IQRA

Hikayat Barghuti (2)

Kebebasan bangsaku lebih penting

Marwan Barghuti tengah menjalani hukuman lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun.

08 Juli 2016 12:51

15 April 2002, Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel Shaul Mofaz menelepon Menteri Pertahanan Benjamin Ben Eliezer. "Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) telah berhasil menemukan jejaknya. Kita tahu di mana dia sedang bersembunyi," kata Mofaz.

"Saya tidak mau dia dibunuh, cukup tangkap dia," Ben Eliezer meohon dengan sangat kepada Mofaz. Dalam pandangannya, buronan nomor wahid Israel itu akan menjadi pemimpin Palestina setelah Yasir Arafat.

"Jika dia menolak dan berupaya melawan, kami akan tembak dia," ujar Mofaz kepada bosnya itu. "Tapi saya ingin bertaruh dia bakal menyerah tanpa perlawanan. Dia tidak bernyali."

Berbulan-bulan sebelum lokasi persembunyiannya diketahui, Marwan Barghuti memang sudah diperlakukan seperti buruan. "Kami berusaha melenyapkan dia dua kali, kami sudah menghabisi orang-orang di sekelilingnya," tutur Avi Dichter, bos Shin Beth saat itu, kepada Haaretz.

Pada 29 Maret 2002, Israel melancarkan Operasi Perisai Pertahanan untuk menaklukkan kota-kota Palestina di Tepi Barat. Bulan itu dikenal di Israel sebagai "Maret Hitam" karena 110 warga sipil dan serdadu negara Zionis itu tewas, kebanyakan akibat serangan bunub diri dilakoni pejuang Palestina.

Setelah Angkatan Darat Israel mengontrol Ramallah lagi, Marwan Barghuti, anggota parlemen Palestina sekaligus Sekretaris Jenderal Fatah dan pemimpin milisi Tanzim - di mata Israel disebut sebagai kepala staf intifadah - hilang seolah ditelan bumi.

"Kami telah diberitahu sesuatu jarang kami dengar," kata Kapten A dari unit penyamaran Duvdevan kepada Haaretz. Dia merujuk pada perintah untuk menangkap Barghuti dari Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.  

Rekaman penyadapan mengungkapkan Barghuti tengah bersembunyi di sebuah rumah aman. Menurut Brigadir Jenderal Ilan Paz, waktu itu menjabat komandan Brigade Ramallah, Barghuti ada di dalam sebuah bangunan di jantung Ramallah. Salah satu prajuritnya mengaku melihat buronan itu dari balik jendela.

Ilan Paz lantas menghubungi komandan divisi Yitzhak Gershon untuk memberitahu dia telah berada di sekitar bangunan tempat persembunyian Barghuti. Setelah mendapat perintah untuk bergerak, Ilan Paz dan pasukannya memasuki pintu bangunan itu dengan senjata lengkap dan anjing pelacak. "Dia keluar, kelihatan sangat takut," klaim Ilan Paz.

Gershon kemudian menarik tangan Barghuti dan membawa dia keluar gedung apartemen. "Dia tampak sangat takut. Saya bilang kepada dia: Jangan khawatir. Kami tidak akan melakukan sesuatu kepada Anda seperti telah Anda lakukan kepada kami."

Lelaki bernama lengkap Marwan Hasib Ibrahim Barghuti, kini 65 tahun, sekarang menghuni sel nomor 28 seksi 3 di Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Tel Aviv. Hukumannya lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun.

Dia kemungkinan besar tidak bakal dibebaskan dari penjara Israel. Negara Zionis ini menganggap Barghuti terlalu berdosa telah menumpahkan darah banyak orang Israel.

Kepada Albalad.co mewawancarai dia via surat melalui pengacaranya, Ilyas Sabbagh, pada November 2007, Barghuti yakin bakal bebas dari penjara, cepat atau lambat. Dia mendekam dalam sel berukuran 2,5 x 2,5 meter bareng dua tahanan lainnya. "Tapi lebih penting adalah bebasnya rakyat Palestina dan derita akibat pendudukan Israel. Kebebasanku raib adalah kebebasan bangsaku, Saya yakin impian ini tidak jauh."

Barghuti menghabiskan waktunya di penjara dengan membaca dan mengaji. "Setiap hari di halaman penjara aku berolah raga dua jam," katanya kepada Albalad.co. "Selain kegiatan di atas, juga tak lupa mengajar berbagai bahasa asing, sejarah dan politik, serta menggelar diskusi dengan kawan-kawan tahanan."

Kepala Biro Politik Hamas mengadakan pertemuan dengan sejumlah keluarga tahanan Palestina di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Albalad.co/Supplied)

Pemimpin Hamas bertemu keluarga tahanan Palestina terpandang

Haniyah juga bertemu keluarga Marwan Barghuti

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Pemimpin dua intifadah Marwan Barghuti. (Qassam Barghuti buat Albalad.co)

Sudah dua tahun keluarga tidak bisa jenguk Marwan Barghuti dalam penjara

Barghuti ditahan sejak 2002 dan pengadilan negara Zionis itu memvonis dia dengan hukuman lima kali penjara seumur hidup serta 40 tahun kurungan. 





comments powered by Disqus