IQRA

Operasi Intelijen Israel (5)

Misi luruh Mabhuh

Misi Mossad membunuh Mahmud al-Mabhuh mudah terungkap lantaran ceroboh.

23 Februari 2015 12:25

Dunia dikejutkan oleh pembunuhan Mahmud al-Mabhuh, salah satu pendiri Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas). Dia tewas di tempatnya menginap, kamar 230 Hotel Al-Bustan Rotana, Kota Dubai, Uni Emirat Arab, 19 Januari 2010.

Hamas langsung menunjuk Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) sebagai dalangnya. Sekitar sepekan setelah Mabhuh terbunuh, seorang pejabat senior Hamas di Ibu Kota Damaskus, Suriah, menghubungi Kepala Kepolisian Dubai Letnan Jenderal Dhahi Khalfan Tamim untuk memberitahu korban adalah orang Hamas.

Tamim malah memaki dan menuduh Hamas telah menjadikan Dubai medan tempur bagi spionase dan terorisme. “Kemasi diri, rekening bank, senjata, dan paspor palsu Anda, serta keluar dari negara saya,” kata Tamim seperti dikutip sejumlah sumber intelijen Eropa. Namun setelah mempelajari rekaman kamera CCTV dan data orang keluar masuk Dubai sebelum dan sesudah insiden itu, Kepolisian Dubai berkesimpulan Mabhuh dibunuh oleh Mossad.

Laporan awal polisi mnyebutkan para pembunuh lebih dulu menyuntikkan racun ke Mabhuh, baru dibekap dengan bantal. Racun disuntikkan kemungkinan besar succinylcholine. Dalam dosis besar dapat mengakibatkan lumpuh total, napas tersengal, dan berujung pada kematian. Menurut para ahli, racun ini baru bisa diketahui setelah korban telah lama terbunuh.

Staf laboratorium forensik Kepolisian Dubai, Said Hamiri, mengungkapkan para penyidik menemukan percikan darah di bantal, hidung, wajah, dan leher Mabhuh. Terdapat pula bekas suntikan di paha kanannya. Kepala tempat tidur juga rusak. Semua ini menunjukkan lelaki kelahiran kamp Jabaliyah, Jalur Gaza, pada 1960 ini melawan.

Seperti misi-misi sebelumnya, Operasi Dubai ini dilakoni oleh anggota Caesarea, pasukan elite dalam Mossad. Caesarea selalu diterjunkan dalam misi-misi kritis dan berbahaya, seperti pembunuhan, sabotase, atau menyusup ke dalam instalasi sangat ketat pengamanannya.

Anggota Caesarea jarang berhubungan dengan agen Mossad lainnya. Kantor mereka pun terpisah dari markas Mossad berada di utara Ibu Kota Tel Aviv. Mereka menjalani latihan intensif di fasilitas khusus tidak boleh dimasuki sembarang orang.

Seluruh anggota Caesarea dilarang menggunakan nama asli mereka, termasuk dalam pembicaraan pribadi, kecuali dengan istri atau suami mereka. Keluarga dan orang terdekat lainnya bahkan tidak mengetahui pekerjaan mereka sesungguhnya. “Jika Mossad adalah kuil komunitas intelijen Israel, Caesarea adalah paling suci,” kata seorang anggota Caesarea.

Mabhuh telah masuk daftar incaran Mossad sejak 1989 setelah dia bersama Muhammad Nasir alias Abu Sahib menculik dan membunuh dua tentara Israel di Gurun Negev, selatan negara Zionis itu. “Kami menyamar sebagai Yahudi religius dengan kippah di kepala kami seperti rabbi,” ujar Mabhuh dalam sebuah wawancara khusus dengan stasiun televisi Al-Jazeera.

Nasir akhirnya bersedia menyerahkan sketsa peta pembunuhan ditukar dengan penghapusan namanya dari daftar sasaran Mossad. Sketsa itulah membuat mayat satunya lagi baru bisa ditemukan tujuh tahun kemudian. Bukan sekadar balas dendam atas kematian dua serdadunya, Israel menilai Mabhuh orang paling berbahaya dan harus dilenyapkan.

Mabhuh diberi nama sandi “Layar Plasma” oleh Mossad, berperan membiayai dan merencanakan pengeboman bunuh diri di negara Yahudi itu. Dia juga menyelundupkan roket dan senjata canggih ke Jalur Gaza sejak permulaan intifadah kedua pada 2000. Dia juga dikenal dekat dengan Pasukan Quds, bagian dari Garda Revolusi Iran mendukung Hamas.

Dalam Mossad, perintah membunuh seseorang dikenal dengan kode “Halaman Merah”. Perintah ini tidak memiliki batas waktu hingga dinyatakan dibatalkan. Halaman Merah ini ditandatangani oleh perdana menteri dan menteri pertahanan Israel.

Mossad pernah dua kali gagal menghabisi Mabhuh, pertama lewat bom mobil di Ibu Kota Beirut, Libanon. Terakhir dengan cara diracun di Dubai, yakni pada November 2009. Tapi tidak diketahui, apakah racun itu ditaruh dalam minuman atau makanan Mabhuh. Yang pasti, dia koma sebulan. Setelah sembuh, ayah empat anak ini tidak pernah sadar sudah diracuni oleh agen Mossad.

Agar tidak terulang, tim sama lima kali bolak-balik Dubai dalam sembilan bulan untuk mempersiapkan misi rahasia ini. Mossad juga mengawasi Mabhuh melalui surat elektronik dan kegiatan online dia lakukan. Penyadapan itu dilakoni setelah mereka membayar pengawal Mabhuh untuk memasukkan virus Kuda Troya ke komputer jinjing Mabhuh. Namun Hamas membantah ada anggotanya berkhianat.

Mabhuh sering bepergian sendiri dengan identitas palsu dan mempunyai lima paspor. Dalam paspor Palestina miliknya, tertulis nama Mahmud Abdurrauf Muhammad, dengan pekerjaan pedagang. Mossad memilih Dubai sebagai lokasi membunuh Mabhuh karena dianggap lebih mudah ketimbang negara-negara lain kerap dia kunjungi. Mabhuh menetap di Suriah secara rutin bepergian ke Iran, Sudan, dan Cina. Mabhuh sudah empat kali ke Dubai, yakni pada Februari, Maret, Juni, dan November 2009.

Dalam kamus Mossad, ada dua jenis negara tempat beroperasi, yakni negara pangkalan dan negara sasaran. Negara pangkalan berada di negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Di lokasi ini, operasi lebih mudah dijalankan dan banyak jalan keluar dalam keadaan darurat. Tempat berlindung pamungkas adalah Kedutaan Besar Israel ada di negara itu. Jika ada anggota Mossad ditangkap di negara pangkalan, bisa dibebaskan melalui perundingan dengan dinas intelijen setempat.

Negara sasaran adalah negara-negara musuh kebanyakan negara-negara Arab. Di sini, risiko menjalankan misi sangat berbahaya. Tidak mudah untuk kabur atau mencari kedutaan asing mau melindungi. Bila tertangkap, bisa disiksa, dipenjara, atau bahkan dibunuh. “Dalam tipe pembunuhan macam ini, ketika target tidak berada di negaranya dan melakukan kegiatan rutin, dialah menentukan bagaimana dan kapan dia akan dibunuh,” kata seorang veteran Caesarea.

Menjelang maut menjemput Mahmud al-Mabhuh

Senin, 18 Januari 2010

06:45 Rombongan awal Caesarea tiba di Bandar Udara Internasional Dubai dan berkeliling kota menunggu perintah selanjutnya. Dalam 19 jam, 27 agen Mossad dengan identitas palsu, kecuali Michael Bodenheimer berpaspor Jerman, sampai di sana dari Zurich (Swiss), Roma (Italia), Paris (Prancis), dan Frankfurt (Jerman).

Selasa, 19 Januari 2010

Tiga anggota tim dengan identitas palsu: Gail Folliard, Kevin Daveron, Peter Elvinger, akan memimpin misi, mendarat di Dubai sebelum subuh. Mereka lantas tinggal di hotel terpisah. Kebanyakan anggota tim memakai kartu kredit disebut Payoneer. Hanya Folliard dan Daveron membayar hotel secara tunai. Mereka mengetahui Mabhuh akan sampai di Dubai hari ini pukul 15:00.

10:30 Peter Elvinger dan lima anggota tim jalan-jalan di sebuah pusat belanja.

11:30 Mereka berpencar.

13:30 Kevin Daveron meninggalkan kamarnya menuju lokasi pertemuan telah ditentukan, yakni lobi hotel lain tidak diinapi oleh anggota tim. Dia berjalan melalui lobi hotel “netral” dan langsung menuju kamar mandi. Setelah keluar, dia tidak lagi botak dan memakai kaca mata. Gail Folliard juga keluar dari kamarnya menuju tempat rapat dan masuk ke kamar mandi dipakai Daveron. Dia muncul dengan rambut palsu. Dari seluruh anggota tim, hanya Daveron dan Folliard berganti penampilan.

14:30 Regu pengintai ditempatkan di pintu masuk tiap hotel pernah diinapi Mabhuh. Sebuah tim juga berjaga di bandar udara untuk membuntuti Mabhuh dalam perjalanan ke pusat kota.

15:25 Dua pria agen Mossad berdiri di lobi Hotel Al-Bustan Rotana, dengan pakaian tenis sambil memegang raket. Mereka melapor ke tim komando sasaran mereka telah tiba di hotel dan sedang mendaftar di resepsionis. Kabar itu segera disebar ke seluruh anggota tim. Mereka lantas menuju sebuah pusat belanja dekat Hotel Al-Bustan untuk rapat.

Mabhuh lantas masuk lift naik ke lantai dua. Dua agen Mossad itu segera menyusul dan berada di lift sama. Dalam jarak aman, salah satu dari mereka mengikuti Mabhuh berjalan di koridor menuju kamarnya nomor 230.

16:00 Tim komando, tanpa Elvinger, bergegas ke Hotel Al-Bustan, sedangkan Elvinger naik taksi ke hotel lain. Dari ruang bisnis, dia menelepon Hotel Al-Bustan memesan kamar 237 untuk semalam berada di depan kamar Mabhuh. Dia juga memesan tiket penerbangan malam menuju Zurich lewat Qatar.

Dari lobi, tim pengintai melaporkan Mabhuh keluar ke pusat belanja dekat hotel, tempat seluruh anggota tim Mossad bertemu sebelumnya.

Menurut sumber-sumber di intelijen Israel, di sana Mabhuh menemui seorang bankir selama ini membantu dia mendapatkan pelbagai senjata. Dia juga bertemu kontaknya dari Garda Revolusi Iran untuk membahas pengiriman dua kapal berisi senjata pesanan Hamas bulan depan.

16:27 Peter Elvinger memasuki lobi Hotel Al-Bustan membawa sebuah koper kecil. Dia berjalan menuju Kevin Daveron sedang duduk. Dia lantas meletakkan koper itu di samping Daveron dan ke meja resepsionis untuk mendaftar serta mengambil kunci kamar 237 telah dipesan. Dia kembali ke Daveron dan menyerahkan kunci kamar 237 lalu lantas meninggalkan hotel tanpa membawa kopernya.

Peran Elvinger dalam operasi itu berakhir. Pukul 19:30 dia sudah di bandar udara untuk meninggalkan Dubai. Daveron dan Folliard memimpin misi hingga selesai.

16:45 Daveron masuk lift membawa koper diberikan Elvinger menuju lantai dua. Beberapa menit berselang, Folliard tiba di Hotel Al-Bustan dan langsung ke kamar 237.

17:36 Satu anggota tim masuk ke lobi Hotel Al-Bustan mengenakan topi baseball. Beberapa menit kemudian dia keluar dari lift dengan rambut palsu masuk ke kamar 237.

18:30 Empat anggota tim tiba di Hotel Al-Bustan dan langsung ke kamar 237. Dua dari empat pria itu membawa tas dan semuanya memakai topi baseball menutupi sebagian wajah mereka.

18:45 Tim pengintai di lobi Hotel Al-Bustan diganti. Mereka telah empat jam duduk di sana dengan pakaian tenis dan raket di tangan.

20:00 Tujuh anggota tim berkumpul di kamar 237 mulai bergerak. Daveron dan Folliard berjaga di koridor. Satu lainnya membuka kode kunci elektonik kamar 230 dihuni Mabhuh. Mereka sempat merasa terganggu oleh kehadiran seorang tamu hotel baru keluar lift di lantai dua. Daveron dengan cepat menghampiri dia dan menghalangi pandangannya ke arah satu anggota tim sedang membuka pintu kamar 230.

Dengan ogah-ogahan, dia mengajak tamu itu berbincang. Ketika tamu itu pergi, pintu kamar 230 berhasil dibuka. Daveron dan Folliard kembali ke kamar 237 dan lima anggota tim lainnya memasuki kamar 230 menunggu Mabhuh.

20:24 Mabhuh tiba di hotel dan langsung ke kamarnya. Dia sempat berpapasan dengan Daveron berdiri di luar lift dan Folliard di koridor. Namun dia tidak curiga. Segera setelah dia masuk kamar, Daveron dan Folliard berjaga-jaga.

20:44 Lima anggota tim keluar dari kamar Mabhuh. Mereka sempat berkumpul sebentar di kamar 237, kemungkinan besar membahas operasi telah dijalankan dan melapor ke pusat komando di luar Dubai.

Mereka lantas keluar dari kamar 237. Folliard bergandengan dengan satu anggota tim. Daveron paling terakhir meninggalkan kamar itu. Empat jam kemudian, kebanyakan dari anggota tim sudah keluar dari Dubai.

Rabu, 20 Januari 2010

13:30 Seorang petugas hotel menemukan mayat Mabhuh dalam kamarnya. Hamas langsung mengirim seorang anak buah Mabhuh untuk memastikan kejadian itu.

Terbunuhnya Mahmud al-Mabhuh menambah panjang daftar keberhasilan Mossad dipimpin Meir Dagan sejak 2002. Dia dikenal brutal dan kejam. “Dagan seorang ahli unik,” kata Perdana Menteri Ariel Sharon dalam sebuah rapat tertutup.

Orang-orang Mossad mengenal Dagan sebagai lelaki agresif dan kasar dalam berbicara. Dia tidak mau menerima pendapat orang lain. “Dia tidak dapat menerima kritik atau bahkan pandangan lain. Dia memperlakukan penentangnya seperti musuh,” ujar seorang mantan anggota Mossad. Dalam beberapa kesempatan, Dagan mengatakan tidak ada seorang pun dalam Mossad pantas menggantikan dirinya.

Dagan memiliki satu ritual saban kali memimpin rapat persiapan satu misi berbahaya. Dalam pertemuan itu, dia akan menunjuk sebuah foto besar tergantung di tembok ruang kerjanya. Foto seorang pria Yahudi dengan wajah bermisai dan mengenakan syal sembahyang. Lelaki itu berlutut di tanah dengan kedua tangannya mengepal ke udara. Kedua matanya menatap tajam ke depan. Di sampingnya berdiri dua serdadu SS Jerman, seorang membawa tongkat pemukul dan satu lagi memegang pistol.

“Orang ini adalah kakek saya, Dov Ehrlich,” kata Dagan. Dia menjelaskan setelah dipotret pada 5 Oktober 1942, Nazi membunuh kakek bersama keluarganya dan ribuan warga Yahudi di Lukow, kota kecil di Polandia.

“Perhatikan foto ini,” dia menegaskan kepada tiap tim Caesarea akan menjalan misi. “Ini harus memandu kita bertindak atas nama negara Israel. Tiap kali memandang foto ini, saya bersumpah akan melakukan apa saja untuk memastikan yang seperti ini tidak pernah terjadi lagi.”

Meski dianggap berhasil oleh Israel, namun misi pembunuhan Mabhuh juga banyak cacat. Karena itu mudah diungkap. Menurut Kepala Kepolisian Dubai Letnan Jenderal Dhahi Khalfan Tamim, kesalahan terbesar dibuat Mossad adalah menempatkan dua agennya di lobi Hotel Al-Bustan selama empat jam. Dengan pakaian tenis dan raket di tangan, penyamaran itu mencurigakan sebab terkesan aneh.

Mossad pun seolah beroperasi di negara pangkalan karena berani memakai kartu kredit Payoneer biasa digunakan di Amerika Serikat. Pemakaian kartu debet prabayar secara internasional ini amat jarang sehingga mudah dilacak. Bahkan beberapa di antara mereka memakai jenis serupa dikeluarkan satu perusahaan salah seorang komisaris utamanya adalah Yuval Tal, bekas anggota pasukan komando Israel.

Kesalahan lainnya, mereka berkomunikasi dengan satu daftar nomor telepon Austria ditulis di kertas seukuran telapak tangan. Siapa saja anggota tim ingin dihubungi, baik di hotel, jalan, atau di Israel, cukup menekan salah satu nomor dalam daftar itu. Karena nomornya sedikit, maka terdeteksi ada beberapa nomor digunakan berkali-kali.

Kealpaan serius lainnya adalah memakai paspor palsu negara lain. Mereka menggunakan identitas orang lain memang benar-benar ada.

Persoalan ini selalu dilematis bagi Mossad. Mereka tidak bisa menggunakan paspor palsu Israel jika sasaran mereka berada di negara tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Penggunaan dokumen palsu negara lain kerap menimbulkan ketegangan dengan negara itu.

Dalam Operasi Dubai, Mossad memakai 12 paspor palsu Inggris, Irlandia (6), Australia (3), dan Prancis (4). “Zaman dulu mudah bagi kami memakai identitas baru karena belum ada Internet dan komputer. Kami biasa mengatakan mudah memalsukan paspor dari sebuah negara (sebenarnya) tidak ada,” kata Rafi Eitan, agen Mossad legendaris kini berusia 80-an tahun.

Dr Fadi Muhammad al-Batasy, anggota Hamas diduga dibunuh Mossad di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Screengrab)

Dua pembunuh anggota Hamas di Malaysia pakai paspor Serbia dan Montenegro

Polisi telah menemukan mobil dan senjata digunakan kedua pelaku.

Jenazah Dr Fadi Muhammad al-Batasy diterima Hamas dengan upacara kemiliteran di perbatasan Rafah, Jalur Gaza, 26 April 2018. Korban diyakini dibunuh oleh Mossad di Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Albalad.co/Istimewa)

Jenazah anggota Hamas dibunuh Mossad di Malaysia tiba di Gaza

Jenazah Fadi al-Batasy mungkin dimakamkan besok sehabis salat Jumat.

Kepolisian Malaysia pada 25 April 2018 merilis foto dua tersangka pembunuh anggota Hamas, Dr Fadi Muhammad al-Batasy. Dia ditembak mati di Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Malaysian police)

Polisi Malaysia rilis foto dua tersangka pembunuh anggota Hamas

Hamas dan keluarga korban menuding Mossad mendalangi pembunuhan Fadi al-Batasy.

Dr Fadi Muhammad al-Batasy, anggota Hamas diduga dibunuh Mossad di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Screengrab)

Malaysia curigai intel asing terlibat pembunuhan anggota Hamas di Kuala Lumpur

Lieberman menilai Batasy korban perselisihan internal Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Terus berdusta demi selamatkan putera mahkota

Arab Saudi mulanya membantah, lalu mengakui Khashoggi tewas karena berkelahi. Kemudian mengklaim pembunuhan Khashoggi direncanakan tapi balik lagi ke pengakuan awal: dia meninggal lantaran berantem.

16 November 2018
Unjuk gigi Khashoggi
06 November 2018
Ajal tujuh menit Jamal
23 Oktober 2018
Tuan rumah minus tradisi
30 Maret 2018

TERSOHOR