IQRA

Hubungan Rahasia Khomeini-Amerika (2)

Pesan kepada Kennedy

"Jangan takut soal minyak. Tidak benar kami tidak akan menjual minyak kepada Amerika," kata Khomeini kepada seorang utusan Amerika di Prancis pada 5 Januari 1979.

14 Juni 2016 10:19

Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Khomeini bukan sekali berusaha menjalin hubungan dengan Washington.

Pada 1963, Khomeini baru saja muncul sebagai pengkritik Raja Iran Muhammad Reza Syah Pahlevi. Juni di tahun itu, Khomeini menyampaikan pidato menampar setelah Syah Pahlevi meluncurkan Revolusi Putih berupa program reformasi tanah dan memberikan hak memilih kepada kaum hawa.

Khomeini lalu ditangkap. Segera saja demonstrasi rusuh pecah selama tiga hari, namun berhasil diredam militer.

Sebuah dokumen rahasia CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika Serikat) dibuka baru-baru ini mengungkapkan pada November 1963 Khomeini mengirim sebuah pesan dukungan kepada pemerintahan Kennedy. Ketika itu dia tengah menjalani tahanan rumah di Ibu Kota Teheran, Iran.

Surat dari Khomeini itu dikirim beberapa hari setelah tim eksekutor melaksanakan hukuman mati terhadap dua pemimpin demonstrasi. Pesan Khomeini buat Kennedy itu muncul menjelang lawatan bersejarah kepala negara Uni Soviet ke Iran, memicu kecemasan di pihak Amerika: Iran bakal menjalin hubungan lebih bersahabat dengan negara Beruang Merah itu.

Khomeini ingin bilang dia tidak berselisih dengan Amerika. "Khomeini menjelaskan dia tidak menolak kepentingan Amerika di Iran," menurut sebuah analisa CIA 1980 berjudul Islam di Iran, sebagian sudah dilansir ke publik pada 2008.

Sebaliknya, Khomeini menambahkan, kehadiran Amerika di Iran diperlukan untuk menangkal pengaruh Soviet dan Inggris.

Kabel diplomatik berisi keseluruhan isi surat Khomeini kepada Kennedy masih dirahasiakan. Tidak diketahui apakah Presiden Kennedy sempat membaca surat Khomeini itu. Dua pekan kemudian dia tewas dibunuh di Texas.

Setahun kemudian, Khomeini diasingkan dari Iran setelah mengecam Syah Pahlevi karena memberikan kekebalan hukum terhadap personel militer Amerika di negeri Persia itu. "Presiden Amerika seharusnya tahu dia adalah orang paling dibenci rakyat kami," kata Khomeini, tidak lama sebelum diasingkan.

Selama 15 tahun di pengasingan, terakhir tinggal di luar Ibu Kota Paris, Prancis, Khomenini memimpin gerakan buat menumbangkan rezim Syah Pahlevi. Begitu dekat dengan kemenangan, Khomeini masih membutuhkan Amerika

Para pemain kunci selama revolusi

Iran

Ayatullah Khomeini: pemimpin agama, tinggal di Paris pada awal 1979

Ayatullah Muhammad Beheshti: wakil dari Khomeini, dipandang oleh Amerika sebagai seorang pragmatis

Ibrahim Yazdi: dokter Iran berkewarganegaraan Amerika Serikat menjadi juru bicara dan penasihat Khomeini. Dia tinggal di Kota Houston, Negara Bagian Texas.

Muhammad Reza Syah Pahlevi: raja terakhir Iran, sebelumnya disokong pemerintah Amerika

Shapur Bakhtiar: perdana menteri terakhir di era Syah Pahlevi

Pemerintahan Carter

William Sullivan: Duta Besar Amerika untuk Iran

Cyrus Vance: Menteri Luar Negeri Amerika

Warren Zimmermann: konselor politik di Kedutaan Besar Amerika di Paris, bertugas sebagai penyampai pesan pemerintah Amerika kepada Khomeini

Robert E Huyser: jenderal Angkatan Udara Amerika dikirim Presiden Jimmy Carter dalam sebuah misi rahasia ke Teheran pada Januari 1979

Pada Januari 1979, Khomeini memperoleh momentum buat melengserkan Syah Pahlevi dari tampuk kekuasaan. Namun dia benar-benar takut Amerika bakal melakukan intervensi di menit-menit akhir, hal ini terjadi saat kudeta 1953 ketika CIA menolong Syah Pahlevi kembali berkuasa.

Situasi meledak setelah Shapur Bakhtiar, perdana menteri baru ditunjuk Syah
Pahlevi, menerjunkan tentara dan tank buat menutup bandar udara. Dia berupaya menggagalkan kepulangan Khomeini ke Iran.

Kelihatannya Iran ke arah perang saudara: pasukan elite Garda Kerajaan siap bertempur sampai mati membela Syah Pahlevi, para pengikut setia Imam Khomeini juga siaga buat berperang dan mati syahid.

Gedung Putih cemas perang saudara di Iran bisa menggangu kepentingan-kepentingan strategis Amerika. Nyawa ribuan penasihat militer Amerika, sistem persenjataan mutakhir Amerika di Iran, seperti jet tempur F-14, pasokan minyak, dan masa depan institusi paling penting di Iran, yakni militer, bisa terancam.

Namun Presiden Carter sebelumnya menolak usulan untuk menggunting kesepakatan antara Khomeini dan militer.

Pada 9 November 1978, kabel diplomatik dari Duta Besar Amerika buat Iran William Sullivan berjudul "Memikirkan yang Tidak Terpikirkan" memperingatkan Syah Pahlevi dalam bahaya. Dia berpendapat Washington mestinya menyelamatkan Syah Pahlevi dan para jenderalnya keluar dari Iran, lalu membikin perjanjian antara para komandan yunior dan Khomeini.

Proposal Sullivan menunjukkan Presiden Carter ceroboh dan menyebabkan hubungan keduanya hambar. Tapi pada awal Januari 1979, Carter memutuskan kepergian Syah Pahlevi memang diperlukan buat menenangkan kaum oposisi.

Di tengah beragam laporan menyebutkan kudeta militer bakal meletup di Iran, Carter memanggil para penasihat topnya pada 3 Januari 1979. Setelah rapat singkat itu, mereka menetapkan untuk secara halus membujuk Syah Pahlevi pergi berlibur ke California, Amerika.

Di hari itu pula, Carter memerintahkan secara tertulis kepada Wakil Komandan Pasukan Ameerika di Eropa Jenderal Robert E. Huyser untuk mengatakan kepada para jenderal setia kepada Syah Pahlevi, buat tenang dan tidak melakukan kudeta terhadap Perdana Menteri Bakhtiar.

Bakhtiar memang tidak mendapat sokongan kaum oposisi karena dianggap agennya Syah Pahlevi.

Sullivan memuji keberanian Bakhtiar di depan muka, tapi di belakang dia mengatakan kepada Washington orang ini pelamun, berisiko tinggi, dan tidak akan mengikuti panduan Amerika.

Departemen Luar Negeri Amerika menilai pemerintah Bakhtiar tidak bergairah. Gedung Putih secara tegas mendukung dia di muka umum, namun secara tertutup berusaha menjatuhkan Bkahtiar lewat kudeta.

"Hasil terbaik menurut pandangan saya adalah kudeta militer terhadap Bakhtiar," tulis Wakil Penasihat Keamanan Nasional Amerika David Aaron kepada bosnya, Zbigniew Brzezinski, pada 9 Januari 1979. "Kemudian membikin kesepakatan antara militer dan Khomeini pada akhirnya akan melengserkan Syah Pahlevi."

Dua hari kemudian, Presiden Carter akhirnya bilang kepada Syah Pahlevi waktu untuk pergi sudah tiba. Sejak saat itu, muncul konsensus dalam birokrasi keamanan nasional Amerika, mereka sudah bisa berhubungan dengan Khomeini dan lingkaran dekatnya.

Khomeini juga telah mengirim sinyal kepada Washington.

"Jangan takut soal minyak. Tidak benar kami tidak akan menjual minyak kepada Amerika," kata Khomeini kepada seorang utusan Amerika di Prancis pada 5 Januari 1979, seraya mendesak agar pesannya itu disampaikan ke Gedung Putih. Utusan itu mengiyakan dan menyebarkan pula catatan pembicaraannya dengan Kedutaan Besar Amerika di Paris.        
 
Pada sebuah pertemuan penting dalam Ruang Situasi di Gedung Putih, 11 Januari 1979, CIA memperkirakan Khomeini akan duduk diam dan membiarkan wakilnya berpendidikan Barat dan berpandangan moderat, Ayatullah Muhammad Beheshti, menjalankan pemerintahan.

Para pejabat Amerika memang menilai Beheshti pragmatis. Ulama fasih berbahasa Inggris dengan pendidikan universitas ini berpengalaman tinggal di Barat. Dia memiliki hubungan dekat dengan Khomeini. "Kami hanya akan menjadikan Khomeini simbol pendidikan terpisah dan penentang hak-hak perempuan," ujar Philip Stoddard, kemudian menjabat kepala Biro Intelijen Departemen Luar Negeri.

Presiden Carter lega Jenderal Huyser telah tiba di Teheran. Huyser dikenal bagus menjalankan perintah dan dipercaya para petinggi militer Iran. Di sana, Huyser ditugaskan menyakinkan mereka untuk bertemu Beheshti. Amerika percaya pertemuan itu akan mengarah pada sebuah akomodasi militer bagi Khomeini.

Untuk memecah kebuntuan, Presiden Carter mengesampingkan gengsinya. Pada 14 Januari 1979, Menteri Luar Negeri Cyrus Vance mengirim sebuah kabel diplomatik ke Kedutaan Besar Amerika di Paris dan Teheran. "Kami telah memutuskan ingin membangun hubungan langsung dengan Khomeini."

Seorang perempuan tengah memperhatikan serangkaian foto dipameerkan dalam Museum Bin Jalmud di Ibu Kota Doha, Qatar. (msheireb.com)

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

Ibu Kota Doha, Qatar. (Arabian Business)

Dulu penyelam mutiara kini pengendara Porsche

Produksi gas membludak dan pada 2010 Qatar menguasai 30 persen pasar gas dunia.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (Twitter)

Fulus tidak selalu bikin mulus

Leluhur penguasa di ketiga negara Arab supertajir ini berasal dari suku Arab Badui sama, beragama dan makan makanan serupa.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz duduk bersebelahan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di ruang paripurna gedung Nusantara, kompleks parlemen, 2 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

14 Februari 2018
Kerajaan emas hitam
11 Maret 2017

TERSOHOR