IQRA

Borosnya Keluarga Bani Saud (3)

Jatah fulus negara bagi keluarga Bani Saud

Pangeran Al-Walid bin Talal pernah bilang pendapatan dari satu juta barel minyak per hari masuk ke dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran.

19 Maret 2017 21:56

Para anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi mengandalkan tunjangan dari negara, jabatan di pemerintahan, dan posisi dalam dunia bisnis, dibantu oleh status dan koneksi membikin mereka menjadi orang terpandang.

Joseph A. Kechichian, peneliti di Pusat Riset dan Studi Islam Raja Faisal di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, tidak bisa memastikan berapa fulus diterima tiap anggota keluarga Bani Saud. "Katakanlah sejumlah fulus dibagi-bagikan kepada beragam keluarga untuk proyek, bisnis, dan kehidupan mereka," kata penulis buku Sucession in Saudi Arabia ini.

Barangkali gambaran terdalam berapa jatah duit diterima anggota keluarga Kerajaan Saudi muncul ketika seorang pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 1996 memperoleh akses tidak terduga untuk mengunjungi Kantor Keputusan dan Aturan di Kementerian Keuangan. "Di sana banyak pelayan sibuk mengumpulkan fulus untuk dibawa kepada tuan-tuan mereka," ujarnya.

Pejabat ini mengungkapkan jatah duit negara itu beragam bagi para pangeran dan puteri kerajaan. Dari US$ 270 ribu sebulan bagi seorang anak lelaki dari Raja Abdul Aziz bin Saud, pendiri Arab Saudi, hingga US$ 8 ribu per bulan untuk masing-masing cicitnya.

Sebagian anggota keluarga kerajaan mendapat fulus US$ 1 juta sampai US$ 3 juta sebagai hadiah perkawinan untuk membangun istana. Dalam sebuah catatan dilansir bareng dokumen rahasia oleh WikiLeaks, pejabat Kedutaan Amerika tidak disebutkan namanya itu menduga jatah duit negara untuk keluarga-keluarga kerajaan terpandang lainnya bisa mencapai US$ 2 miliar setahun.

Juru bicara Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi Anas al-Qusayir bilang total tunjangan negara tidak lebih dari 10 miliar riyal atau US$ 2,7 miliar tiap tahun. Penerima terbesar adalah para pemimpin suku dan provinsi, bukan kaum ningrat Bani Saud.   

"Orang-orang memahami hirarki sosial di Saudi sangat tahu ribuan pemimpin suku dan provinsi menggelontorkan secara langsung dan tidak langsung tunjangan kepada ratusan ribu orang berada di bawah tanggung jawab mereka," tuturnya.

Dalam sebuah memo rahasia, miliarder Arab Saudi Pangeran Al-Walid bin Talal pernah mengatakan kepada seorang duta besar Amerika, pendapatan dari satu juta barel minyak sehari masuk dalam anggaran rahasia di bawah kontrol raja dan beberapa pangeran terkemuka.

Seorang penasihat sejumlah anggota keluarga kerajaan dan mantan pejabat senior Amerika menegaskan anggaran rahasia itu masih ada namun jumlahnya tidak diketahui. Tapi Qusayir menekankan semua pendapatan dari Saudi Aramco langsung masuk dalam kas negara.

Batas antara hak keluarga kerajaan dan aset negara bisa bias. Beberapa pejabat Amerika mengungkapkan ada tanah negara dalam jumlah sangat besar diberikan kepada para putra dan cucu lelaki raja. Bahkan seorang pangeran cuek saja memberi batas lahannya lebih luas dari jatahnya hingga 78 kilometer persegi.

Pangeran Bandar bin Sultan, pernah menjadi duta besar Saudi buat Amerika terlama, dan Pangeran Abdul Aziz bin Fahad, putra kesayangan dari mendiang Raja Fahad bin Abdul Aziz, mendapat ratusan juta dolar Amerika dari penjualan tanah buat proyek kota raksasa di utara Jeddah masih dalam tahap pembangunan, menurut sebuah memo rahasia dibuat seorang diplomat Amerika pada 2007. Dalam sebuah wawancara dengan Pangeran Bandar bin Sultan pada 2001, dia membela soal korupsi di negara Kabah itu.

"Kalau Anda katakan kepada saya untuk membangun seluruh negara ini menghabiskan US$ 350 miliar dari anggaran US$ 400 miliar, di mana kami menyelewengkan US$ 50 miliar, saya akan bilang iya benar," tutur Pangeran Bandar bin Sultan. "Tapi saya akan mengambil sisa uang itu kapan saja."

Banyak pangeran berhasil dalam berbisnis dengan berlaku sebagai agen eksklusif bagi perusahaan-perusahaan asing beroperasi di Saudi. Sebagian pangeran terlibat dalam perusahaan-perusahaan mengandalkan anggaran negara, sokongan kerabat, atau subsidi pemerintah.

"Selama keluarga kerajaan masih memandang negara ini sebagai Al Saud Inc., pangeran dan puteri yang jumlahnya terus bertambah akan menganggap adalah hak mereka sejak lahir untuk memperoleh tunjangan dari negara," kata pejabat Kedutaan Amerika itu.

Karena yang ditanggung kian banyak, sebagian pengamat menilai jatah fulus buat bangsawan Bani Saud makin memberatkan anggaran negara.  

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Arabian Business)

Pengamanan semua istana Raja Salman kian diperketat

Selain Istana Auja diserang Sabtu malam lalu, Raja Salman juga memiliki istana di kota Jeddah dan Makkah.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018
Puja emir jaya Qatar
26 Maret 2018

TERSOHOR