IQRA

Operasi Intelijen Israel (1)

Mossad dalangi Teror 11/9

Pelaku pengeboman pertama menara kembar WTC juga agen Mossad.

23 Februari 2015 07:01

Keterlibatan Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) dalam serangan 11 September 2001 meruntuhkan menara kembar World Trade Center di Kota New York, Amerika Serikat, kian terbuka. Insiden itu menewaskan sedikitnya 2.970 orang.

Sebuah artikel dilansir mingguan the American Free Press pada 2009 mengungkapkan sepupu dari pembajak pesawat dalam Teror 11/9, Ziad al-Jarrah, merupakan agen Mossad.

Surat kabar the New York Times pun menyebut sepupu Ziad, Ali al-Jarrah, berkebangsaan Libanon, telah bekerja dengan Mossad dua dekade. Ali mengakui tugasnya memata-matai kelompok-kelompok pejuang Palestina dan Hizbullah di Libanon sejak 1983. “Salah satu sepupu Ziad, Ali al-Jarrah, merupakan satu dari 19 pembajak melakukan serangan 11 September 2001,” tulis koran itu.

Ziad lebih tua 20 tahun ketimbang Ali. Mereka berupaya menutupi kalau saling mengenal untuk merahasiakan penyamaran Ali.Fakta ini memunculkan dugaan Mossad memang sengaja merekrut para pelaku serangan 11 September 2001 dari kalangan muslim.

Keterlibatan Mossad, menurut the New York Times, dapat dilihat dari lima warga Israel menari dan bersorak kegirangan saat menyaksikan tragedi itu. Kelima orang itu sempat ditahan 71 hari sebelum dibebaskan secara rahasia lantaran mereka agen Mossad.

Mengutip dua mantan agen intelijen Amerika CIA, majalah Forward melaporkan setidaknya dua dari lima orang Israel itu adalah anggota pengintai dari Mossad. “Tidak ada pemeriksaan tapi (perintah penghentian penyelidikan) datang dari Gedung Putih,” tulis mingguan itu.

Bekas Perdana Menteri Italia Francesco Cossiga pernah menyatakan keheranannya karena tidak ada satu pun dari tiga ribu orang Israel bekerja di sana masuk pada hari kejadian. Komentarnya itu diperkuat oleh pelbagai laporan menyebutkan dua jam sebelum serangan, Odigo, perusahaan telekomunikasi Israel, menerima peringatan melalui pesan pendek. Odigo lantas meneruskan pesan itu kepada seluruh warga Israel bekerja di menara kembar WTC untuk tidak masuk kerja. Kantor pusat Odigo hanya dua blok dari lokasi kejadian.

Mossad juga diyakini terlibat pengeboman pertama menara kembar WTC pada 1993. Pada 3 Agustus tahun itu, reporter investigasi Robert I Friedman menulis dalam the Village Voice, Ahmad Ajaj, 27 tahun, merupakan agen Mossad. Pria asal Tepi Barat ini didakwa merencanakan pengeboman itu.

Dia ditangkap bersama Ramzi Ahmad Yusuf di Bandar Udara John Fitzgerald Kennedy, New York, 1 September 1992, setelah terbang dari Peshawar, Pakistan. Ajaj membawa paspor palsu Swedia dan buku cara merakit bom. Dia divonis enam bulan penjara di hari serangan, 26 Februari 1993.

Ramzi, salah satu tokoh kunci pada pengeboman pertama WTC, merupakan keponakan Syekh Muhammad dipercayai pemerintah Amerika sebagai dalang serangan 11 September 2001. Jauh sebelum insiden itu, banyak tokoh Islam meyakini Ramzi dan Syekh Muhammad bekerja bagi Mossad.

Menurut Friedman, Ajaj direkrut Mossad saat ditahan di Israel lantaran memalsukan dolar Amerika. “Selama di penjara, Mossad merekrut dia, kata sumber-sumber intelijen Israel,” tulis Friedman. Dia hanya menjalani hukuman setahun dari vonis dua tahun kurungan.

Israel berusaha menampilkan Ajaj sebagai pejuang garis keras Palestina. Tentara Israel menangkap kembali dia dengan tudingan menyelundupkan senjata ke Tepi Barat buat Fatah. Dia lantas dideportasi. Semua ini memang sudah diatur. Mossad menugaskan Ajaj menyusup ke kelompok-kelompok pejuang Palestina dan Hizbullah di luar negeri.

Meski Biro Penyelidik Federal Amerika (FBI) menyatakan Ajaj sebagai teroris intifadah senior dan terkait kelompok Hamas, Kol Hair menulis dia tidak pernah terlibat dalam intifadah. Apalagi menjadi anggota Hamas atau aktif di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Menurut majalah berbahasa Ibrani paling disegani itu, Ajaj hanyalah penjahat biasa.

Logo Mossad. (mysticpolitics.com)

Melawat ke markas Mossad

Mossad hanya memiliki hampir 1.200 pegawai, termasuk sekretaris dan sopir.

Kubur Ben Zygier di kompleks pemakaman Yahudi, Sprongvale, Melbourne, Australia. (deutsh press agency)

Tanda tanya kematian Zygier

Pengkhianatan Zygier menjadi pukulan telak buat Mossad karena menimbulkan keraguan soal integritas orang-orang mereka.

Penjara Ayalon di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (moti milrod/haaretz.com)

Berkhianat terhadap Israel

Apa yang Zygier tidak tahu, orang Hizbullah itu melaporkan pertemuan ini ke Beirut dan mulai menjalankan peran ganda.

Benjamin Zygier, agen Mossad gantung diri dalam selnya di Penjara Ayalon, Tel Aviv, Israel, Desember 2010. (haaretz.com)

Bergabung dengan Mossad

Prestasinya dianggap sedang-sedang saja. Zygier lantas dimutasi dari agen lapangan ke kantor Mossad di Tel Aviv.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR