IQRA

Hubungan Rahasia Khomeini-Amerika (1)

Dua wajah Khomeini

Imam Khomeini selama ini digambarkan garang menentang Amerika, tapi dokumen rahasia dibocorkan BBC berkata lain.

13 Juni 2016 11:55

Pada 27 Januari 1979, pendiri Republik Islam Iran Ayatullah Khomeini, suka menyebut Amerika Serikat sebagai "Setan Besar", mengirim sebuah pesan rahasia kepada Washington.

Dari tempat pengasingannya di luar Ibu Kota Paris, Prancis, Khomeini menawarkan pemerintahan Jimmy Carter sebuah kesepakatan: "Para pentolan militer Iran menaati Anda, tapi rakyat Iran mengikuti perintah saya," kata Khomeini, seperti dilansir stasiun televisi BBC berbahasa Persia.

Jika Presiden Carter bisa menggunakan pengaruhnya terhadap militer Iran buat memuluskan jalan Khomeini mengambil alih kekuasaan, Khomeini bilang dia akan menenangkan rakyat Iran. Stabilitas dapat dikembalikan, kepentingan dan warga negara Amerika di negara Mullah itu bakal dlilindungi.

Waktu itu situasi di Iran tengah kacau. Pnegunjuk rasa bentrok dengan tentara, toko-toko tutup, layanan publik mandek. Mogok buruh menghentikan pasokan minyak sehingga mengganggu kepentingan kunci Barat.

Atas bujukan Carter, pemimpin Iran Muhammad Reza Syah Pahlevi akhirnya "berlibur" ke luar negeri, membiarkan perdana menteri tidak populer dan militer - berkekuatan 400 ribu personel dan amat bergantung pada senjata dan saran Amerika - terjebak dalam situasi ricuh.

Khomeini mencemaskan militer tengah gelisah, apalagi para petingginya membenci dirinya. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan bagi Khomeini, lantaran mereka rapat saban hari dengan Jenderal Robert E. Huyser dari Angkatan Udara Amerika, orang diutus Presiden Carter dalam sebuah misi rahasia ke Teheran.

Khomeini sangat ingin kembali ke Iran setelah 15 tahun hidup dalam pengasingan di luar negeri. Dia juga mau menjadikan "liburan" Syah Pahlevi permanen. Jadi dia membikin permintaan pribadi.

Dalam pesannya, Khomeini mengatakan kepada Gedung Putih untuk tidak panik karena mereka tidak akan kehilangan Iran, sekutu strategis Amerika selama 37 tahun. Dia juga meyakinkan pemerintahan Carter, negeri Persia itu akan tetap menjadi sahabat Amerika.

"Anda akan menyaksikan kami tidak membenci Amerika," tulis Khomeini dalam suratnya. Dia menjanjikan Republik Islam Iran bikinannya menjadi entitas kemanusiaan bakal bermanfaat bagi perdamaian dan ketenangan seluruh manusia.

Pesan Khomeini ini merupakan bagian dari dokumen rahasia pemerintah Amerika - berupa kabel diplomatik, memo kebijakan, dan catatan-catatan rapat - bisa menuturkan banyak kisah tidak diketahui soal hubungan rahasia Amerika dengan Khomeini.

Pada kenyataannya, pesan Khomeini itu adalah puncak dari pembicaraan langsung antara kepala stafnya dan seorang perwakilan pemerintah Amerika di Prancis - sebuah proses rahasia membantu memperlancar kepulangan Khomeini ke Iran dan menuju tampuk kekuasaan - serta menjadi awal dari munculnya ketegangan kedua negara selama lebih dari tiga dasawarsa.

Namun dalam sejarah resmi Iran, Khomeini digambarkan lantang dan garang menentang Amerika, serta mengalahkan "Setan Besar" itu dalam upaya kerasnya mempertahankan rezim Syah Pahlevi.

Tapi bocoran dokumen rahasia Amerika itu mengungkapkan Khomeini bukan sekadar menjalin hubungan dengan Amerika, sesuatu tidak pernah diakui kedua pemerintah. Jauh dari predikat penentang Amerika, Khomeini malah telah membujuk pemerintahan Carter, mengirim sinyal-sinyal rahasia: dia ingin berdialog dan kemudian menjelaskan Republik Islam bakal dia bentuk sejalan dengan kepentingan Amerika.

Hingga kini, mantan pejabat-pejabat di era Carter tetap bersikap mendukung Syah Pahlevi dan pemerintahannya.

Tapi dokumen-dokumen rahasia itu menunjukkan perilaku berbeda. Hanya dua hari setelah Syah Pahlevi meninggalkan Teheran, Amerika mengatakan kepada seorang utusan Khomeini secara prinsip Washington terbuka atas gagasan perubahan konstitusi Iran dalam arti menghapus sistem kerajaan.  
 
Para pemimpin Iran murka dengan laporan BBC itu. Laporan ini telah menciptakan keributan besar di Iran. Jika benar, bisa meruntuhkan mitos Khomeini dengan garang menolak segala hubungan langsung dengan Amerika, hal tabu selama tiga dekade hingga bergulirnya perundingan soal program nuklir Iran tahun lalu.

Pengganti Khomeini, Ayatullah Ali Khamenei, awal bulan ini membantah laporan mengenai adanya kontak antara Khomeini dan pemerintahan Carter beberapa pekan menjelang pecah revolusi Islam Iran. Dia menegaskan laporan BBC itu berdasarkan dokumen palsu.

Politisi Iran juga meragukan kebenaran laporan BBC, termasuk Ibrahim Yazdi, juru bicara dan penasihat Khomeini kala revolusi, dan tokoh reformis Said Hajjarian.

Kepada the Guardian, dua bekas penasihat Jimmy Carter tidak meragukan keaslian dokumen, tapi keduanya membantah Amerika telah meninggalkan Syah Pahlevi.

"Dokumen-dokumen itu secara jelas menunjukkan Khomeini kurang heroik dan sosoknya jauh dari yang digembar-gemborkan," ujar Kambiz Fattahi, reporter BBC membikin laporan menghebohkan itu, dalam jawaban tertulis melalui surat elektronik. "Dia diam-diam membujuk pemerintahan Amerika, menjanjikan segala hal mengenai masa depan kepentingan utama Amerika di Iran."    

Khomeini tiba di Teheran pada 1 Februari 1979, dua pekan setelah Syah Pahlevi kabur dari negerinya itu. Militer Iran, dibawah pengaruh Amerika, segera menyerah, dan dalam hitungan bulan Khomeini ditahbiskan sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Walau kedua negara saling melontarkan retorika bermusuhan, revolusi bukan akhir pembicaraan langsung antara Iran dan Amerika. Presiden Hasan Rouhani memerintah saat ini bahkan diyakini terlibat dalam perundingan rahasia berakhir dengan persetujuan Amerika mengirim persenjataan diam-diam ke Teheran sebagai syarat pembebasan sembilan marinir mereka.

Gary Sick, anggota Dewan Keamanan Nasional selama periode revolusi, menilai dokumen-dokumen dilihat BBC itu asli. Namun dia mengaku tidak tahu banyak tentang komunikasi antara Khomeini dan Amerika karena tidak pernah melihat dokumen CIA 1963 membahas tentang hal ini.

"Yang bisa saya katakan adalah laporan itu akurat, pesan dari Khomeini kepada pemerintah Amerika tidak berpengaruh pada kebijakan aktual, baik semasa pemerintahan Kennedy atau setelahnya," tutur Sick. "Jadi saya menilai ini sebuah anomali."

Sick menambahkan Amerika ingin mempertahankan militer Iran sebagai sebuah institusi dan memastikan perubahan kekuasaan berlangsung mulus, tidak sampai terjadi pertumpahan darah dan perang saudara.

Dia mengatakan Khomeini sangat khawatir militer Iran bakal melakukan kudeta, sesuatu akan dia hindari dengan semua cara. "Pihak Amerika berusaha menjadikan ancaman kudeta itu sebagai posisi tawar," katanya.

Stuart Eizenstat, eks kepala penasihat kebijakan dalam negeri buat Carter, menegaskan tidak benar Amerika meninggalkan Syah Pahlevi. "Kami sudah melakukan beragam upaya agar Syah tetap berkuasa. Tidak ada maksud kami mencoba memfasilitasi Khomeini ke puncak kekuasaan."

The Guardian juga menemui Zbigniew Brzezinski, penasihat keamanan nasional Carter pada 1977-1981. Dia menolak diwawancarai soal hubungan rahasia antara Khomeini dan Amerika. Tapi dia bilang, "Ada banyak manuver dilakukan orang-orang waktu itu dan saya tidak memiliki informasi khusus, terutama mengenai Ayatullah dan perannya."

Laporan BBC boleh saja menjadi kontroversi, namun peringatan haul ke-27 Imam Khomeini digelar Jumat dua pekan lalu di makamnya di selatan Ibu Kota Teheran, juga dihadiri Albalad.co, memperlihatkan sebagian rakyat negeri Mullah itu masih memuja sang imam.

Seorang perempuan tengah memperhatikan serangkaian foto dipameerkan dalam Museum Bin Jalmud di Ibu Kota Doha, Qatar. (msheireb.com)

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Dulu penyelam mutiara kini pengendara Porsche

Produksi gas membludak dan pada 2010 Qatar menguasai 30 persen pasar gas dunia.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (Twitter)

Fulus tidak selalu bikin mulus

Leluhur penguasa di ketiga negara Arab supertajir ini berasal dari suku Arab Badui sama, beragama dan makan makanan serupa.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz duduk bersebelahan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di ruang paripurna gedung Nusantara, kompleks parlemen, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

14 Februari 2018
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017

TERSOHOR