manusia asal Israel, target serangan adalah Ahmad Sulaiman Sahmud ikut dalam acara buka puasa di kediaman itu. Dia merupakan anggota Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas.

Muhammad Abu Jamaa, 17 tahun, tampak pilu berdiri di samping reruntuhan rumah keluarga besarnya. “Mereka telah membunuh 25 orang demi mendapatkan satu sasaran,” katanya.

Cerita kebiadaban Israel tidak berhenti di keluarga Abu Jamaa. Di hari yang sama, sesudah makan sahur, peluru kendali Israel merenggut sepuluh nyawa keluarga Siyam di Rafah. Pada 12 Juli, dua peluru kendali F-16 membunuh 18 anggota kerabat Batsh. Enam hari kemudian, delapan anggota keluarga Abu Jarad juga terbunuh.

Masyarakat global beradab tidak berdaya. Mereka mematung seraya menyaksikan korban sipil terus berjatuhan. Israel seolah diberi izin untuk membunuh penduduk Gaza.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Pasukan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas. (abdurrahim khatib/flash 90)

2014 tahun paling berdarah dalam konflik Palestina-Israel

Sepanjang tahun lalu 2.314 warga Palestina terbunuh dan 17.125 cedera. Sedangkan di pihak Israel cuma 85 orang tewas dan 2.629 luka.

Kerusakan akibat serangan udara Israel ke Jalur Gaza dalam perang 50 hari, Juli-Agustus 2014. (indymedia.ie)

Perangi Hamas demi gas

Hamas menjadi ganjalan utama Israel buat memperoleh hak pengelolaan gas di lepas pantai Gaza.

Avigdor Liberman bersama anggota Partai Yisrael Beitenu, November 2014. (olivier fitoussi/haaretz)

Menjadi lebih Israel

Masa hidup imigran Soviet di Israel lebih panjang sepuluh tahun ketimbang semasa hidup di negara asal mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR