IQRA

Perang Dingin Saudi-Iran (1)

Perang Dingin dalam Islam

Arab Saudi dan Iran telah menjadikan agama sebagai alat penting dari kekuasaan.

25 Mei 2016 23:34

Belum pernah sebelumnya presiden Amerika Serikat disambut dingin saat tiba di Arab Saudi. Namun sambutan kurang menyenangkan itu diterima Presiden Obama ketika mendarat di Ibu Kota Riyadh bulan lalu. Obama berusaha menutupi rasa kecewanya dengan tetap tersenyum.

Bukan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menunggu di bawah tangga pesawat Air Force One. Obama cuma ditemui Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar as-Saud. Tidak ada upacara kenegaraan. Stasiun televisi pemerintah pun menolak menyiarkan langsung kedatangan Presiden Obama itu.

Padahal sebelumnya di hari sama, Raja Salman dan para pejabat senior negara Kabah itu menyambut lima pemimpin negara Arab Teluk lainnya, tiba untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Sambutan dingin bagi Obama itu bukan sekadar menjadi lelucon di kalangan diplomatik. Pesannya jelas: Arab Saudi tidak senang dengan kebijakan Amerika  dan mereka tidak takut untuk menunjukkan perasaan itu.

Kejadian itu menggambarkan pula sudah terjadi pergeseran geopolitik dan kian meningkatnya konflik di seantero Timur Tengah. Konflik ini telah menjelma sebagai Perang Dingin antara Arab Saudi dan Iran, dua musuh bebuyutan tengah bertarung memperebutkan supremasi di kawasan itu.

Timur Tengah memang tengah berubah secara dramatis. Teheran dan Riyadh berada di belakang setidaknya salah satu pihak terlibat dalam konflik. Negara Kabah, lokasi di mana kota suci Makkah dan Madinah berada, memandang dirinya sebagai rumah bagi Islam beraliran Sunni meski berpaham Wahabi. Sedangkan Iran mengklaim sebagai pemimpin Syiah, penganutnya sekitar 13 persen dari total kaum muslim di seluruh dunia. Kedua rezim ini telah menjadikan agama sebagai alat penting dari kekuasaan.

Perang saudara paling berdarah saat ini di Suriah, telah memasuki tahun keenam dan sudah membunuh lebih dari 25o ribu orang, juga konflik di Irak dan Yaman, terjadi terutama karena alasan sektarian: Sunni melawan Syiah. Suasana damai di Libanon dan Bahrain juga bisa bergolak kapan saja atas nama sektarian.

Semua perang dan konflik sektarian ini telah memicu munculnya gelombang pengungsi: lebih dari enam juta orang dari Suriah dan Irak, serta hampir tiga juta pengungsi asal Yaman. Dari situasi porak poranda di Timur Tengah itu, muncul monster bernama ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah meneror Brussels, Paris, dan Istanbul. Ironisnya, milisi ini memandang Iran dan Arab Saudi sebagai musuh.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah ini juga terkait Amerika dan perubahan kebijakannya. Setelah hampir tiga dasawarsa bermusuhan dengan Iran, Presiden Amerika Barack Obama telah mulai berdialog dengan negara Mullah itu dan mencapai kesepakatan penghentian program nuklir Iran Juli tahun lalu. Puncaknya, sanksi ekonomi atas Iran dicabut Januari tahun ini sehingga negara itu bisa mulai berbisnis lagi dengan negara-negara Barat.   

Di saat sama, Amerika ingin menarik diri dari konflik rumit telah mendekap Timur Tengah berpuluh-puluh tahun. Perkembangan di sana juga akibat dari kecenderungan ini.

Iran, baru saja keluar dari isolasi, ingin meraih kembali posisinya sebagai negara penting di Timur Tengah. Kian banyak negara di kawasan ini berada di bawah kontrol Iran, makin besar pula tekanan dilakukan Arab Saudi. Sejauh ini, Iran telah berhasil membikin poros Teheran-Damaskus-Beirut-Baghdad.

Perang Dingin antara Arab Saudi versus Iran ini telah mempengaruhi seluruh dunia. Harga minyak jatuh salah satu contohnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman ingin Saudi dan Iran menjalin hubungan baik dan istimewa

Bin Salman beberapa tahun lalu sesumbar ingin menciptakan perang di Iran. Sebaliknya, perang dilancarkan negara Kabah itu terhadap milisi Al-Hutiyun di Yaman sokongan Iran telah menyebabkan Saudi keteteran.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR