IQRA

Operasi Intelijen Israel (4)

Kisah terbunuhnya Imad Mughniyah

Pembunuhan terjadi karena informasi kepergiannya bocor.

23 Februari 2015 10:01

Semua bermula dari penangkapan Ali Musa Daqduq, pejabat urusan luar negeri Hizbullah, oleh tentara Irak pada Januari 2009 di Kota Karbala, selatan Irak. Seperti dilaporkan oleh surat kabar Israel Yediot Ahronot, dia lantas diserahkan kepada pasukan Amerika Serikat kemudian menginterogasi Daqduq.

Agen-agen intelijen Amerika CIA mencecar Daqduq dengan pertanyaan seputar komandan tentara Hizbullah Imad Mughniyah. Hasilnya, mereka memperoleh informasi lengkap soal buronan nomor satu  Amerika dan Israel itu, termasuk ciri fisik dan perilakunya, tempat tinggalnya di Ibu Kota Damaskus, Suriah, mobil, dan sejumlah nomor teleponnya.

Sejak itulah rencana pembunuhan terhadap orang nomor dua setelah Hasan Nasrallah itu disiapkan. Semua informasi diperoleh juga diberikan kepada Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel).

Amerika dan negara Zionis itu memang sangat berkepentingan terhadap Mughniyah dihargai US$ 5 juta dalam daftar teroris versi Amerika. Dia juga masuk incaran Uni Eropa. Mughniyah diyakini terlibat dalam pengeboman barak marinir Amerika dan Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 1983, menewaskan lebih dari 350 orang. Dia terkait pula dalam penculikan sejumlah warga Amerika di negara itu. Dia juga menyerang Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Buenos Aires, Argentina.

Lelaki kelahiran Libanon ini merupakan tokoh intelijen senior dan juga pendiri Hizbullah. Nama samarannya Haji Radwan. Dia sering disebut Abu Dukhan karena sulit ditangkap. “Dia adalah salah satu teroris paling berbahaya pernah ada di muka bumi,” kata Danny Yatom, mantan direktur Mossad.

Nasib nahas menjemput Mughniyah pada 12 Februari 2008 lantaran satu kesalahan besar. Rencana menghadiri perayaan ulang tahun revolusi Islam Iran ke-29 di rumah duta besar baru Iran untuk Suriah bocor ke sejumlah orang. Satu tim Mossad mengintai kediamannya sehari sebelum pembunuhan terjadi. Termasuk menyadap seluruh saluran teleponnya. Tim itu masuk ke Suriah dari Kurdistan, Irak, berpencar dengan tiga mobil.

Seperti biasa, Mughniyah pergi sendirian tanpa kawalan anak buahnya. Dia tidak sadar dikuntit. Ketika dia dalam resepsi, tim Mossad masuk ke dalam mobil Mitsubishi Pajero warna perak miliknya. Mereka menukar bantalan kepala di jok sopir. Bantalan baru itu bermuatan bahan peledak.

Tepat pukul sebelas malam, Mughniyah masuk mobil hendak pulang. Saat itulah bom diledakkan dengan alat pengendali jarak jauh. Pajero itu hancur berantakan dan Mughniyah wafat pada usia 46 tahun.

Setelah melakukan investigasi, surat kabar Al-Akhbar mendapat cerita versi lain soal terbunuhnya Mughniyah. Sebagai orang bertanggung jawab atas kesiapan Hizbullah dan persenjataannya, Mughniyah mesti kerap bolak-balik Libanon-Suriah. Dia memilih Damaskus sebagai kantor utamanya.

Seperti tokoh-tokoh perlawanan anti-Israel, dia meyakini Damaskus adalah tempat teraman dari jangkauan Israel. Berdasarkan sejumlah fakta, muncul asumsi Israel tidak akan pernah berani melancarkan operasi langsung di Suriah. Alhasil, orang-orang menjadi incaran Tel Aviv lebih fleksibel bergerak di Damaskus.

Selasa malam, 12 Februari 2008, Mughniyah baru saja selesai bertemu para pemimpin senior Palestina di Damaskus. Mereka membahas bagaimana meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok pejuang Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

Sekitar jam 22:15 malam, Mughniyah meninggalkan apartemennya di kawasan Kfar Sousa, Damaskus. Dia turun sendirian dari gedung apartemen itu dan berjalan menuju mobilnya, diparkir di lahan terbuka seluas 800 meter persegi.

Suara ledakan hebat terdengar sekitar pukul 22:20. Beberapa orang bergegas menuju lokasi. Menurut para saksi, ketika Mughniyah melangkah keluar, sebuah Mitsubishi Pajero keluaran 2006 berwarna perak, diparkir sembilan meter dari gerbang, meledak. Mughniyah tewas sendirian.

Setelah rapat, pimpinan Hizbullah memutuskan segera membawa jenazah Mughniyah ke Ibu Kota Beirut, Libanon. Keluarganya diberitahu dan kematiannya diumumkan.

Hizbullah mengirim sebuah tim khusus ke lokasi ledakan. Setelah menyelidiki, kelompok dipimpin Hasan Nasrallah ini yakin Israel mendalangi pembunuhan Mughniyah.

Mughniyah memang sering mengunjungi Suriah. Dia memilih Kfar Sousa sebagai tempat tinggal sekaligus kantornya. Dia lebih sering berada di Suriah ketimbang Libanon.

Menurut sejumlah sumber, Mossad, saat itu dipimpin Meir Dagan, merencanakan misi pemmbunuhan Mughniyah hampir sebulan. Mereka menyewa agen-agen lokal untuk menggambar secara rinci Kfar Sousa, termasuk tiap jalan dan dipusatkan pada blok di mana misi bakal dilaksanakan.

Salah satu informasi diperoleh, wilayah Kfar Sousa berbentuk persegi panjang. Lapangan dijadikan tempat parkir tidak memiliki pengamanan, juga tidak ada kamera pengintai. Pintu keluar dari gedung apartemen dihuni Mughniyah hanya ada dua, satu di lantai dasar dan yang lain di lantai bawah tanah.

Mossad merekrut seorang ekspatriat asal Suriah kerap pulang pergi ke negaranya. Mereka meminta dia ke Damaskus untuk menyediakan kebutuhan logistik buat operasi rahasia itu. Sang agen menyewa sebuah vila buat menyembunyikan mobil dilengkapi bahan peledak.

Vila itu berlokasi di kawasan elite Assad Villages, pinggiran Damaskus. Letaknya di barat daya Kfar Sousa. Dia meminta jalan masuk mobil dan pejalan kaki ke vila itu dipisahkan menggunakan pagar besi.

Agen itu lantas kembali ke Suriah dan membeli Mitsubishi Pajero 4x4. Namun setelah mengetahui Mughniyah sering memakai mobil serupa, tim pembunuh Mossad menggunakan Mitsubishi Lancer, mobil paling banyak berseliweran di Suriah.

Persiapan operasi berjalan sekitar enam pekan, dimulai awal Januari 2008.

Pajero itu sudah terparkir di vila, lengkap dengan bahan peledak di pintu bagasi. Untuk menambah daya hancur, bom itu ditambah butiran-butiran besi.

Selasa sore, 12 Februari 2008. seorang anggota tim pembunuh mengendarai Pajero dan memarkirkan mobil itu di luar bangunan apartemen tempat tinggal Mughniyah. Menjelang malam, tim beranggotakan empat orang keluar dari Lancer. Setelah memastikan para buruh meninggalkan gedung tengah mereka bangun, tiga orang dari mereka bergegas naik ke atas untuk memantau tempat parkir, sasaran, dan Pajero berisi bahan peledak. Gedung sedang dikerjakan ini bersebelahan dengan bangunan apartemen Mughniyah.

Mereka memilih mengawasi dari dalam apartemen di lantai enam. Satu orang memantau menggunakan teropong, satu lagi bertugas menekan detonator, dan seorang lagi berjaga-jaga memberi perlindungan. Anggota keempat menunggu di pintu keluar lahan parkir terletak di belakang gedung.

Tepat sebelum pukul 22:20 malam, Mughniyah keluar dari dalam bangunan apartemen. Ketika mendekati Pajero berisi bom, detonator ditekan. Bumm...Mughniyah tewas di tempat.

Tim eksekusi bergegas kabur dengan Lancer menuju jalan tol Mazzih. Di sana mereka berganti mobil sudah diparkir di sisi jalan. Ketika menghadapi masalah, mereka berganti mobil lagi menuju arah tidak diketahui.

Ulama senior Libanon Muhammad Husain Fadlallah menyatakan Hizbulah kehilangan salah satu tiangnya. Nasrallah pun mengumumkan perang terbuka terhadap Israel. Namun hingga kini kematian Mughniyah belum terbalas.

Kubur Ben Zygier di kompleks pemakaman Yahudi, Sprongvale, Melbourne, Australia. (deutsh press agency)

Tanda tanya kematian Zygier

Pengkhianatan Zygier menjadi pukulan telak buat Mossad karena menimbulkan keraguan soal integritas orang-orang mereka.

Penjara Ayalon di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (moti milrod/haaretz.com)

Berkhianat terhadap Israel

Apa yang Zygier tidak tahu, orang Hizbullah itu melaporkan pertemuan ini ke Beirut dan mulai menjalankan peran ganda.

Benjamin Zygier, agen Mossad gantung diri dalam selnya di Penjara Ayalon, Tel Aviv, Israel, Desember 2010. (haaretz.com)

Bergabung dengan Mossad

Prestasinya dianggap sedang-sedang saja. Zygier lantas dimutasi dari agen lapangan ke kantor Mossad di Tel Aviv.

Benjamin Zygier, agen Mossad gantung diri dalam selnya di Penjara Ayalon, Tel Aviv, Israel, Desember 2010. (endthelie.com)

Mata-mata dalam Sel 15

Israel menetapkan kasus kematian Benjamin Zygier sebagai rahasia negara sehingga media dilarang mengungkap.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR