IQRA

Hubungan Rahasia Khomeini-Amerika (5)

Opsi C

Khomeini lalu merayakan ulang tahun pertama Revolusi Islam dengan sebuah pengumuman besar: Iran akan memerangi imperialisme Amerika di seluruh dunia.

16 Juni 2016 23:10

Washington diam-diam setuju atas salah satu permintaan utama Ayatullah Khomeini dengan memberitahu para petinggi militer Iran untuk tidak bertindak. Jenderal Robert E. Huyser, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, bilang kepulangan Imam Khomeini tidak menjadi alasan buat melaksanakan Opsi C, yakni kudeta.

Pada 29 Januari 1979, Perdana Menteri Iran Shapur Bakhtiar, di bawah tekanan domestik luar biasa, membuka wilayah udara Iran bagi Khomeini. Bakhtiar kembali ke rencana B bikinannya, yakni Khomeini mesti tenggelam sebagai mullah di Kota Qum, sekitar 1,5 jam bermobil dari Ibu Kota Teheran.

"Ini mungkin membuat dia lebih layak atau setidaknya kurang terlibat dalam urusan politik," kata Bakhtiar kepada Duta Besar Amerika Serikat buat Iran William Sullivan, dua pekan sebelum dia lengser disapu gelombang Khomeini.

Dua hari sebelum kedatang Khomeini, komandan tinggi militer pro-Syah Pahlevi telah memberi jaminan khusus kepada perwakilan Khomeini, militer secara prinsip tidak lagi menentang perubahan politik, termasuk dalam kabinet.

"Bahkan perubahan-perubahan soal konstitusi akan diterima sepanjang dilakukan lewat hukum konstitusional," ujar seorang sumber terpercaya kepada Kedutaan Besar Amerika di Teheran, menurut sebuah kabel diplomatik dipublikasi pada November 2013.

Sullivan senang betul dengan perubahan sikap militer Iran itu. "Kedengarannya militer bakal menerima kepulangan Khomeini dan siap bekerja sama dengan gerakan Islam selama norma-nomra konstitusional dihormati," tulis Sullivan dalam laporannya kepada Washington.

Ketibaan Khomeini di bandar udara di Teheran pada pagi, 1 Februari 1979, disambut ribuan pendukungnya. Dalam beberapa hari kemudian, dia telah menunjuk perdana menteri baru.

Dalam sebuah laporan bertanggal 5 Februari 1979 dan dipublikasikan tahun ini, CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika) menyimpulkan militer Iran tidak merasa bermasalah dengan perubahan dalam pembentukan pemerintahan selama perubahan itu berlangsung sesuai hukum dan bertahap.

Pada tahap ini, persatuan dan kesatuan militer sudah tergerus. Banyak perwira junior dan tentara wajib militer berpindah memihak Khomeini.

Pemberontakan segera meletus di angkatan udara. Oposisi mempersenjatai diri dan dipimpin kelompok-kelompok Marxis radikal menyerang markas-markas tentara dan kantor polisi di senatero Teheran.

Di hari Khomeini memenangkan revolusi pertamanya, Presiden Carter tidak berada di Washington. Dia tengah berlibur di Camp David. Pada Ahad pagi, 11 Februari 1979, Carter dan Menteri Luar negeri Cyrus Vance, tengah berada dalam gereja sehingga tidak bisa dihubungi.

Penasihat Keamanan Nasional Zbigniew Brzezinski memimpin rapat darurat dalam Ruang Situasi di Gedung Putih.  

Angkatan bersenjata Iran tadinya amat berkuasa telah pecah, namun Brzezinski - termasuk salah satu pendukung Raja Iran Muhammad Reza Syah Pahlevi dalam pemerintahan Carter - mempertimbangkan mengenai Opsi C. Tapi dia diberitahu pilihan itu tidak mungkin diambil.

Wakil Komandan Pasukan Amerika di Eropa Jenderal Robert E. Huyser segera terhubung dengan Ruang Situasi lewat sambungan telepon rahasia dari Eropa, di mana Brzezinski tengah memimpin pertemuan darurat pada 11 Februari 1979.

"Kita selalu mendesak militer untuk membuat kesepakatan," kata Huyser melalui telepon. "Mereka harusnya segera beralih ke Mahdi Bazargan," ujarnya merujuk pada perdana menteri bafru Iran diangkat oleh Khomeini.

Tapi semua konsesi dibuat militer tidak cukup buat Khomeini. Pada 15 Februari 1979, empat jenderal senior dieksekusi dari atap sebuah sekolah menengah atas. Itu baru permulaan dari gelombang eksekusi.

Tindakan permulaan Carter terbukti sebuah blunder sangat besar. Bahaya sebenarnya diabaikan, ambisi Khomeini diremehkan, dan pemerintahan Carter keliru membaca langkah-langkah Khomeini.

Tidak seperti Carter, Khomeini menjalankan sebuah strategi konsisten dan bertindak dengan panduan visi membentuk republik islam. Dia menggaet Amerika lewat janji-janji kosong, memahami maksud-maksud Amerika, dan mengarah pada kemenangan.

Kurang dari setahun kemudian, Khomeini - ketika kuasa usaha dan lusinan warga Amerika lainnya ditawan di Kedutaan Amerika di Teheran - mengumumkan, "Amerika tidak bisa berbuat sembarangan."

Dia lalu merayakan ulang tahun pertama Revolusi Islam dengan sebuah pengumuman besar: Iran akan memerangi imperialisme Amerika di seluruh dunia.

"Kami akan mengekspor revolusi ke seantero dunia," kata Khomeini. "Ini adalah sebuah revolusi Islam."

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR