IQRA

Hubungan Rahasia Khomeini-Amerika (3)

Pertemuan rahasia

Zimmermann mewakil Amerika melakoni sejumlah pertemuan rahasia dengan Yazdi dari pihak Khomeini.

14 Juni 2016 23:06

Siang, 15 Januari 1979, konselor poltik Warren Zimmermann dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Prancis tiba di sebuah rumah penginapan nan senyap di kota kecil Neauphle-le-Château, di luar Ibu Kota Paris, tempat di mana Ayatullah Khomeini tinggal.

Zimmermann datang meminjam mobil Peugeot milik bosnya, tidak memiliki pelat nomor diplomatik agar tidak diikuti. "Saya masuk dan di dalam sana ada sebuah ruang makan besar dalam keadaan kosong, kecuali untuk satu orang telah duduk di sana, yakni Ibrahim Yazdi.

Secara de facto, Yazdi, dokter Iran berkewarganegaraan Amerika merupakan kepala staf Khomeini. Tinggal di Kota Houston, Negara Bagian Texas, Yazdi telah membangun jaringan dengan para pejabat Amerika di Washington lewat Richard Cottam, mantan agen CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika) telah berubah menjadi liberal dan antirezim Muhammad Reza Syah Pahlevi.

Menjalin hubungan langsung dengan Khomeini merupakan masalah sangat sensitif. Jika ketahuan di publik, bakal dianggap sebagai perubahan kebijakan Amerika. Akan dinilai sebagai sinyal jelas ke seluruh dunia: Washington telah meninggalkan teman lamanya, Syah Pahlevi.

Kronologi

1953: Muhammad Reza Syah Pahlevi kembali berkuasa setelah kudeta dukungan Amerika dan Inggris melengserkan perdana menteri Iran

1963: Ayatullah Khomeini muncul sebagai tokoh terkemuka penentang Syah Pahlevi

1964: Khomeini ditangkap dan diasingkan dari Iran. Dia menghabiskan waktu selama 15 tahun di Turki dan Iran mengkampanyekan gerakan anti-Syah Pahlevi

15 Januari 1979: Khomeini memulai dialog dua peekan dari tempat pengasingannya di Prancis dengan pemerintahan Presiden Amerika Jimmy Carter

16 Januari 1979: Syah Pahlevi kabur dari Iran saat negara mengarah pada perang saudara

1 Februari 1979: Khomeini kembali ke Teheran, jutaan orang menyambut kepulangan pemimpin Revolusi Iran itu di sepanjang jalan

Sebelum di hari sama, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Cyrus Vance memberitahu pemerintah Prancis, Washington sangat mendesak untuk membuka kontak langsung dengan pihak Khomeini. Alasannya, untuk memperoleh dukungan Khomeini atas perundingan rahasia antara Perdana Menteri Iran Shapur Beheshti dan para pemimpin militer serta intelijen setia kepada Syah Pahlevi.

Beheshti telah bertemu Duta Besar Amerika untuk Iran William Sullivan, namun karena pertimbangan keamanan menolak bertemu para jenderal Iran. Jadi, menurut Vance, Washington meminta kepada Khomeini untuk memberitahu wakilnya agar fleksibel dalam menentukan lokasi pertemuan.

Pertemuan kedua antara Zimmermann dan Yazdi dijadwalkan cepat. Zimmermann diberitahu untuk menyampaikan kabar militer serius membahas rencana kudeta kalau Syah Pahlevi pergi dari Iran, tapi Jenderal Robert E. Huyser, utusan khusus Presiden Carter, sudah meminta mereka untuk membatalkan ide itu. "Militer Iran akan tetap tenang selama periode itu, tentara diterjunkan tidak terpancing," ujar sebuah kabel diplomatik dari Kedutaan Besar Amerika di Teheran.

Pada 17 Januari 1979, Presiden Carter menulis dalam buku hariannya, dia berupaya keras supaya Khomeini tetap di luar Iran. Tapi besoknya, pemerintahan Carter mengatakan kepada Khomeini, mereka tidak bermasalah dengan kepulangan sang imam.

Pemerintahan Carter telah memulai serangkaian pembicaraan rahasia dengan Khomeini, tujuan utamanya mencapai kesepakatan sulit digambarkan antara Khomeini dan militer. Ada kemungkinan Washington ingin memperlambat momentum Khomeini atau membaca strategi sebenarnya dari Khomeini. Namun Gedung Putih gagal menggapai dua tujuan itu.

Khomeini cuma ingin kemenangan menentukan, bukan sebuah kesepakatan. Berhubungan taktis dengan Washington sangat cocok buat meraih tujuannya. Khomeini telah menyiapkan sejumlah pertanyaan kunci untuk memastikan komitmen Carter terhadap rezim Syah Pahlevi dan orientasinya kepada militer Iran.

Pada akhirnya Khomeini tidak harus berusaha sangat keras. Amerika akan gampang membuka tangan.  

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR