IQRA

Hubungan Rahasia Khomeini-Amerika (4)

Melindungi konstitusi

Khomeini menjelaskan Republik Islam bentukannya akan bebas dari dominasi Soviet, netral jika tidak bersahabat kepada Amerika, tidak akan mengekspor revolusi, dan tidak memutus pasokan minyak ke negara-negara Barat.

16 Juni 2016 07:48

Pada pertemuan ketiga, konselor politik di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Paris Warren Zimmermann dan Ibrahim Yazdi, penasihat Imam Khomeini, saling berbagi kabar menggembirakan. Pertemuan ini berlangsung pada 18 januari 1979 di tempat yang sama, rumah penginapan sepi dekat tempat tinggal Imam Khomeini di luar Ibu Kota Paris, Prancis.

Yazdi bilang Khomeini telah memberi wewenang kepada Ayatullah Muhammad Beheshti untuk bertemu para jenderal Iran. Zimmermann juga memiliki klarifikasi penting buat Khomeini.

Dalam pertemuan kedua mereka, Washington telah memperingatkan Khomeini, bila kepulangannya tiba-tiba bakal memicu petaka karena militer Iran mungkin bakal bereaksi buat melindungi konstitusi, memang menyatakan kerajaan tidak bisa diubah untuk selamanya.

Perlu dua hari bagi Washington buat memberi penjelasan soal maksud melindungi konstitusi. Jawaban telah disimpan selama 35 tahun itu memberikan sinyal jelas kepada Khomeini: Amerika fleksibel terhadap sistem politik Iran.

"Kami tidak bilang konstitusi tidak dapat diubah, tapi kami meyakini prosedur sudah ada untuk membikin perubahan mesti diikuti," kata Zimmermann kepada yazdi. "Bila intergritas militer bisa dipertahankan, kami percaya tiap kepemimpinan masa depan akan menyokong apapun sistem politik dipilih buat Iran di sama depan."

Dengan kata lain, Washington pada prinsipnya terbuka atas gagasan menghapus sistem kerajaan dan militer bikinan Muhammad Reza Syah Pahlevi, asal dilakukan bertahap dan terkontrol.

Ketakutan terbesar Khomeini adalah Amerika dengan segala kekuatannya akan mendukung kudeta buat menyelamatkan rezim Syah Pahlevi. Tapi selama pertemuan ketiga itu, Khomeini mendapat isyarat jelas: Amerika sudah menilai masa Syah Pahlevi telah habis dan perlu mencari cara buat menyelamatkan wibawa militer dan menghindari Iran jatuh ke tangan komunis.  

Seperti biasa, Yazdi menyalin semua catatan rapat ke dalam bahasa Persia untuk disampaikan kepada Khomeini.

Zimmermann ingin memastikan Yazdi paham betul pesan telah dia sampaikan. "Para petinggi militer Iran takut akan hal-hal tidak mereka ketahui, mereka mencemaskan masa depan tidak bisa mereka petakan," ujar Zimmermann kepada Yazdi selama pertemuan ketiga itu.

Yazdi bilang Khomeini telah berjanji tidak akan menghancurkan militer. Dia mendesak Amerika untuk tidak menarik semua persenjataan mutakhirnya dari Iran.

Yazdi menjelaskan Republik Islam bakal dibentuk Khomeini akan membedakan antara Israel dan penduduk Yahudi, sudah mulai lari dari Iran. "Anda bisa bilang kepada orang-orang Yahudi Amerika untuk tidak khawatir soal masa depan orang-orang Yahudi di Iran," tuturnya.

Kenyataannya memang demikian. Komunitas Yahudi di Iran bisa hidup damai dan aman. Mereka juga bebas beribadah dan merakan hari-hari suci mereka. Albalad.co sempat mengunjungi dua sinagoge di Ibu Kota Teheran awal Juni lalu.

Khomeini dan Presiden Amerika Jimmy Carter sama-sama ingin menghindari bentrokan antara militer dan oposisi. Tapi tujuan mereka benar-benar berbeda.

Carter mau mempertahankan militer - digambarkan oleh Duta Besar Amerika buat Iran William Sullivan sebagai hewan terluka tidak bisa diduga - untuk dipakai sebagai kekuatan di masa akan datang.

Namun Khomeini ingin menghabisi karena menganggap militer akan menjadi ancaman jangka panjang buat rezimnya. Pemotngan dan penghancuran militer adalah prioritas utama.

Pemerintahan Carter mau tahu mengenai masa depan kepentingan-kepentingan kunci Amerika di Iran, yakni investasi Amerika, pasokan minyak, hubungan politik-militer, dan pandangan terhadap Uni Soviet.

Khomeini memberikan jawaban tertulis atas pertanyaan-pertanyaan disampaikan Zimmermann itu besoknya lewat Yazdi.

Khomeini menjelaskan Republik Islam bentukannya akan bebas dari dominasi Soviet, netral jika tidak bersahabat kepada Amerika, tidak akan mengekspor revolusi, dan tidak memutus pasokan minyak ke negara-negara Barat. Dia menambahkan untuk membangun negara, Iran membutuhkan bantuan negara lain, terutama Amerika.

"Kami akan menjual minyak kami kepada siapa saja membeli dengan harga pantas," tulis Khomeini. "Pasokan minyak akan berlanjut setelah terbentuknya Republik Islam Iran kecuali kepada kedua negara: Afrika Selatan dan Israel."

Yazdi mengatakan Republik Islam Iran akan lebih mudah berhubungan dengan Amerika ketimbang Uni Soviet karena alasan agama.

"Pemerintah Rusia atheis dan antiagama. Kami tentu akan lebih sulit mencapai kesepahaman mendalam dengan Rusia," kata Yazdi kepada Zimmermaan saat menyampaikan jawaban tertulis Khomeini buat Carter. "Pemerintah Anda Kristen dan percaya Tuhan, sedangkan mereka tidak. Kami merasa lebih gampang mendekati Anda dibanding Rusia."

Khomeini juga bersumpah tidak akan membuat kawasan Teluk Persia tidak stabil. "Tidak mencampuri urusan negara lain akan menjadi kebijakan pemerintahan masa depan," tulis Khomeini.

Khomeini menjelaskan Republik Islam Iran tidak seperti rezim Syah Pahlevi, takkan bertindak seperti polisi di kawasan Teluk Persia atau mengekspor revolusi. "Kami tidak akan meminta rakyat Saudi, Kuwait, atau Irak mengusir orang-orang asing."

Keacauan di Irab memang memicu kekhawatiran sebagian besar negara-negara Arab tetangga. Mereka cemas setelah rezim Syah Pahlevi tumbang, kelompok Marxis bakal mengambil alih. Sebuah analisa CIA menyimpulkan negara-negara Arab konservatif sulit meyakini Khomeini atau rezim sejalan dengan gagasan Khomeini bisa bertahan lama di Iran.   

Namun Khomeini akan segera melenyap semua kelompok Marxis telah mendukung perjuangannya. Sebelum menghancurkan kelompok kiri, Khomeini dan para pengikut radikalnya mengeluarkan kaum moderat, termasuk yzdi dari lingkar kekuasaan, sebab mereka dinilai pro-Amerika dan kurang revolusioner.

Pada 24 Januari 1979, para anggota inti Dewan Revolusi Islam bersifat rahasia, termasuk ulama dikenal dengan nama Ayatullah Musawi Ardebili - menjadi ketua Mahkamah Agung setelah Republik Islam Iran berdiri dan berperan penting dalam eksekusi ribuan lawan politik - bertemu Duta Besar Sullivan.

Tiga hari kemudian Khomeini menyurati langsung Gedung Putih. "Sangat disarankan Anda (Carter) merekomendasikan kepada militer untuk tidak mengikuti perintah Bakhtiar (Perdana Menteri Iran Shapur Bakhtiar)," tulis Khomeini dalam surat bertanggal 27 Januari 1979.

Khomeini menyampaikan tiga permintaan: pulang ke Iran dengan lancar, mendesak pemerintahan bubar, dan memaksa militer menyerah.

Dia secara halus memperingatkan bila militer bertindak, para pengikutnya akan langsung menyerang warga negara Amerika di Iran. Meski begitu, Khomeini masih menekankan per;unya penyelesaian damai atas krisis politik tengah berlangsung di negerinya.

Dalam pembicaraan telepon pada 27 Januari 1979, Menteri Pertahanan Amerika Harold Brown mengatakan kepada Jenderal Robert E. Huyser soal pesan rahasia Khomeini dan hasil diskusinya dengan Presiden Carter mengenai surat itu. Brown bilang kepulangan Khomeini hanya masalah taktis mesti diserahkan kepada pemerintah Iran.

Dalam draf surat balasannya, Carter menjelaskan pemerintahnya senang karena Khomeini setuju berkomunikasi langsung dan ingin melanjutkan pembicaraan. Dia memperingatkan Khomeini krisis mesti diselesaikan lewat dialog dengan pemerintah Iran.

Draf surat balasan itu dikirim ke Kedutaan besar Amerika di Teheran untuk dimintai masukan, namun surat ini tidak pernah sampai kepada Khomeini.  
 
Tapi tak masalah, tidak lama berselang Khomeini tiba di Teheran pada 1 Februari 1979.
 

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR