IQRA

Hikayat Barghuti (3)

Legenda hidup intifadah

Dalam semua jajak pendapat dibikin beberapa tahun terakhir, Marwan Barghuti selalu unggul. Dia sudah bilang akan ikut pemilihan presiden bila Abbas mundur.

10 Juli 2016 08:30

Para perwira angkatan darat telah membekuk Marwan Barghuti percaya dia mestinya segera dibebaskan. Pandangan serupa juga dimiliki Ehud Barak, menjabat perdana menteri Israel saat intifadah kedua meletup pada 2000.

Tidak lama setelah Barghuti ditangkap dan ditahan untuk diinterogasi oleh Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel), Barak berbicara dengan Panglima Angkatan Bersenjata Israel Shaul Mofaz.

Barak menjelaskan bila penangkapan Barghuti bagian dari upaya memerangi terorisme percuma saja. "Tapi jika itu termasuk dalam sebuah rencana besar untuk menjadikan dia pemimpin masa depan Palestina, itu strategi brilian," katanya.

Sebab, menurut Barak, yang nihil dalam riwayat hidup Barghuti adalah soal hubungan langsung antara dirinya dengan terorisme. "Dia akan berjuang untuk menjadi pemimpin dari dalam penjara, tanpa harus membuktikan apapun. Mitos tentang dirinya akan terus berkembang."

Perdana Menteri Ariel Sharon, memberi perintah untuk membunuh atau menangkap Barghuti, setuju untuk melepaskan dia dengan sebuah alasan: dijadikan alat pertukaran tahanan dengan Jonathan Pollard, mata-mata Israel akhirnya dibebaskan November tahun lalu setelah mendekam 30 tahun dalam penjara Amerika Serikat. Tapi rencana ini tidak berjalan.

Yuval Diskin, wakil direktur Shin Beth ketika intifadah terjadi, mengakui pembebasan Barghuti mungkin saja terjadi selama itu disepakati lewat perundingan dengan Palestina.

Sebaliknya, mantan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon, menjabat wakil panglima angatan bersenjata saat Barghuti dicokok, meyakini tempat semestinya bagi Barghuti adalah dalam penjara. Pendapat ini diamini oleh bos Shin Beth Avi Dichter.

Dichter mengungkapkan sejumlah menteri dalam pemerintahan Sharon waktu itu menekan dia agar mendukung ide pembebasan Barghuti. Dia menambahkan seorang politkus sangat senior menggambarkan Barghuti seperti Mandela. Mantan pemimpin Partai Meretz Haim Oron menganggap dia pemimpin masa depan Palestina. "Saya katakan kepada mereka semua, dia telah membeli kepemimpinannya dengan darah orang-orang Yahudi," ujar Dichter.

Elite sipil dan militer Israel, tengah menghadapi intifadah kedua kala itu, terbelah soal apakah perlu buat melepaskan Barghuti segera.

Nama Barghuti sebagai calon pemimpin Palestina kembali bergema saat Presiden Mahmud Abbas kian tidak disukai. Sejumlah jajak pendapat menyebutkan 65 persen rakyat Palestina ingin dia mundur.

"Dia tidak memiliki dukungan," ucap Yossi Beilin, salah satu penyusun draf perjanjian damai dengan Abbas pada 1995. "Rezimnya lemah, sehingga tidak perlu mengaitkan alasan kesehatan dengan kemungkinan dia lengser."

Barghuti juga sudah mengumumkan kalau Abbas berhenti, dia akan ikut pemilihan presiden dari dalam Penjara Hadarim, tempat dia menjalani hukuman lima kali penjara seumur hidup.

"Dia jauh memimpin dalam semua jajak pendapat dilakukan beberapa tahun belakangan," tutur Dr Khalil Syikaki, Direktur the Palestinian Center for Policy and Survey Research, lembaga berpusat di Kota Ramallah, Tepi Barat, kepada Haaretz.

Hasil survei bulan ini, melibatkan 1.200 responden di Tepi Barat dan Jalur Gaza, menunjukkan Barghuti memimpin dengan 40 persen suara, dibanding Abbas (20 persen) dan pemimpin senior Hamas sekaligus bekas Perdana Menteri Ismail Haniyah (35 persen).

Dalam jajak pendapat Maret lalu menyandingkan Barghuti dan Haniyah, Barghuti meraup 57 persen dukungan dan Haniyah 39 persen. Sedangkan survei mempertemukan Haniyah dan Abbas menghasilkan kemenangan buat Haniyah dengan 52 persen suara, sedangkan Abbas 41 persen.

Meski begitu, Syikaki mengingatkan sebagian besar rakyat Palestina tidak percaya pemilihan umum akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Bahkan walau Abbas tiba-tiba saja mundur, Fatah dan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) akan segera mengambil langkah untuk memilih pengganti. "Tidak diragukan lagi, Marwan Barghuti lebih unggul ketimbang kandidat lain," kata Syikaki.    

Foto Marwan Barghuti. (Qassam Barghuti buat Albalad.co)

Legenda Palestina dalam penjara

Jika Abbas tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden, 37 persen rakyat Palestina menganggap Barghuti cocok sebagai pengganti dan 23 persen memilih Haniyah.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.

Konsep Kuil Suci ketiga bakal dibangun buat menggantikan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (jta.org)

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Isu Palestina konflik agama

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan.





comments powered by Disqus